Program Zakat Fitri Berdayakan Guru dan Mubaligh

06/06/2020

Yogyakarta – LAZISMU. Program Zakat Fitri Berdayakan Ummat merupakan salah satu cara memaksimalkan penghimpunan dan pendayagunaan zakat yang telah terhimpun secara berkelanjutan. Peruntukkannya disalurkan kepada penerima manfaat sesuai dengan ketentuan fikih. 

Program tersebut dituangkan Lazismu Daerah Istimewa Yogyakarta yang dimulai Ramadhan kemarin. Menurut Cahyono, Ketua Lazismu DIY, bahwa program Zakat Fitri Berdayakan Umat sudah tahun kedua dilaksanakan. Hal itu disampaikan Cahyono pada acara koordinasi dan penandatanganan kerjasama kepada kepala sekolah penerima program dan Majelis Tabligh PWM DIY, di Aula PWM DIY pada Kamis, 5 Juni 2020.

Acara tersebut dihadiri oleh Kepala Sekolah penerima manfaat, Pimpinan PWM DIY, Majelis Tabligh PWM DIY, dan Majelis Dikdasmen PWM DIY.

 

Cahyono menjelaskan, penghimpunan zakat fitri Kantor Lazismu DIY pada 1441 H mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, jika tahun sebelumnya total penghimpunan sebesar 4.764 Kg atau sebesar Rp. 46.364.000 sedangkan untuk tahun 1441 H meningkat menjadi 6.157 Kg atau sebesar Rp 73.884.000.

 

“Alhamdulillah terjadi kenaikan 1.393 Kg, ini disebabkan karena penghimpunan selain kepada AUM yang sudah kerjasama juga ada beberapa masjid dan perseorangan yang memercayakan zakat fitrinya melalui Lazismu DIY,” terangnya.

 

Lebih lanjut Cahyono, mengungkapkan, ada 28 amal usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan, 3 Musholla/Masjid dan 55 perseorangan yang menyalurkan zakat fitri ke kantor Lazismu di Kota Gudeg itu.



 

Program penyaluran Zakat Fitri Berdayakan Umat pada tahun ini akan fokus menyasar Guru dan Mubaligh se-DIY sebagai penerima manfaat. Untuk guru atau karyawan SD/SMP/SMA se-DIY sederajat sebanyak 60 penerima sedangkan untuk mubaligh ada 10 penerima.

 

“Penerima program ini menjadi program peduli guru yang menjadi program Lazismu nasional yang juga terdampak Covid-19,” tutur Cahyono.

 

Sebagai kriteria penerima, Cahyono menerangkan, guru/karyawan tersebut berpenghasilan rendah di bawah kebutuhan wajar keluarga tiap bulan, Mubaligh/Guru/Karyawan itu penopang utama keluarga, dan untuk guru belum mendapatkan tunjangan sertifikasi. (lazismudiy)