Hadapi Erupsi Gunung Merapi, Ini Persiapan MDMC

09/11/2020

YOGYAKARTA - Pasca erupsi besar 2010, Gunung Merapi mengalami erupsi magmatis kembali pada 11 Agustus 2018 yang berlangsung sampai bulan September 2019. Seiring dengan berhentinya ekstrusi magma, Gunung Merapi kembali memasuki fase intrusi magma baru yang ditandai dengan peningkatan gempa Vulkanik.

Setelah itu, pada hari Kamis (5/11) Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) merubah status Gunung Merapi dari waspada (level II) menjadi Siaga (level III). Maka, Muhammadiyah Disaster Management Center segera merespon dengan melakukan koordinasi dan mengeluarkan laporan situasi terkini. 

Setelah melakukan koordinasi, MDMC PP Muhammadiyah bersama dengan MDMC wilayah Yogyakarta, Jawa Tengah dan MDMC daerah di lingkar Merapi yaitu Sleman, Magelang, Klaten dan Boyolali mengeluarkan laporan situasi. Dalam laporan tersebut dinyatakan bahwa ada dua provinsi yang diperkirakan sebagai daerah berbahaya, yaitu DIY dan Jawa Tengah.

Wilayah DIY meliputi Kabupaten Sleman, khususnya Kecamatan Cangkringan, Desa Glagaharjo, Kepuharjo, dan Umbulharjo. Sementara itu, di Jawa Tengah ada Kecamatan Dukun di Kabupaten Magelang, Kecamatan Selo di Kabupaten Boyolali, dan Kecamatan Kemalang di Kabupaten Klaten.

Dalam laporan tersebut juga disampaikan bahwa MDMC PP Muhammadiyah merespon kejadian tersebut dengan melakukan koordinasi terhadap seluruh Wilayah dan Daerah yang berbahaya Gunung Merapi, koordinasi dengan Lazismu, menyiapkan personil dan bantuan, dan menyiapkan koordinasi dan persipan RSMA di sekitar gunung Merapi.

Sementara itu, MDMC Jawa Tengah merespon dengan menyiapkan daerah-daerah penyangga untuk Magelang, Boyolali, dan Klaten, dan juga melakukan koordinasi terhadap seluruh sektor di Muhammadiyah untuk siaga menghadapi erupsi merapi. MDMC Magelang merespon dengan melakukan aktivasi Poskor di PDM Kabupaten Magelang di Mungkid, melakukan aktivasi posyan, membantu pemerintah desa Ngargomulyo dalam pelaksanaan evakuasi kelompok rentan dengan mengirimkan 3 mobil ambulance dan 12 Personil, melakukan pendampingan di balai desa Deyangan oleh Fikes Unimma dan ERT Unimma, dan pendampingan penyintas di PAY Muhammadiyah Muntilan sebanyak 37 Jiwa.

MDMC Boyolali merespon dengan melakukan koordinasi terhadap Pimpinan Daerah Muhammadiyah Boyolali, koordinasi terhadap daerah pendukung, dan menyiapkan tim. Adapun MDMC Klaten merespon dengan melakukan aktivasi Pos Koordinasi Muhammadiyah di Markas Komando MDMC Klaten, menyiapkan dapur umum, menyiapkan shelter penyintas, dan menyiapkan pos layanan Muhammadiyah. 

MDMC DIY juga merespon dengan melakukan aktivasi Pos Koordinasi Muhammadiyah di SMK Muhammadiyah Pakem Sleman, koordinasi dengan MDMC Kabupaten Sleman, mengaktifkan piket di Pos Satelit MDMC PWM D.I.Yogyakarta, koordinasi dengan seluruh elemen Muhammadiyah dalam penyiapan kesiapan menghadapi Gunung Merapi, menyiapkan SD Muhammadiyah Cepitsari Glagaharjo sebagai tempat pengungsian, mengkordinasi terhadap RSMA di seluruh Yogyakarta untuk bersiap menghadapi status peningkatan Gunung Merapi.  

Pos koordinasi MDMC Magelang terletak di Kantor PDM Magelang dengan pos pelayanan terdiri dari pos layanan Kecamatan Dukun, pos layanan Kecamatan Srumbung, pos layanan Kecamatan Sawangan, pos layanan PAY Kecamatan Muntilan, dan pos layanan Deyangan Mertoyudan. Pos layanan Klaten terletak di Markas Komando MDMC Klaten di Mojayan, Kecamatan Klaten Tengah; dan pos layanan Sleman terletak di SMK Muhammadiyah Pakem, Kecamatan Pakem.

Menurut laporan yang dikeluarkan di Yogyakarta pada hari Senin (9/11) tersebut, tim respon MDMC terdiri dari MDMC, Lazismu, dan Organisasi Otonom Muhammadiyah tingkat Wilayah dan Daerah. Sementara kebutuhan yang diperlukan dalam situasi tersebut adalah hand sanitizer, masker kain, sarana cuci tangan, alas tidur, tenda keluarga, air bersih, dan makanan. (Yusuf)