Konservasi dan Perbaikan Kesejahteraan Nelayan

fish apartment

19/02/2020

Konservasi dan Perbaikan Kesejahteraan Nelayan

oleh Noviansyah Manap 


Sumberdaya laut dan pantai


Potensi sumberdaya laut dan pantai terdapat di sepanjang wilayah pesisir Selatan dan Utara Banyuwangi dimanfaatkan penduduk untuk aktivitas nelayan dan objek wisata.   Laut dan pantai menjadi sumber mata pencaharian utama bagi nelayan untuk penghidupan.  Para nelayan sebagian besar menggantungkan hidupnya dari hasil tangkapan ikan laut, karena tidak mempunyai lahan garapan usahatani ataupun ternak.  Namun dari tahun ke tahun nelayan mengeluhkan hasil tangkapan yang menurun dan harus melaut lebih jauh dari pantai untuk mendapatkan hasil tangkapan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. 


Sebagian besar karateristik nelayan jukung dengan menggunakan armada kapal (perahu dari fiber) berukuran kecil dengan kapasitas mesin 10 PK. Jangkauan melaut antara 2-3 mil dengan durasi waktu rata-rata 4 jam per sekali melaut. 

Berbagai jenis ikan hasil  tangkapan nelayan umumnya berupa  ikan tongkol,  cumi-cumi, ikan tenggiri, dan lain-lain.   Penjualan ikan dilakukan secara langsung kepada pedagang pengepul (“juragan”) yang ada di masing-masing desa.    Pemasaran ikan dijual umumnya ke pedagang pengepul (“juragan”) di desa.  

Pedagang pengepul (“juragan”) memegang peran penting dalam kehidupan nelayan. Selain membeli hasil ikan, sekaligus menjadi pemberi modal usaha (pinjaman/hutang) bagi nelayan, baik untuk pengadaan armada alat tangkap, mesin maupun bahan bakar untuk melaut. Proses pengembalian pinjaman modal usaha kepada “juragan” dilakukan melalui pemotongan hasil penjualan ikan setiap kali melaut atau per bulan, tergantung hasil yang diperoleh. Ada kecenderungan, pinjaman nelayan tersebut dibuat tidak lunas oleh pedagang pengepul agar ada ikatan ketergantungan nelayan kepada pengepul.  

Permasalahan yang dihadapi sebagian besar nelayan adalah: 

  • Sangat tergantung dengan alam (7 bulan bekerja, 5 bulan tidak ada penghasilan dari melaut, kecuali ke lokasi yang lain) 
  • Penangkapan ikan semakin jauh dari tepi pantai karena ikan semakin berkurang dan rusaknya terumbu karang di laut dangkal
  • Kerusakan terumbu karang, pencemaran laut, overfishing, praktik penangkapan yang merusak  dan berlebihan
  • Hanya memiliki 1 kapal, jika terjadi kerusakan atau kecelakaan, alat untuk bekerja tidak ada 
  • Kalah dengan nelayan lain yang memiliki kapal yang lebih besar dan alat tangkap yang lebih baik 
  • Sangat tergantng kepada satu mata pencaharian nelayan, sehingga jika terjadi gangguan dengan mata pencaharian nelayan, akan mengguncang 
  • Hampir tidak bisa menabung
  • Rawan bencana: Tsunami, gelombang besar, badai, dan banjir di muara 
  • Abrasi pantai: tempat sandar perahu semakin berkurang, jika ada gelombang besar perahu sering tersapu gelombang.
  • Adanya keterbatasan modal usaha untuk pengadaan dan perawatan alat tangkap ikan,
  • Adanya ketergantungan yang tinggi terhadap pedagang pengepul (juragan), baik dalam modal usaha maupun dalam penentuan harga ikan. Posisi tawar nelayan sangat lemah terutama dalam menentukan harga ikan, 

Tangga Penghidupan Nelayan

Secara umum masyarakat nelayan memiliki peluang yang besar untuk naik ke tangga penghidupan yang lebih baik. Tangga penghidupan yang paling dasar adalah surviving yaitu masyarakat rentan dan miskin yang untuk bertahan hidup hanya mengandalkan bantuan dari luar. Kondisi ini dialami oleh nelayan usia lanjut yang ditinggal anak-anaknya merantau dan nelayan yang tidak memiliki kapal karena rusak.  Nelayan usia lanjut sudah tidak mampu lagi melaut. Hanya mengambil hasil laut di pesisir dan pinggir pantai secara terbatas. Biasanya tinggal bersama keluarga yang lain. Hasil yang didapat tidak memadai. Untuk bertahan hidup, mereka mengandalkan bantuan dari keluarganya baik di dalam atau yang merantau ke luar desa.  


Pada tangga berikutnya coping masyarakat sudah memiliki mata pencaharian walaupun dengan pilihan terbatas. Masyarakat sudah mampu bertahan hidup dengan mata pencaharian yang ada, namun pilihan untuk berpindah mata pencaharian masih terbatas. Nelayan mikro dan buruh nelayan termasuk dalam kategori ini.     


Strategi penghidupan yang dilakukan masyarakat adalah dengan berupaya memiliki berbagai macam sumber mata pencaharian. Modal sosial sangat diperlukan pada kategori ini untuk menjaga keberlangsungan penghidupan. Misalnya budaya gotong-royong, tolong-menolong, dan pengaktifan kembali lumbung pangan untuk masa paceklik, dll.   Nelayan pada musim-musim paceklik biasanya menjadi buruh bangunan  atau menjadi buruh angkut di pasar.  Nelayan yang lain, secara berkelompok pergi melaut jauh ke luar wilayah Banyuwangi seperti Kedonganan di Bali dan Madura. Para nelayan melaut selama 2 minggu kemudian kembali ke kampungnya.    


Pada puncak tangga penghidupan adalah para juragan pemilik modal dan pemilik kapal. Biasanya mereka memiliki beberapa kapal yang dengan nakhoda dan para ABK sebagai pekerja. Pada tangga ini pilihan mata pencaharian yang sangat luas. Dapat berpindah dengan fleksibel dan tahan terhadap hampir semua guncangan eksternal. Mereka telah mengakumulasikan asset pada berbagai bidang (tanah dan bangunan, kebun, ternak, kendaraan, dll). Kelompok ini  akan tetap dan terus-menerus mengakulamulasikan modal dan kekayaan dengan melakukan berbagai investasi di sektor-sektor lain  yang berkembang di kawasan ini.      


Intervensi program harus dapat memberikan peluang nelayan miskin naik ke tangga penghidupan yang lebih baik, sehingga mereka memiliki daya tahan terhadap guncangan penghidupan dan tidak jatuh ke dalam kemiskinan lagi.    


Pengelolaan sumberdaya perikanan yang berkelanjutan tidak terlepas dari upaya konservasi. Sudah terbukti bahwa peningkatan mutu sumberdaya perikanan meningkat jika dilakukan upaya-upaya konservasi dan peningkatan kesejahteraan nelayan terjadi. 


Konservasi sumberdaya perikanan dapat didefinisikan sebagai upaya perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan sumberdaya perikanan, termasuk ekosistem, jenis, dan genetik untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman sumberdaya. 


Intervensi pengembangan dan pemberdayaan dapat mengeluarkan nelayan dari kemiskinan. Intervensi yang tepat akan meningkatkan kesejahteraan rumah tangga nelayan, perekonomian desa, dan memperbaiki mutu sumber daya lingkungan. 



Diagram Livelihood Ladder, Sumber: The Sustainable Livelihood Handbook, An Assest Based Approach to Poverty,  Oxfam 2009. 



Kondisi Nelayan saat ini 

  • Cenderung menjadi lebih miskin setiap tahun karena kerusakan sumber daya laut dan pesisir;
  • Setiap tahun harus semakin jauh dan semakin lama waktu melaut untuk mendapatkan hasil yang sama; 
  • Kemiskinan yang terjadi nelayan menyebabkan mereka terperangkap dalam kemiskinan (poverty trap) dan diwariskan; dan
  • Sulit keluar dari poverty trap jika tidak dibantu. 


Fish Apartment


Definisi Fish Apartment

       Fish  Apartment  merupakan  suatu  bangunan  yang tersusun  dari bahan plastik, shelter, dan pemberat yang diletakkan di dasar perairan. Bahan pemberat Fish Apartment  terbuat  dari  semen cor  yang diletakkan samping  kanan  dan samping kiri. Bentuk Fish Apartment disesuaikan dengan terumbu karang supaya ikan dengan mudahnya menjadikannya sebagai tempat tinggal.  Fish partment memiliki  ronga-ronga  yang  berfungsi  sebagai tempat  berlindungnya  ikan  dari hantaman arus dan melindungi dari predator. 

      Fish Apartment memiliki bermacam-macam bentuk antara lain berbentuk rumah, piramida dan persegi panjang. Fish Apartment terdiri dari partisi, submodul, modul, koloni dan  grup  yang tersusun  menjadi satu  kesatuan. Fish Apartment memiliki beton cor dibagian bawah sebagai pemberat agar tidak berpindah-pindah akibat arus laut. Beton cor berukuran 35 x 35 x 12 cm dengan berat 35 kg dan 12 x  12  x  120  cm  dengan  berat  40  kg  yang dipasang  di  empat  ujung  dasar Fish Apartment dan Fish Apartment ini tidak terbuat dari bahan khusus sehingga dapat dibuat  dari beton,  fiberglass, ferrocement,  polyprophylene  (PP),  dan rotan. Fish Apartment sering dibuat menggunakan bahan plastik  jenis polyprophylene (PP). Bahan plastik tersebut dipilih karena merupakan bahan yang mudah didapat karena diproduksi dalam jumlah yang besar. Selain itu bahan polyprophylene (PP) tidak beracun, tahan lama dan tidak larut dalam air. Bahan plastik memiliki keunggulan lebih jika dibandingkan dengan kayu, bambu, tembikar dan ban bekas. Keunggulan lainnya adalah bahan plastik tersebut mempunyai titik leleh  sebesar  190-200  C sedangkan  titik kristalnya  sebesar  130-135 C.


Peranan Fish Apartment

Fish  Apartment  berfungsi  sebagai  area  spawning  ground,  dan  nursery ground.  Adanya Fish Apartment  berguna  untuk  meningkatkan  stok  ikan, menciptakan area tangkap buatan dan menstabilkan rantai makanan ekosistem perairan. Penempatan fish apartement    diletakkan  di wilayah  perairan  yang produktifitasnya rendah dan habitatnya telah rusak.


Fish Apartment tersusun dalam satu modul yang berfungsi sebagai tempat bertelur larva,  juvenile ikan,   penahan  dari  arus  dan  melindungi  dari  predator. Penyusunan kerangka modul rumah ikan di sesuaikan dengan ukuran ikan yang tinggal di terumbu karang.             Fish  Apartment  tidak hanya berfungsi sebagai ekosistem baru dan tempat tinggal bagi ikan tetapi juga  berfungsi mempermudah nelayan menangkap ikan karena lokasi berkumpulnya    ikan sudah diketahui. Kemudahan nelayan dalam menangkap ikan akan meningkatkan   penghasilan,  ketika  penghasilan meningkat  maka  akan meningkatkan perekonomian masyarakat



Pengkayaan Sumberdaya Ikan dengan Fish Apartment Di Perairan Bangsring di Banyuwangi 

Penangkapan ikan hias di perairan pantai Bangsring, Banyuwangi telah dilakukan sejak 1970. Perkembangan tiap tahun semakin banyak nelayan yang memanfaatkan daerah perairan pantai untuk menangkap ikan hias di perairan Bangsring. Persaingan untuk mendapatkan ikan hasil tangkapan semakin tinggi, sehingga pada tahun 1980 banyak nelayan yang melakukan penangkapan ikan dengan potas dan bahan peledak. Penangkapan dengan potas oleh nelayan dikarenakan mudah dan murah dalam menggunakannya, akan tetapi penggunaan bahan tersebut dapat mengancam ekosistem. Kerusakan terumbu karang lebih disebabkan oleh faktor yang bersumber dari aktivitas manusia seperti penangkapan ikan menggunakan bahan peledak atau racun seperti potas dan sianida (Mulatsih 2004). 

Penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan dapat mengakibatkan rusaknya ekosistem perairan, terutama kerusakan habitat ikan seperti terumbu karang. Terumbu karang yang rusak mengakibatkan hasil tangkapan berkurang, ikan hasil tangkapan semakin mengecil, dan hilangnya beberapa jenis ikan di perairan tersebut, khususnya ikan karang. Menurut Connel (1987), diantara komponen biotik ikan merupakan salah satu organisme akuatik yang rentan terhadap perubahan lingkungan, terutama yang diakibatkan oleh aktivitas manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. 


Kondisi perairan yang rusak dan tercemar ikan akan berpindah tempat dan mencari habitat baru. Menurut Anwar et al. (1984), komposisi dan distribusi ikan sangat dipengaruhi oleh perubahan parameter seperti sik, kimia, dan biologi perairan. Salah satu faktor yang mempengaruhi sulitnya habitat ikan kembali adalah rusaknya karang di perairan. Kerusakan karang menjadikan ikan sulit untuk berkembang biak. Secara ekologis, tipologi habitat tersebut sangat penting bagi keberlanjutan ekosistem perairan, karena memiliki fungsi sebagai daerah pemijahan (spawning ground), sebagai area pengasuhan serta pertumbuhan (nursery ground), dan mencari makan (feeding ground) (Budhiman et al. 2013). Kerusakan perairan harus di cegah dan di perbaiki agar sumberdaya ikan tidak habis, salah satunya dengan membuat sh apartment yang diciptakan oleh Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) Semarang. Terciptanya fish apartment ditujukan sebagai pengganti terumbu karang dan menjaga keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya ikan. 


Fish apartment pada saat ini sudah dikembangkan di berbagai daerah Indonesia, akan tetapi masih belum diketahui secara pasti perkembangan sh apartment akan keberhasilan untuk mengembalikan ekosistem perairan. Penanaman sh apartment ini salah satunya pada daerah Bangsring Banyuwangi.  Terjadi kerusakan perairan dan berkurangnya hasil tangkapan yang dikarenakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Kerusakan perairan tersebut berdampak pada pendapatan masyarakat nelayan, sehingga dengan meilih lokasi bangsring sebagai lokasi diharapkan dapat mengetahui dampak penanaman fish apartment terhadap perairan khususnya pada perairan Bangsring, Banyuwangi. 


Kerusakan karang di perairang Bangsring, Banyuwangi pun tidak dapat dihindarkan lagi, hingga pada tahun 1990 pendapatan nelayan semakin berkurang dan sulit untuk mendapatkan ikan. Sulitnya mendapatkan ikan menjadikan nelayan melakukan penangkapan mencari daerah penangkapan ikan baru dan dibantu dengan alat kompresor. 


Pada tahun 2008 kelompok nelayan mencari solusi pengembalian ekosistem perairan Bangsring. Banyak upaya yang dilakukan nelayan untuk mengembalikan ekosistem perairan di Bangsring salah satunya penanaman sh apartment. 

Penelitian sh apartment ini memiliki tujuan menentukan kelimpahan jenis ikan sebagai indikator perairan diperairan Banyuwangi. Menganalisis tingkat keberhasilan sh apartment dalam memperbaiki habitat ikan dan diharapkan mampu memberikan gambaran tentang perkembangan sh apartment dan mengetahui dampak langsung terhadap nelayan di daerah Bangsring, Banyuwangi. 


Apartemen Ikan adalah rumah ikan buatan yang berfungsi sebagai habitat baru ikan dan sebagai pengganti terumbu karang yang rusak. Penempatan Apartemen Ikan dapat mengumpulkan ikan dengan memberikan tempat berlindung dan tempat memijah telur bagi ikan. Setelah dibiarkan selama beberapa bulan, Apartemen Ikan dapat ditumbuhi terumbu karang sehingga menjadi kumpulan terumbu karang yang baru. Bahan fish apartment berbagai macam, ada yang membuat dari bambu, kayu, besi, dan plastik atau fiber. Saat ini sudah ada produsen yang membuat fish apartement dari plastik dan fiber yang siap dipasang.   





Dengan adanya penanaman fish apartment dapat dilihat grafik hasil tangkapan tahun 2012-2015 pada Gambar 2. Hasil tangkapan ikan hias pada tahun 2012–2013 mengalami penurunan. Hal tersebut dikarenakan ikan hasil tangkapan ikan pada tahun 2012 tidak seluruhnya dari hasil tangkapan perairan Bangsring, Banyuwangi. Sedikitnya ikan hasil tangkapan pada daerah Bangsring menjadikan nelayan mencari lokasi penangkapan ikan lebih jauh. Pencarian ikan oleh nelayan Bangsring semakin jauh, dimana penangkapan ikan dapat mencapai pulau Bali. Jarak penangkapan ikan yang semakin jauh menjadikan penangkapan ikan menjadi tidak efisien, hal tersebut dikarenakan tidak sebandingnnya biaya operasional dan hasil tangkapan. 


Menurut Mahyudin (2012), menurunnya hasil tangkapan nelayan, semakin kecilnya ukuran ikan yang tertangkap, sulit dan jauhnya mencari daerah penangkapan ( shing ground) dan langkanya beberapa spesies ikan dikarenakan rusaknya kondisi lingkungan dan indikasi over shing. Penurunan sumberdaya ikan di Bangsring merupakan dampak dari interaksi antara aktivitas penangkapan menggunakan alat dan bahan yang tidak ramah lingkungan seperti bom ikan dan potasium sianida. Penggunaan bahan yang tidak ramah lingkungan tentu akan berdampak pada menurunnya daya dukung perairan Bangsring Banyuwangi. 

Data hasil penelitian, tangkapan ikan hias di Bangsring, Banyuwangi dari tahun 2013–2015 mengalami peningkatan. Hasil tangkapan pada tahun 2013-2015 mengalami peningkatan, dengan nilai 4.130 ekor pada tahun 2013, 8.949 ekor tahun 2014, dan 12.844 ekor pada tahun 2015 (Tabel 1). Nilai persentase rata-rata kenaikan hasil tangkapan tahun 2013-2015 adalah 80% per tahun. Tahun 2013 nelayan sudah tidak terlalu jauh untuk mencari ikan, hal tersebut dikarenakan sudah mulai kembalinya beberapa jenis ikan di perairan Bangsring. Meningkatnya hasil tangkapan di Bangsring menandakan adanya pengaruh antara hasil tangkapan dan penanaman sh apartment. Penanaman fish apartment yang bertahap dari tahun 2011 memang tidak langsung memberikan dampak pengembalian perbaikan lingkungan suatu perairan, akan tetapi dengan dukungan wilayah konservasi perkembangan perbaikan menggunakan fish apartment dari tahun 2013-2015 mengalami perbaikan yang cukup signifikan. 





Menurut Sutarto (2000), fish apartment/terumbu karang buatan memiliki fungsi yang hampir sama seperti terumbu karang, hal tersebut karena dapat menarik dan mengumpulkan ikan dan kehidupan laut lainnya dengan cara menyediakan tempat berlindung dan sumber makanan tambahan dengan substrat yang luas. Secara umum sh apartment yang dipasang secara nyata telah memberikan fungsi sebagai pengumpul ikan dengan bertambahnya bangunan dasar atau topogra . Bertambahnya daya dukung lingkungan telah memberikan kemungkinan bertambahnya biomassa ikan-ikan setempat. Peningkatan jumlah hasil tangkapan tentu diiringi dengan bertambahnya jumlah jenis ikan. Bertambahnya jenis ikan menandakan kembalinya beberapa ikan yang dulu sempat hilang di perairan Bangsring, Banyuwangi. Ikan hasil tangkapan dapat dilihat pada Tabel 1, setiap jenis ikan di kelompokan berdasarkan family. 

















Hasil pengamatan visual terumbu karang buatan dengan penyelaman didapatkan beberapa jenis ikan dominan seperti Pomacentridae, Labridae, Chaetodotidae, Serranidae, Siganidae, dan Pomacanthidae (Hutomo 1991). Ikan hasil tangkapan nelayan Bangsring memiliki variasi yang beragam. Tahun 2012 di dapatkan jenis ikan 36 famili dengan 164 jenis ikan yang tertangkap, mayoritas hasil tangkapan dari famili Labridae 33.90%, Pomacentridae 26.59% dan Serranidae 6.02%. Tahun 2013 didapatkan ikan hasil tangkapan 30 famili dengan 135 jenis ikan yang tertangkap, dengan mayoritas hasil tangkapan adalah Pomacentridae 50.27%, Labridae 24.12% dan Gobiidae 4.62%. Tahun 2014 didapatkan ikan hasil tangkapan 32 famili dengan 156 jenis ikan yang tertangkap, dengan mayoritas hasil tangkapan adalah Pomacentridae 36.67%, Labridae 29.52% dan Serranidae 7.78%. Tahun 2015 didapatkan ikan hasil tangkapan 35 famili dengan 191 jenis ikan yang tertangkap, dengan mayoritas hasil tangkapan adalah Labridae 32.86%, Pomacentridae 31.57%, dan Pomacanthidae 7.22%. Grafik data jenis hasil tangkapan bias dilihat pada Gambar 3, sedangkan contoh jenis ikan hias hasil tangkapan nelayan Bangsring Banyuwangi dapat dilihat pada Gambar 4. 












Jumlah hasil tangkapan dan pertambahan jenis ikan di perairan pantai Bangsring, Banyuwangi berangsur-angsur meningkat setiap tahunnya, hal tersebut berbanding lurus dengan lingkungan yang semakin baik. Bukan hanya hasil tangkapan saja. Akan tetapi jumlah spesies juga semakin bertambah (Tabel 3). Terhitung pada tahun 2015 didapatkan hasil tangkapan 193 jenis ikan yang dapat dimanfaatkan oleh nelayan. Jenis ikan hias tangkapan nelayan yang paling banyak di sh apartment Bangsring rata-rata adalah ikan hias seperti angel fish (Pomacanthidae), betok (Pomacentridae), kepe-kepe (Chaetodotidae), bunglon (Gobiidae), keling (Labridae), dan kerapu (Serranidae). Pemanfaatan sh apartment tentu sangat berpengaruh, terdapat perbedaan antara sebelum dan sesudah pemanfaatan fish apartment hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 2. 


Sebagian besar nelayan Bangsring Banyuwangi adalah nelayan yang menangkap ikan hias, sedangkan ikan konsumsi seperti kerapu, kakap dan baronang hanyalah sebagai ikan hasil tangkapan sampingan yang dapat di konsumsi sehari-hari. Nelayan tradisional mendapatkan hasil tangkapan ikan-ikan konsumsi di sekitar lokasi fish apartment. Ikan konsumsi yang tertarik pada terumbu karang buatan adalah famili Serranidae, Labridae, dan Siganidae. Sedangkan ikan hias taget hasil tangkapan seperti angel sh, bontana, trigger, kambigan, kepe- kepe, lintah, ikan tempel, bunglon, jabing, hog sh, betok, keling, scorpion, udang- udangan, klon fish, cabing, kerapu, rainbow, buntal, dan lain-lain yang memiliki warna khas (Hutomo 1991). 


Kesadaran nelayan akan penangkapan yang ramah lingkungan semakin tinggi dilihat dari berkurangnya penggunaan bahan penangkapan ikan yang berbahaya seperti potas. Berkat sosialisasi oleh pemerintah dan hasil tangkapan yang menurun nelayan Bangsring sadar akan penggunaan bahan kimia yang bersifat hanya sementara dalam pemanfaatannya, kesadaran nelayan akan tangkapan yang berkelanjutan tentu membuat nelayan Bangsring akan semakin mudah dalam mencari ikan. Penangkapan ikan oleh nelayan Bangsring beralih menggunakan jaring mono lamen yang digunakan untuk menghadang ikan saat digiring. 







Kemudahan dalam mencari ikan dapat dilihat dari Tabel 2, perbedaan rata- rata ikan hasil tangkapan yang naik hingga 110%. Rata-rata hasil penangkapan ikan hias yang dilakukan oleh nelayan Bangsring naik menjadi 62 ekor/hari, yang sebelumnya hanya mendapatkan hasil tangkapan ikan 30 ekor/hari. Meningkatnya hasil tangkapan menandakan semakin baiknya perairan bangsring dilihat dari pertambahan jumlah dan jenis yang tertangkap. Rumpon dasar atau sh apartment merupakan suatu alat untuk memikat ikan agar berkumpul, beristirahat, berlindung, singgah, atau terkonsentrasi di sekitar rumpon, sehingga akan mempermudah nelayan dalam menentukan daerah penangkapan ikan ( shing ground). Pemasangan rumpon atau sh apartment menjadikan adanya kepastian daerah penangkapan ikan, maka waktu dan biaya operasi penangkapan bisa diprediksi secara akurat, sehingga usaha penangkapan ikan akan bisa menjadi lebih efektif dan e sien (Martasuganda 2008). 


Mudahnya nelayan mencari ikan tentu berpengaruh dalam waktu mencari ikan. sebelum adanya sh apartment nelayan ikan hias Bangsring melakukan penangkapan ikan hingga pulau Bali, jarak antara perairan Banyuwangi dan Bali adalah 3 mil. Jarak yang jauh tentu berpengaruh pada waktu penangkapan dan biaya operasional yang tinggi. Waktu rata- rata penangkapan ikan sebelum adanya sh apartment mencapai 7 jam, dengan adanya sh apartment waktu menjadi lebih efisien menjadi 4.5 jam dengan hasil tangkapan yang meningkat 110%. 


Adanya alat bantu fish apartment mampu merubah paradigma nelayan yang semula nelayan melaut untuk mencari ikan, kini berubah menjadi nelayan melaut untuk menangkap ikan. Berubahnya pradigma tersebut dikarenakan daerah penangkapan yang ditujunya sudah pasti, sehingga dapat menghemat waktu dan biaya operasional (Budhiman 2011). Jarak penangkapan yang tidak jauh, waktu penangkapan yang singkat, hasil tangkapan yang banyak dan bervariasi menjadikan sh apartment adalah sebagai salah satu cara dalam pengembalian ekosistem yang rusak. 


Terumbu karang buatan

Terumbu karang buatan adalah benda yang di turunkan kedasar perairan sehingga berfungsi layaknya habitat ikan. Banyak bentuk konstruksi dan jenis material yang diaplikasikan pada terumbu buatan, dari balok kayu biasa, papan, concret semen, besi dan kapal, bus bekas, PVC,  dan bahkan ban bekas. Perbedaan bahan dan teknik pembuatan kemungkinan akan menyebabkan optimalitas terumbu karang buatan.  Pembuatannya mungkin pekerjaan mudah.  Tapi proses penenggelaman dan penempatannya di laut memerlukan keterlibatan para ahli di bidangnya.  Terumbu buatan akan dihinggapi oleh binatang-binatang karang, yang seiring perjalanan waktu akan mengalami proses pengerasan atau pengapuran. Semakin lama berada di kedalaman air dan mengalami proses seperti itu, benda tersebut akan makin kuat, dan diharapkan bisa menjadi tempat bagi ikan-ikan di laut untuk bertelur serta tumbuh dan berkembang.  















Manfaat Fish Apartment dan Terumbu Karang Buatan: 

  • Menjadi zona inti konservasi ikan – fish bank 
  • Populasi ikan di zonasi inti konservasi akan meningkat 
  • enis ikan yang ditangkap bertambah
  • Nelayan tidak perlu lagi melaut ke tempat yang jauh pada musim-musim paceklik (laip)
  • Mengurangi biaya melaut  
  • Memiliki waktu lebih banyak untuk keluarga 
  • Penambahan pendapatan nelayan dari berkembangnya menjadi ekowisata 
  • Peningkatan kesejahteraan nelayan (dalam 2 tahun) 


Kenapa Konservasi Pantai?

  • Banyak pantai mengalami abrasi yang hebat, semakin cepat abrasi pantai, nelayan semakin tidak memiliki ruang untuk sandar perahu dan fasilitas lainnya
  • Gelombang besar dan angin di pesisir pantai tidak memiliki penghalang menuju perkampungan nelayan
  • Konservasi mangrove dan cemara laut merupakan salah satu mitigasi bencana  
  • Dengan konservasi pesisir (mangrove) populasi ikan, kepiting, dan rajungan di pesisir meningkat 
  • Diversifikasi pendapatan dari sektor ekowisata   


Intervensi Program Nelayan

  1. Meningkatkan kesejahteraan nelayan miskin melalui kegiatan konservasi sumber daya laut dan pesisir, melalui dukungan pembuatan fish apartment, terumbu karang buatan, dan penanaman mangrove serta cemara laut.  
  2. Peningkatan kapasitas Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Sumber daya Kelautan dalam penguatan dan manajemen pengelolaan kelompok, pengelolaan wisata berbasis komunitas, dan pemasaran wisata.   
  3. Dukungan sarana dan prasarana lain yang relevan dengan peningkatan kesejahteraan nelayan miskin dalam rangka diversifikasi penghidupan. 
  4. Menciptakan diversifikasi pendapatan nelayan melalui perikanan dan pariwisata berbasis konservasi. 






Fish apartement pabrikasi lebih tahan lama



Fish apartement tradisional