#saverohingya

Tragedi Kemanusiaan Di Rohingya Terus Berulang Ratusan Tewas Rumah Dibakar Puluhan Ribu Orang Terpaksa Mengungsi

Aliansi kemanusiaan indonesia untuk myanmar (akim)
Berbagi tugas dan bekerja sama. Itulah, yang kami lakukan untuk Rohingya. Bersama Kemenlu RI dan 10 organisasi kemanusiaan lainnya yang tergabung dalam Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM). Lazismu dan MDMC terlibat dalam hal penggalangan dana.

ANGGOTA AKIM (ALIANSI KEMANUSIAAN INDONESIA UNTUK MYANMAR)

"PBB menyebut Muslim Rohingya sebagai kelompok minoritas yang paling teraniaya."

Perserikatan Bangsa-Bangsa
United Nations

Ini Sejarah 100 Tahun Kesengsaraan Etnis Rohingya

Abad Ke-8 sampai Ke-14
Etnis Rohingya mendiami wilayah Kerajaan Arakan yang kini dikenal sebagai Rakhine, Myanmar. Mereka berinteraksi dengan para pedagang Arab, yang membawa mereka mengenal Islam. Di periode ini terjalin erat hubungan antara Arakan dan Bengal.
1784–1790
Raja Burma Bodawpaya menaklukkan Arakan. Ratusan ribu pengungsi mengalir ke Bengal. Diplomat Inggris Hiram Cox dikirim untuk membantu masalah pengungsi. Dia mendirikan Kota Cox’s Bazar di Bangladesh, tempat Rohingya banyak bermukim sampai kini.
1824–1942
Inggris menjajah Burma, kini menjadi Myanmar. Tapi, pada 1942, Jepang mendepak Inggris dari wilayah kolonial mereka itu.
1945–1948
Inggris membebaskan Burma dari Jepang, dengan bantuan pejuang Burma dan Rohingya. Burma memproklamasikan kemerdekaan pada 1948. Namun, Rohingya merasa dikhianati karena Inggris tak memberikan otonomi ke Arakan.
1948–1950
Mulai muncul ketegangan antara Rohingya dan pemerintah Burma yang baru merdeka. Rohingya ingin bergabung dengan Pakistan. Pemerintah Burma membalas dengan mengucilkan Rohingya. Muncul kelompok perlawanan Rohingya yang menamakan diri Mujahid.
1962–1977
Jenderal Ne Win mengambil alih kendali pemerintahan Burma pada 1962 dan menerapkan kebijakan keras kepada Rohingya. Lima belas tahun berselang, junta militer menjalankan Operasi Nagamin yang menarget warga asing, termasuk Rohingya. Sebanyak 200 ribu warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh.
1978–1982
Bangladesh-Burma, dengan dimediatori PBB, menyepakati repatriasi pengungsi pada 1978. Tapi, empat tahun kemudian, Burma mengesahkan UU Imigrasi yang menyatakan semua yang bermigrasi di era kolonialisme Inggris dianggap imigran ilegal. Target utamanya Rohingya.
1991–1997
Pada 1991, sebanyak 250 ribu warga Rohingya mengungsi untuk menghindar jadi korban perbudakan, pemerkosaan, dan persekusi sektarian oleh militer Myanmar, nama baru Burma sejak 1989. Berdasar kesepakatan repatriasi yang baru, 230 ribu warga Rohingya balik ke Myanmar pada 1992 hingga 1997.
2012
Kerusuhan sektarian mengakibatkan 100 orang meninggal di Rakhine, mayoritas korban Rohingya. Itu memicu gelombang kekerasan dan pengungsian Rohingya ke Bangladesh dan berbagai negara Asia Tenggara.
2016–2017
Kelompok perlawanan Rohingya, Harakah Al Yaqin, membalas dengan menyerang berbagai pos keamanan, termasuk pada akhir Agustus lalu. Tapi, itu memicu pembalasan dari aparat Myanmar berupa pembunuhan, pemerkosaan, dan pembakaran. (*)

#SaveRohingya

MEREKA ADALAH SAUDARA KITA

Lazismu mengajak kepada seluruh elemen bangsa untuk peduli terhadap penderitaan saudara kita di Rohingya. Donasi kemanusiaan tersebut akan disalurkan melalui jalur resmi untuk bantuan pangan, obat-obatan, pendidikan dan pemberdayaan ekonomi berkekanjutan. Hingga kini, hanya AKIM melalui pemerintah Indonesia yang dapat diterima oleh Pemerintah Myanmar. Ini adalah soft diplomacy yang elegan, bukan hard diplomacy. Ini akan lebih efektif di dalam melakukan upaya #SaveRohingya.

TERIMAKASIH KEPADA SELURUH DONATUR YANG TELAH BERPARTISIPASI

JUMLAH DONASI SAAT INI:

Rp. 2,437,226,646.50,-

JUMAT, 29-09-2017

@lazismu