HILIRISASI KOMODITAS BAWANG MERAH

pemberdayaan umkm

20/02/2020

 HILIRISASI KOMODITAS BAWANG MERAH


Ketika perjalanan menuju rumah produksi jamur krispi di Gebang, Losari beberapa hari yg lalu, teman pemilik usaha jamur krispi selain menyediakan jamur krispi dalam kemasan yg apik dan mewah, juga menempatkan contoh bawang goreng dalam mobilnya.

Olahan bawang merah yg sangat khas dan merakyat ini memiliki rasa yg berbeda dengan bawang goreng pada umumnya yg selama ini dijual di pasaran yakni dengan warna yg cerah dan rasa yg renyah serta gurih di lidah.

Olahan bawang merah menjadi bawang goreng atau bentuk lainnya seperti acar bawang merah merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambah dari usaha tani bawang merah. Peningkatan nilai tambah melalui penanganan selepas panen dan pengolahan hasil sangat diperlukan meskipun pangsa pasarnya relatif masih terbatas  karena dalam rangka mengantisipasi merosotnya harga jual bawang merah terutama ketika terjadi panen raya. Untuk itu, tidaklah berlebihan dalam rangka antisipasi terhadap fluktuasi harga jual bawang merah  kalau pada saat ini di salah satu desa di Kabupaten Brebes sudah berdiri usaha olahan bawang merah menjadi pasta bawang merah meskipun masih sebatas sebagai teaching industry yg merupakan hasil kerjasama/kemitraan usaha antara kelembagaan petani bawang merah setempat dengan salah satu perusahaan olahan pangan di Indonesia. 

Kabupaten Brebes merupakan salah satu sentra penghasil bawang merah terbesar di Indonesia. Bawang merah sebagai salah satu komoditas unggulan nasional  memiliki manfaat selain sebagai bumbu dapur penyedap makanan juga dengan beberapa senyawa yg dikandungnya sangat baik untuk kesehatan serta merupakan salah satu tanaman yg mudah dibudidayakan, termasuk dalam lahan sempit dan pot sekalipun. Dari bibit umbi sebanyak satu ton untuk kebutuhan satu hektar akan dihasilkan bawang merah sekitar 15-20 ton sesuai potensi anakan umbinya. Dengan harga jual yg memadai, sudah bisa dibayangkan dan dihitung keuntungan petani bawang merah di daerah Brebes setiap kali panen meskipun hingga kini masih belum efisien dalam penggunaan agroinput terutama pupuk anorganik dan pestisida karena pengendalian hama dan penyakit yg tidak sesuai dengan yg di rekomendasikan. Penggunaan pestisida dg dosis tinggi dan frekuensi penyemprotan yg sering menyisakan cerita soal tidak optimalnya pelaksanaan SL-PHT pada tanaman bawang merah di Kabupaten Brebes. Termasuk dari laporan hasil kajian FAO menyebutkan bahwa karena penggunaan pestisida yg melebihi takaran dan seringnya melakukan penyemprotan tanpa menggunakan pengaman menyebabkan beberapa petani muda bawang merah di lokasi pengkajian terlihat lebih tua dari usianya dan mengalami tremor  di salah satu bagian tubuhnya. Penanaman bawang merah di Kabupaten Brebes dilakukan dari wilayah mendekati pantai hingga daerah pegunungan. Soal penguasaan teknologi bisa dibilang petani bawang merah di Brebes sudah khatam,  kapan harus bertanam di lahan dekat dengan pantai dan di daerah sedikit ke pegunungan serta kapan saatnya sudah harus mengubah arah bedengan tanaman bawang merah ketika melakukan pengolahan lahan. Petani bawang merah di Brebes pun tahu kalau daun bawang merah memiliki lapisan lilin, karenanya ketika dulu sebelum ada produk dengan merek dagang triton, petani bawang merah di Brebes sudah membuat ramuan sendiri agar pestisida yg disemprotkan bisa lebih efektip.

Kisah sukses petani bawang merah di Brebes tidak bisa dilepaskan dari cerita keberhasilan petani bawang merah yg bernama Carab dari daerah Ketanggungan. Kesuksesannya menjadi petani yg kaya raya dari usaha tani bawang merah ketika itu mendorong berkembangnya usaha tani bawang merah di daerah-daerah lain di Kabupaten Brebes dan di luar Kabupaten Brebes hingga kini. 

Sihir kaya mendadak dari usaha tani bawang merah nampaknya mempengaruhi saya yg ketika itu sambil menunggu panggilan kuliah meskipun tidak begitu luas sempat mencoba menanam bawang merah di daerah SONGGOM. Singkat cerita ketika mendekati umur panen berdatangan para pedagang dengan tawaran harga pembelian yg tinggi dan dari perhitungan analisa usaha tani sudah sangat menguntungkan. Bisa jadi karena keserakahan masih ditunggu hadirnya pedagang lain dengan tawaran harga pembelian tertinggi, meskipun pada akhirnya bukan keuntungan tinggi yg diraih tetapi ketidakberuntungan yg didapat karena seketika terjadi hujan yg cukup deras yg menjadikan harga bawang merah menjadi rendah karena bawang merah harus dipanen dengan tanpa daun. 

Dari pengalaman di atas sepertinya hilirisasi usaha tanaman bawang merah melalui penanganan selepas panen dan pengolahan hasil mutlak harus dilakukan mengingat usaha tani bawang merah seperti halnya tanaman-tanaman lain sangat ditentukan oleh faktor iklim yg berbeda dengan usaha-usaha di non pertanian, kendatipun saat ini sudah ada teknologi yg terkait dengan off season. Untuk optimalisasi pendapatan dan sekaligus antisipasi harga jual bawang yg naik turun, tidak ada salahnya usaha tani bawang merah bisa dilakukan dengan sistem usaha tani campuran dengan tanaman lain, semisal cabai dan terong. Tentunya sangat diperlukan juga penetapan regulasi dan kebijakan dari pemerintah yg pro  petani, termasuk berbagai fasilitasi seperti pemberian subsidi agroinput yg di geser ke subsidi harga serta pendampingan/pengawalan untuk aplikasi paket teknologi dan meningkatkan kemampuan petani untuk menghadapi kekuatan mafia dan kartel pangan yg masih terus bergentayangan di bumi Indonesia.


KASONGAN, 6 Februari 2020


Asikin CHALIFAH

Rumah Literasi (RULIT) WASKITA BREBES