Diklat Jurnalistik, Lazismu Tawarkan Kesenangan Menantang Kepada Peserta

08/12/2019

Semarang – LAZISMU. Waktu sudah menunjukkan pukul 16 lebih 10 menit. Batas waktu yang direncanakan untuk menyelesaikan tugas hari itu sudah lewat. Ada 19 orang anak muda peserta pelatihan belum beranjak dari tempat duduknya. Apa yang membuat para peserta betah berlama-lama di aula Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang ?

Ya mereka mengikuti pelatihan jurnalistik yang diadakan Lazismu Kota Semarang, Sabtu, (07/12/2019), yang menyasar anak-anak muda sebagai pesertanya. Utamanya mereka yang masih menduduki bangku kuliah. Kali ini, pelatihan diikuti 23 orang peserta, dan 19 orang peserta di antaranya sukses menyelesaikan pelatihan ini.

Peserta tersebut mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), yang berasal dari 3 komisariat di UIN Walisongo dan dari Unimus Semarang. Pelatihan itu membawakan materi teknik penulisan reportase berbentuk feature, bentuk penulisan dengan cara bertutur dan bercerita.

Generasi muda harus siap menghadapi tantangan masa depan yang semakin kompetitif. Kemenangan hanya ada pada pribadi-pribadi yang melengkapi diri dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan.

Meski tidak semua ketrampilan harus dipunyai, cukup keterampilan  yang sesuai kebutuhan  dan harus dikuasai dengan kualitas yang baik. Demikian disampaikan Ketua Badan Pengurus (BP) Lazismu,  Azis Sholeh, saat hadir dalam pembukaan pelatihan bersama Sekretaris BP Lazismu, Marhaeni.  

Seorang mentor berpengalaman yang mengisi pelatihan tersebut mengatakan, membimbing pelatihan  ini sejak pukul 9 pagi hingga selesai. Setumpuk ilmu, segudang pengalaman dicurahkan Agung S. Bakti dalam mendampingi para peserta.

Menurutnya, ada banyak jurus penulisan, namun Agung memberikan beberapa hal di antaranya, judul singkat dan jelas, mewakili isi pokok beritanya, kalimat pertama sebagai lead (teras), menggambarkan pentingnya permasalahan berita yang diulas, ada sudut pandang, ada unsur 5W + 1 H, dan mengandung informais yang menarik lainnya.

Sebelum mengakhiri pelatihan, Agung mengingatkan, hasil sebuah pelatihan menulis tidak akan nampak secara instan, dalam satu hari atau satu minggu. Ini investasi ilmu yang akan bermanfaat jangka panjang, bahkan untuk selamanya.

Semua peserta sudah bisa menulis, namun kualitas dibentuk dari praktik yang berkelanjutan. Produktifitas menulis sebuah tantangan lain dalam mewujudkan karya pribadi yang berkualitas, bukan sekedar menjadi orang biasa. “Berlatih dan terus belajar, bahkan saya pun masih terus belajar,” katanya. (cs)