Tanamkan Kemandirian, Lazismu dan Alfamart Gelar Pelatihan dan Pemberdayaan UMKM

27/06/2020

Bogor – LAZISMU. Lembaga amil zakat infak dan sedekah Muhammadiyah, atau Lazismu menggelar pelatihan dan peberdayaan UMKM bagi para pelaku usaha kecil di Pesantren Persatuan Islam (Ponpes Persis) 89, Kedung Badak, Kota Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu, 27 Jui 2020.

Program pemberdayaan mengusung tema ketahanan ekonomi berbasis keluarga di masa pandemi.Covid-19. Manager Program Lazismu Pusat, Falhan Nian Akbar, mengatakan, kegiatan ini bekerja sama dengan Alfamart dan mitra pelaksananya, Ponpes Persis.

Peserta yang hadir memang dibatasi, karena protokol kesehatan Covid-19, sekitar  13 orang peserta mengikuti pelatihan UMKM ini. Dalam paparanya, Falhan mengungkapkan, di masa-masa sulit seperti ini, kita sudah tahu bersama bahwa penurunan aktivitas jual beli begitu nyata.

“Termasuk bagaimana memperoleh bahan baku yang sulit didapat, imbasnya seperti beruntun, distribusi juga jadi terhambat,” katanya. Kondisi serupa juga dialami para penyedia jasa, ikut terdampak Covid-19.     

Falhan mengungkapkan, tujuan Lazismu melaksanakan pelatihan ini, selain edukasi juga perlu adanya kepedulian Lazismu terhadap warga yang sehari-hari hidup dengan berjualan. Mereka ini adalah pengusaha kecil yang sebagian bertahan dan terdampak ekonomi. Tak jarang mereka yang terdampak ekonomi, bergerak dengan cara berjualan untuk bertahan menghidupi keluarganya.

Jangankan yang pelaku usaha kecil, para pelaku usaha besar ikut terpukul sehingga tak mampu berbuat banyak. Ia berharap para peserta bisa berkomunitas untuk bertukar informasi, karena dengan berbasis komunitas seperti keluarga misalnya UMKM dapat bertahan lebih kuat.      






 
Pada sesi berikutnya, Dudi Hudaya yang merupakan bagian dari mitra Lazismu dalam pemberdayaan UMKM ini mengutarakan kepada peserta, ada baiknya pelaku usaha kecil tidak melakukan semua hal untuk berwirausaha. “Jika semua dilakukan tidak akan fokus dan akan ada banyak waktu yang tersita dan terbuang cuma-cuma,” paparnya.    

Bila ingin hanya berada di tingkat produksi, maka berproduksilah dengan penguatan bahan baku, sebaliknya jika hanya ingin menjual produknya saja maka jualah produk itu sebaik mungkin, pungkasnya. Dudi sendiri sehari-hari berjualan cendol. Di forum inilah dia berbagi pengalaman karena sudah berjualan dan bertahan selama dua tahun lebih.    

Di masa pandemi ini justeru bisa menjadi ujian mental. Bagaimana otak kanan dan otak kiri harus bekerja. Karena itu perlu keunikan dalam berjualan untuk membedakan dengan orang lain. “Kesempatan untuk berkembang juga lebih terbuka terutama dengan bantuan perantara tekonologi informasi berupa sosmed,” terangnya. (na)