Sri Marini, Ternak Bebek di Tengah Keterbatasan

22/10/2020

SIDOARJO - Rini, salah seorang peternak bebek di samping Bandara Internasional Juanda, Surabaya, mendapatkan bantuan UMKM dari Lazismu Jawa Timur. Bantuan ini diterima oleh Rini pada akhir Agustus. Ia adalah ibu rumah tangga berusia 42 tahun yang harus menghidupi tiga anaknya sendirian karena suaminya telah meninggal dunia 8 tahun silam.

Ketiga anaknya masih membutuhkan biaya yang besar untuk sekolah dan kuliah. Fajar Muhammad, putra Rini pertama berusia 20 tahun dan sedang menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Anak kedua bernama Annisaul Mubarokah berusia 19 tahun dan sedang menempuh pendidikan di SMA Muhammadiyah Dua Sidoarjo. Sedangkan anak ketiga bernama Sofia Nur Laili berusia 12 tahun sedang menempuh Pendidikan Dasar.

Beruntung sang suami mewariskan usaha yaitu ternak bebek yang telah dikembangkannya sejak 10 tahun silam. Bebek yang diternak adalah bebek petelur. Tanah yang ditempati untuk kandang bebek disewa dari bagian pengairan desa, letaknya sangat dekat dengan Bandara Juanda. Semasa hidup, kegiatan sang suami adalah merawat dan memberi makan bebek-bebek itu saban pagi hari. Tiap hari pula Eko mendistribusikan telur-telur itu ke pasar, toko atau pedagang makanan. Sebagian diambil ke kandang oleh para pelanggannya. Sementara Sri Marini mengurus rumah tangga dan keperluan anak-anak.

Kini mau tak mau, suka atau tak suka, usaha ternak bebek yang menjadi sumber penghidupan keluarga itu harus diteruskan apapun keadaannya. Sebagai single parent, Sri Marini bertekad untuk menjadikan ternak bebek ini menjadi penyokong ekonomi keluarga. Tugasnya saat ini pun ganda, menjadi kepala rumah tangga dan wirausahawati.

Ia ditemui oleh Lazismu di kandang bebeknya di Jl H Syukur, Sedati Gede Sidoarjo, dekat dengan landasan pesawat Bandara Internasional Juanda (27-08-2020). Dengan semangat bu Rini menceritakan suka duka hidup dan usahanya yang tetap bertahan hingga kini. Cerita bu Rini ini semoga bisa menginspirasi bagi para wanita yang suatu saat harus menjadi single parent.

Saat berkembang dulu, jumlah ternak bebek keluarga ini mencapai 800 an ekor lebih. Setiap hari sebanyak 200-300 butir telur bebek bisa dijual. Per butir telur bebek harganya antara Rp. 1.500,- s/d 2.000,- tergantung besar kecilnya. Hasilnya, bisa dijadikan sebagai sumber pendapatan keluarga guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya sekolah anak-anak. Almarhum suami bu Rini sebenarnya juga seorang karyawan swasta, sehingga ekonomi keluarga saat itu tak menemui kendala yang berarti.

Ketika ditinggal sang suami, usaha ternak bebek ini masih berjalan dengan baik, lancar dan normal. Walau harus payah mengurus keluarga, banting tulang memelihara bebek-bebek dan memutar otak menyikapi harga pakan yang naik turun, bu Rini tidak kenal putus asa.

Ketegaran wanita lembut ini tampak ketika ia seorang diri sibuk berlama-lama di kandang mengurus bebeknya. Ketelatenan dan kesabaran sudah menjadi kata kuncinya. Apapun badai yang menghadang pantang berputar haluan, sekali beternak bebek tetap beternak bebek. Tak terpikir baginya untuk menutup usaha dan banting setir bekerja menjadi karyawan atau pegawai di toko atau dimanapun untuk mendapatkan uang.

Namun badai itupun datang. Bulan Maret 2020, wabah pandemi virus Corona menerjang tanah air tercinta. Bencana global itu juga melanda kampung halaman bu Rini di Sedati Gede Sidoarjo. Warga menjadi terdampak akibat adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Pasar ditutup dan tempat-tempat yang mengundang keramaian dan kerumunan publik dihentikan operasionalnya. Warga diperintah tinggal di rumah masing-masing hingga pandemi agaka mereda.

Tak ayal usaha bu Rini terkena imbasnya. Mencari pakan ternak bukan main sulitnya. Jika ada, harganya melambung dan tempat langganan beli pakan itu tutup walau melayani pembelian secara tidak terbuka. Omzet penjualan telur bebek menurun drastis. Sebagian bebeknya terpaksa dijual untuk bertahan hidup keluarganya. Selain itu juga karena tak sanggup membelikan pakan.

Kini jumlah bebeknya hanya tinggal 400 an ekor saja. Kandangnya seakan kosong karena sebagian besar bebek telah dijualnya. Dengan 400 an ekor bebek itu saja bu Rini seakan kalang kabut mengelola ternaknya. Ia harus banyak akal guna mendapatkan pakan ternak karena hasil penjualan kadang tak sebanding dengan pengeluaran.

Ketika PSBB sudah agak longgar, ada rekan jamaah Masjid yang mau berkongsi usaha dengannya, guna mengisi kandang agar tidak terlihat kosong. Namun bukan bebek yang diternak, melainkan ayam petelur. Itu pun masih coba-coba. “Semoga berhasill,” kata bu Rini. Namun bukan berarti persoalan usai. Masih banyak masalah yang menyelimuti usahanya. Masalah terbaru adalah kondisi kandang yang semakin tidak layak dan harus diperbaiki, supaya ternaknya bisa hidup higienis.

“Alhamdulillah, terima kasih Lazismu. Kok ya pas waktunya ketika saya dalam kondisi kehabisan uang untuk beli pakan bebek. Bantuan ini langsung saya belikan pakan ternak di Surabaya. Terima kasih kepada Lazismu dan semua pihak yang telah memberikan bantuan ini. Semoga bantuan ini dapat mengembangkan usaha kami,” katanya dengan penuh syukur.