


JAKARTA -- Pasca gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), 15 Agustus 2026 Muhammadiyah langsung memobilisasi sumberdaya dari semua unsur yang tergabung di Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau biasa dikenal Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) dari berbagai daerah.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Surat Edaran nomor 18/EDR/I.0/H/2026 tanggal 20 Agustus 2026, juga telah menginstruksikan kepada seluruh masjid untuk melakukan penggalangan dana Infak Salat Jumat untuk Bantuan Kemanusiaan Bencana Gempa Bumi di NTT yang telah terlaksana pada hari Jum’at tanggal 21 Agustus 2026. Alhamdulillah, hingga 3 September 2026, dana terhimpun tercatat Rp 6.099.163.820 dan telah disalurkan untuk mendukung aksi-layanan kemanusiaan Muhammadiyah sebesar Rp. 3.455.958.814.
Dalam mendukung respons gempa bumi di NTT, Muhammadiyah mengirimkan berbagai klaster, pada bidang kesehatan Emergency Medical Team (EMT) Type-1 Fixed diturunkan terdiri dari 50 personil. Tim EMT dengan standar WHO bekerja untuk mendirikan RS Lapangan berlokasi di Puskesmas Dampek, Manggarai Timur yang hancur akibat gempa bumi. Tim EMT Muhammadiyah diturunkan bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI dan akan bertugas selama 30 hari sejak 17 Agustus 2026.
Selain EMT Type-1 Fixed, layanan kesehatan juga dilakukan oleh EMT Mobile yang menyasar lokasi-lokasi pengungsian tidak terjangkau. Tim EMT Mobile yang diturunkan dari berbagai Rumah Sakit Muhammadiyah-Aisyiyah di Indonesia.
EMT Muhammadiyah hingga 3 September 2026, tercatat telah menangani penyintas terdiri dari 85 pasien bayi, 229 pasien balita, 266 pasien anak, 150 pasien remaja, 2.173 pasien dewasa, 22 pasien ibu hamil dan 799 pasien lansia.
Berdasarkan hasil pemeriksaaan di rumah sakit lapangan, sebaran diagnosis tertinggi pada penyintas dilaporkan 437 penyintas mengalami infeksi saluran pernapasan, 372 penyintas mengalami nyeri otot dan pegal-pegal, 233 penyintas mengalami hipertensi, 186 penyintas mengalami gejala rasa tidak nyaman atau nyeri bagian sekitar perut, 153 penyintas mengalami sakit kepala dan nyeri leher hingga tengkuk.
Sampai berita ini diturunkan, pada Jum’at (4/9/2026), menurut Direktur Utama Lazismu, Barry Adhitya, penyaluran dana donasi dan Infak Salat Jumat masih akan terus dilaksanakan untuk melanjutkan respon dan tahapan rehabilitas-rekonstruksi serta membangun ketangguhan masyarakat.
Dukung terus aksi-layanan Muhammadiyah merespon gempa bumi di NTT melalui: https://donasi.lazismu.org/ dan update melalui dashboard di https://lazismu.org/dashboardresponntt
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

JAKARTA -- Pasca gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo melanda 7 kabupaten di NTT, Muhammadiyah langsung bergerak melalui pilar kemanusiaan yang digawangi MDMC dan Lazismu. Tahap awal respons dilakukan dengan berkoordinasi pihak setempat dan mendirikan Pos Koordinasi Wilayah yang berlokasi di Klinik Muhammadiyah Ende, Jalan Mahoni, Kelurahan Kota Ratu, Kecamatan Ende Utara, kabupaten Ende.
Pos Koordinasi Wilayah ini berperan penting dalam merencanakan dan mengevaluasi aksi layanan kemanusiaan dan sampai saat ini telah mendirikan 7 Pos Koordinasi Daerah di 7 kabupaten dan 10 Pos Pelayanan di masing-masing kabupaten terdampak.
Dalam penyaluran bantuan kemanusiaan program Indonesia Siaga, setidaknya melalui tiga klaster layanan prioritas relawan di lapangan, yaitu layanan kesehatan, layanan non kesehatan dan layanan logistik. Layanan Kesehatan melalui EMT Type-1 Fixed dan EMT Mobile telah menjangkau 2.215 perempuan dan 1.487 laki-laki penyintas gempa bumi.
Sementara itu, untuk bantuan kemanusiaan klaster non-kesehatan, layanan dapur umum yang didirikan telah melayani sebanyak 1.750 jiwa, pendirian sanitasi dan air bersih di 2 titik, dan melaksanakan layanan psikososial kepada 1.773 jiwa.
Layanan kemanusiaan Muhammadiyah juga didukung dengan penyaluran logistik berupa mobil dapur umum, mobil taktis, 500 paket family kit, school kit 600 paket, 1.440 kaleng Rendangmu dan terpal sepanjang 500 meter. Dukungan logistik pengobatan juga diberikan oleh Tim Medis atau EMT Mobile dari masing-masing Rumah Sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang bertugas.
Lazismu menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak. “Kami apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh relawan Muhammadiyah di lapangan atas kerja-kerja kemanusiaan dan tentu terima kasih kepada donatur dan jamaah salat Jumat atas kepercayaannya sehingga aksi layanan kemanusiaan Muhammadiyah kepada penyintas bencana di NTT dapat terus dilanjutkan”, kata Barry Adhitya, Direktur Utama Lazismu, pada Jum'at (4/9/2026).
Lazismu akan senantiasa memantau dan mengevaluasi program Indonesia Siaga di NTT agar dana yang terhimpun dari masyarakat dapat dioptimalkan untuk masa pemulihan pasca gempa bumi di NTT dan dilanjutkan Insya Allah sampai tahap rehabilitas dan rekonstruksi untuk membangun ketangguhan masyarakat.
Dukung terus aksi layanan Muhammadiyah merespons gempa bumi di NTT melalui: https://donasi.lazismu.org/ dan ikuti perkembangan informasinya lewat: https://lazismu.org/dashboardresponntt
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

JAKARTA -- Ancaman bahaya kabut asap di wilayah Kalimantan memperburuk kualitas udara. Risiko terpapar saluran pernapasan di depan mata. Akibat kebakaran hutan dan lahan aktivitas masyarakat tidak berjalan normal.
Melalui program Indonesia Siaga, Lazismu berkolaborasi dengan PT Alifindo Mitra Bersama menyalurkan bantuan berupa 34.760 masker untuk masyarakat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta tenaga medis yang tengah bertugas di wilayah Kalimantan.
Langkah ini dilakukan untuk menekan risiko penyakit saluran pernapasan akibat paparan asap pekat yang melanda sejumlah titik di Kalimantan. PT Alifindo Mitra Bersama, selaku distributor alat kesehatan dan perlengkapan keselamatan kerja (K3), memasok langsung kebutuhan masker tersebut untuk perlindungan diri yang tepat standar.
Direktur Penghimpunan dan Kerja Sama Lazismu Pusat, M. Sholeh Farabi, menyambut baik sinergi langsung bersama produsen dan penyedia alat kesehatan tersebut, pada Senin, (31/8/2026), setelah serah terima simbolik di Kantor PT Alifindo Mitra Bersama, Bekasi.
"Kami mengapresiasi kerja sama yang terjalin langsung dengan pihak penyedia masker. Bantuan ini sangat krusial, berharap masker yang disalurkan dapat memberikan perlindungan nyata dan meringankan beban warga penyintas karhutla di Kalimantan", ujarnya.
Representative HR Department PT Alifindo Mitra Bersama, Altair Saga, mengatakan bahwa aksi penanggulangan dampak bencana merupakan komitmen tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) terhadap lingkungan dan kemanusiaan.
"Menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah dampak dari Karhutla adalah tanggung jawab bersama. Melalui program CSR, berupa donasi 34 ribu masker ini, PT Alifindo Mitra Bersama berkomitmen mendukung upaya perlindungan ekosistem demi masa depan bumi yang aman”, pungkasnya.
Upaya ini, sekaligus memprioritaskan kesehatan masyarakat luas dan tenaga medis dari bahaya penyakit saluran pernapasan. Ke depan, sambung Altair, kami berharap sinergi baik dengan Lazismu dapat terus ditingkatkan agar memberi dampak positif yang lebih luas bagi kemaslahatan umat.
Melalui pendistribusian ini, Lazismu dan PT Alifindo Mitra Bersama berharap dapat mempercepat pemulihan kesehatan warga serta mendukung efektivitas kerja para petugas lapangan dalam menanggulangi Karhutla.
PT Alifindo Mitra Bersama adalah perusahaan perdagangan umum dan distributor alat kesehatan serta perlengkapan keselamatan kerja (K3) industri, khususnya sektor elektronik dan otomotif. Perusahaan menyediakan berbagai produk perlindungan diri dan keselamatan kerja berkualitas tinggi, termasuk distributor resmi masker merek Comet, sarung tangan industri, dan perlengkapan antistatis.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

BANYUMAS -- Kekeringan tidak hanya melanda kabupaten Cilacap, sejumlah wilayah di kabupaten Banyumas, di kecamatan dan desa mengalami kekeringan. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas ada sejumlah 8.371 kepala keluarga terdampak kekeringan.
Sementara itu, hingga pertengahan Agustus 2026, distribusi air bersih telah menjangkau 39 desa atau kelurahan dengan total 1,311 juta liter air. Kondisi itu menggerakan jaringan relawan Lazismu dan MDMC Banyumas dalam program Indonesia Siaga untuk merespons bencana hidrometeorologi seperti kekeringan air saat ini.
Fokus bantuan penyaluran air bersih dari Lazismu Banyumas, menyasar tiga kecamatan yang dianggap sebagai wilayah paling parah terdampak kekeringan. Kecamatan itu meliputi kecamatan Sumpiuh, Ajibarang dan Gumelar, di Kabupaten Banyumas.
Seperti disampaikan dalam akun resmi media sosial Lazismu Banyumas (2/9/2026), sebanyak 27.000 liter air bersih tuntas dalam 1 hari didistribusikan untuk 200 kepala keluarga terdampak kekeringan di Desa Sawangan dan Desa Jingkang, Kecamatan Ajibarang.
Penyaluran juga menyasar Kecamatan Gumelar, bantuan air bersih dikirim ke Desa Samudera, Samudera Kulon, dan Telaga. Sekitar 1.000 liter air bersih diserahkan melalui Camat Gumelar untuk warga terdampak.
Distribusi air bersih kembali dilakukan di Kecamatan Sumpiuh. Bantuan disalurkan ke Desa Karanggedang, Kebokura, Kemiri, Kradenan, dan Nusadadi. Sumber air bersih diproleh dari mata air milik Ibu Tuniyem, kader PC Aisyiyah Sumpiuh di Desa Lebeng.
Sumber air bersih diperoleh dari mata air milik Ibu Tuniyem, kader PC Aisyiyah Sumpiuh di Desa Lebeng. Titik sumber air ini menjadi penyambung kebutuhan warga atas akses air bersih selama kemarau.
Salah seorang relawan MDMC Sumpiuh, Gustono, sigap mengatur distribusi air bersih agar merata. “Air bersih ini layak untuk untuk diminum, selain itu warga bisa menggunakannya untuk masak dan mandi. Yang paling penting sebelum anak-anak berangkat sekolah air harus tersedia jangan sampai telat distribusinya”, pungkasnya.
Warga terdampak kekeringan sangat terbantu dengan kehadiran tangki air bersih. Salah seorang warga, Badriyah, dari Desa Nusadadi, Sumpiuh, mengaku sangat terbantu. “Alhamdulillah ada bantuan air bersih. Pakaian sekolah cucu saya bisa kembali bersih setelah di cuci dengan air bersih”, imbuhnya.
Respons senada disampaikan warga lain yang terdampak. Dengan adanya pasokan rutin air bersih, kegiatan rutin rumah tangga dan sekolah bisa kembali berjalan normal kendati kemarau belum berakhir.
Titik sumber air ini menjadi satu-satunya harapan utama warga selama kemarau dalam akses air bersih. Relawan MDMC Sumpiuh, Gustono, bertugas mengatur distribusi agar merata. “Air bersih ini layak dikonsumsi untuk minum. Warga juga menggunakannya untuk keperluan masak dan mandi. Yang paling penting, saat anak-anak berangkat sekolah air tersedia, karena itu, kami jaga agar tidak telat distribusi”, ujarnya.
Relawan dari Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Banyumas bersama Yayasan Gerakan Beramal Baik juga mendukung Lazismu untuk bergerak cepat. Air bersih terus didistribusikan ke desa-desa terdampak.
Jelang akhir Agustus 2026, aksi respons bencana kekeringan ini mampu menjawab atas 28.222 jiwa yang tercatat dampak kekeringan. Mewakili PDPM Banyumas, Subhan Purnomo Aji mengatakan Muhammadiyah Banyumas dan Gerakan Beramal Baik berkomitmen untuk terus bergerak selama dibutuhkan.
“Musim kemarau masih berlangsung, selama hujan belum turun mengisi mata air sumur warga kami akan terus distribusikan air bersih”, katanya dengan penuh komitmen. Relawan juga tidak berhenti mengajak masyarakat untuk ikut berdonasi mambantu warga lain yang terdampak kekeringan di wilayah kabupaten Banyumas.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Banyumas]

PONTIANAK -- Bencana kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat dampak dan bahayanya setali tiga uang dengan provinsi lainnya di kepulauan Kalimantan. Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Minggu, 30 Agustus 2026, kondisi titik api terpantau sebanyak 946 titik secara nasional.
Pada skala provinsi, menurut Kemenhut dalam Siaran Persnya (31/8/2026), penanganan karhutla terbanyak dilakukan di Kalimantan Tengah sebanyak 21 lokasi, disusul Kalimantan Barat 16 lokasi, Sumatera Selatan 13 lokasi, Kalimantan Selatan 11 lokasi, Jambi 9 lokasi, Riau 8 lokasi, dan Kalimantan Timur 7 lokasi.
Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Barat menyampaikan pernyataan sikap dan sejumlah desakan terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat. Desakan tersebut, dilansir dari Pontianak Info (31/8/2026) bahwa menyusul meningkatnya jumlah titik panas di provinsi itu.
Bersandar pada data yang mereka rujuk dari BMKG Kalbar dan BPBD Provinsi Kalimantan Barat, terdeteksi ribuan titik panas yang tersebar di sejumlah wilayah. Sementara itu, MLH menilai lonjakan titik api pada 29 Agustus 2026 tercatat 6.050 titik yang menunjukkan peningkatannya harus secepatnya diantisipasi.
Melalui desakan itu, MLH mengatakan wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi mencakup Kabupaten Ketapang, Kubu Raya, Kayong Utara, dan Melawi. Diketahui bahwa wilayah tersebut memiliki kawasan ekosistem gambut yang dinilai rentan terhadap kebakaran bawah permukaan.
Kondisi itu menjadi perhatian serius, karena kebakaran pada ekosistem gambut tidak hanya terjadi di permukaan. Panas bara api di bawah permukaan tanah dapat tetap menyala sehingga sulit untuk dipadamkan jika tidak segera ditangani dengan tepat.
Rumah Oksigen Darurat Asap
Sebagai upaya respons bencana kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat, Lazismu mendirikan rumah oksigen yang menjadi ruang aman bagi masyarakat terdampak. Tujuannya untuk mendapatkan udara yang bersih serta oksigen dalam layanan pendukung kesehatan selama kabut asap kian membahayakan.
Muhammadiyah Kalimantan Barat melalui dukungan Lazismu dalam program Indonesia Siaga, terus menggalang donasi kemanusiaan dan menyediakan titik – titik rumah oksigen untuk membantu masyarakat yang terdampak kabut asap akibat karhutla.
Lazismu Kalimantan Barat merinci titik-titik rumah oksigen tersebut sebagai berikut:

[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

MEDAN – Rasa sate padang akrab di lidah orang Indonesia. Racikan bumbu dan kuah kental berwarna kuning menambah daya tarik daging sapi yang ditusuk runcing bambu. Di Medan, Sate Padang Ali Usman bisa ditemui di Jalan Paku Gang Sutar, Kota Medan.
Amil Lazismu di Kota Medan beberapa waktu yang lalu mengunjunginya. Nama lengkapnya Ali Usman Nasution. Pasalnya Pak Ali Usman membutuhkan dukungan untuk meningkatkan kapasitasnya dalam berdagang. Lewat program pemberdayaan ekonomi, Lazismu menjembataninya agar tetap berdaya.
Seiring waktu, Lazimu Kota Medan mengabulkan kebutuhan yang dibutuhkan Pak Ali Usman. Sebagai seorang pelaku usaha kecil, melalui Program Merdeka UMKM Duafa dan Disabilitas, Lazismu memberikan bantuan berupa gerobak mesin dan spanduk usaha, pada Ahad, 31 Agustus 2026, di Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, Sumatera Utara.
Sekretaris Badan Pengurus Lazismu Kota Medan, Muhammad Rifki, yang hadir dalam penyaluran itu, mengtaakan bahwa program pemberdayaan ekonomi merupakan bentuk komitmen Lazismu dalam menghadirkan nilai manfaat kepada masyarakat.
“Bantuan ini merupakan bentuk ikhtiar Lazismu untuk mendukung para pelaku usaha dari kalangan duafa agar dapat mengembangkan usaha dan meningkatkan kemandirian ekonominya”, terangnya.
Kami berharap bantuan sarana usaha ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan produktivitas dan keberlangsungan usaha Pak Ali Usman. Ia menambahkan, bantuan yang diberikan tidak berhenti pada tahap penyaluran.
Selanjutnya, di lain waktu usaha sate padang milik Pak Ali Usman akan menjadi salah satu UMKM binaan Lazismu di Kota Medan. Melalui pembinaan dan pendampingan, ia berharap usaha tersebut dapat berkembang secara berkelanjutan.
Sementara itu, Pak Ali Usman menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Lazismu serta seluruh pihak dan para donatur yang telah mendukung usahanya. ““Saya sangat bersyukur bahwa bantuan gerobak dengan mesin ini serta perlengkapan usaha sangat begitu berarti”, ucapnya.
Bantuan ekonomi ini, bagi saya sehari-hari sangat membantu untuk menjalankan dan mengembangkan usaha sate padang. Semoga seluruh kebaikan para donatur mendapatkan balasan dan keberkahan.
Melalui Program Merdeka UMKM Dhuafa dan Disabilitas, Lazismu Kota Medan terus berupaya mengoptimalkan dana zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya melalui program-program pemberdayaan yang produktif dan berkelanjutan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Kota Medan]



Seseorang dalam suatu pengajian bertanya kepada Ustadz, Jika Allah SWT Maha Baik dan Maha Penyayang kepada mahluknya, mengapa Ia dengan Kuasanya, memberikan ujian bagi manusia. Hal ini tidak adil padahal Allah SWT telah memberikan nikmat dan anugerah yang tak terhingga.
Pertanyaan di atas, mungkin ada dan dialami dalam benak orang lain. Pertanyaan itu fitrah bagi manusia. Karena dalam Islam manusia memiliki fitrah untuk belajar dan mengetahui segala sesuatu. Potensi bertanya manusia juga bagian dari fitrah manusia dalam beragama untuk mengetahui Kemahakuasaan-Nya sebagai Maha Pemberi Bentuk (Al-Wahib Al-Suwar).
Dengan kuasa-Nya, Allah bisa menjadikan sesuatu dalam bentuk apa saja, bahkan dengan kuasa-Nya mengubah sesuatu dalam bentuk yang lain bahkan menghancurkan atau memusnahkannya. Termasuk bencana gempa bumi, tentu ada maksud-Nya Allah memberikan peringatan dan kehancuran itu kepada setiap manusia.
Dalam kajian Fikih Bencana tahun 2014, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah melakukan kajian atas pokok bahasan mengenai bencana, keadilan dan nasib manusia dalam mempertahankan hidupnya.
Salah seorang Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Ustadi Hamsah, misalnya, ketika membahas soal Keadilan Tuhan (theodicy), Musibah dan Peristiwa yang Penuh Makna, mengungkapkan bahwa konsep Keadilan Tuhan merupakan ke-Maha Baik-kan dan ke-Maha Adil-an Allah yang dihadapkan pada kenyataan adanya keburukan dan kejahatan di dunia.
Hal itu, menurutnya, didasarkan pada sifat Rahmah (rahman dan rahim). Ketentuan dan ketetapan Allah pun selalu BAIK, dan hamba-hamba Yang Rahman dan Rahim (‘ibad al-Rahman) memandang bahwa Allah adalah Sumber Kebaikan. Konsekuensi kebaikan ini adalah bertambahnya nilai dari kebaikan (ihsan).
Dalam kajian itu, Ustadi mengatakan bahwa seluruh ketentuan Allah adalah anugerah bagi manusia. Fungsi anugerah itu sendiri sebagai ujian (bala’). Dan ujian itu berbentuk dua keberadaanya, yaitu kebaikan (hasanat) dan keburukan (sayyi’at). Ujian yang buruk (sayyi’at) lazim dikenal dengan musibah, bencana, pageblug, atau prahara.
Musibah Bukan Berarti Masalah
Terlepas dari ujian yang diberikan oleh Allah SWT, sebelum musibah itu datang manusia dalam hidupnya senantiasa dihadapi oleh kendala dalam bentuk masalah. Baik itu masalah ringan atau berat. Masalah dalam pengertian yang sederhana adalah adanya kesenjangan sesuatu antara yang senyatanya (Das Sein) dengan yang seharusnya (Das Sollen).
Oleh karena itu, ketika manusia diuji dengan masalah, sebagian orang mengatakan itu adalah musibah. Bahkan musibah itu dimaknai negatif. Sehingga menjadi masalah bagi manusia. Mengapa? Karena manusia memiliki kesadaran. Kesadaran itu bisa rapuh. Dalam kacamata Tauhid tentang musibah secara hakikat pada dasarnya tidak sama dengan masalah. Padahal yang menjadi masalah bagi manusia pada dasarnya adalah cara manusia menyikapi masalahnya. Ustadi berpendapat, apapun yang terjadi adalah nasib (bagian) manusia, ketentuan (qadla’) Allah bagi makhluk-Nya sesuai ketetapan-Nya (taqdir).
Demikian keadilan Tuhan. Maka kita harus memahami dan menyikapi takdir itu. Dalam Tauhid, ada cinta dan keridhoan. Artinya menerima ketentuan Allah dengan Ikhlas. Ridho dan Ikhlas atas kejadian atau peristiwa di alam (bil kaun). Itu adalah kuasa-Nya, manusia tidak mampu menjangkaunya.
Yang menarik menurut Ustadi, jika Allah menghendaki musibah pada suatu kaum, maka akan menimpa orang sholih juga orang kafir, tetapi Allah akan membangkitkan dalam kondisi yang berbeda-beda. Selanjutnya ada Ridho yang dimaknai atas yang menimpa kita (bi na). Maksudnya ada banyak faktor dalam hidup kita yang diatur oleh Allah. Dan yang tahu rahasianya hanya Allah SWT.
Untuk itu, dalam Islam dan dalam setiap ibadah kita selaku Muslim, maka penting untuk kuatkan sikap kita ridho dan ikhlas malakukan hal yang layak untuk dilakukan. Allah tidak mengubah kondisi suatu kaum kecuali kaum tersebut mau mengubah kondisnya pula.
Pandangan terkait bencana ini, juga disampaikan Majelis Tarjih dan tajdid PP Muhammadiyah, Muhammad Khaeruddin Hamsin mengenai Konsep Darurat Dalam Islam dan Masalah -Masalah Fikih Terkait Bencana. Menurutnya, darurat dalam kerangka Maqasid Syar’iyah adalah di mana manusia sampai pada kondisi yang sangat kesulitan sehingga dapat melakukan hal-hal yang dilarang guna menghindarkan jiwanya, hartanya dan sebagainya dari kebinasaan.
Mendudukan makna darurat menjadi penting di sini, karena bertalian dengan konsep maslahah yaitu bagaimana manusia dapat menggapai suatu kemanfaatan dan terhindar dari kerusakan atau mencapai kemanfaatan dengan menjaga agama, jiwa, keturunan (harga diri) akal dan harta.
Jadi, maslahah dalam konteksnya ini mencakup hal-hal yang bersifat dharuriyat, hajiyat dan tahsiniyat, sedang darurat hanya terbatas hal-hal yang besifat dharuriyat saja.
Dari paparan di atas, Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq Mughni menilai bahwa pandangan Islam tentang bencana berarti ada suatu hal yang penting yaitu mengurangi risiko bencana untuk mempertahankan hidup.
Penggalian nilai-nilai Islam tentang kebencanaan sangat penting untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap bencana. Kesadaran itu akan terwujud dalam upaya untuk memahami bencana sebagai fenomena alam maupun sosial sehingga bisa mengurangi tingkat risikonya, mengantisipasi dan melakukan apa yang terbaik ketika bencana itu terjadi.
Agama memainkan peran yang penting karena sifat ajaran Islam yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Menurut pendapat para pemikir hukum Islam, prinsip-prinsip dasar atau maksud dari setiap ketetapan hukum Islam di antaranya, menjaga keselamatan jiwa dan harta manusia. Karena ini wajib menurut ajaran Islam untuk mempertahankan hidup.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

Bayangkan, anda tertidur lelap. Tidur malam cukup selama 7- 8 jam yang bermanfaat untuk kesehatan. Jaringan sel tubuh mengalami perbaikan dalam sistem tubuh yang bekerja untuk menguatkan kekebalan, menjaga kesehatan jantung dan mengoptimalkan fungsi kerja otak serta daya ingat. Selain itu, tidur malam yang cukup dapat menjaga emosi tetap stabil.
Tiba-tiba dalam nyenyak yang nikmat, kasur bergerak dan atap rumah berguncang hebat hingga merubuhkan bangunan. Tetangga dan kerabat dekat anda merasakan hal yang sama sehingga terkejut berlari keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Gempa bumi sedang menyapa kita dengan ujian musibah yang tidak mengenal waktu dan tempat.
Demikian hal yang dialami saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa bumi tektonik berkekuatan 7,7 magnitudo pada Sabtu, (15/8/2026) pukul 04.58 waktu setempat. Tujuh kabupaten di NTT merasakan dampaknya. Bahkan BNPB dalam datanya melaporkan bahwa ada dua kabupaten yang mengalami kerusakan dan dampak yang luar biasa yaitu kabupaten Manggarai dan kabupaten Manggarai Timur.
Data terkini dari BNPB, tertanggal 20 Agustus 2026, jumlah korban meninggal dunia menjadi 72 orang. Korban luka-luka sebanyak 900 orang, dan 82.691 orang mengungsi serta 18.019 kepala keluarga terdampak. Tidak hanya itu, kerugian materilnya ada 29.001 rumah rusak termasuk fasilitas ibadah dan fasilitas umum.
Makna Bencana sebagai Buah Empati
Adalah penting untuk memandang bencana dari perspektif islam dan kemanusiaan. Dalam sudut pandang Fikih Bencana yang diterbitkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah (2015), kata bencana memiliki padanan istilah dalam Al-Qur’an yaitu musibah, bala’, fitnah, ‘azab, fasad, halak, tadmir, tamziq, ‘iqab, dan nazilah.
Istilah – istilah tersebut mengandung makna yang berbeda-beda dalam teks dan konteksnya. Istilah Bala’ diartikan sebagai “cobaan untuk memperteguh keimanan”. Adapun istilah fitnah lebih dekat pada makna bencana sosial yang diakibatkan oleh ketegangan sosial antar manusia.
Sedangkan istilah Azab diartikan sebagai “ragam peristiwa yang menimpa manusia karena perbuatannya yang abai terhadap ketetapan dan hukum Allah”. Sementara istilah Fasad merupakan bencana yang diakibatkan oleh manusia yang bertentangan dengan ketetapan Allah.
Dalam makna lain tentang bencana, Halak bersandar pada suatu kehancuran dan kebinasaan yang menjadi hukum ketetapan Allah. Makna bencana lainnya melalui istilah Tadmir diartikan sebagai sifat dari suatu peristiwa yang berdampak merusak dan disebabkan oleh manusia juga oleh alam.
Selain itu, istilah Tamziq merupakan peristiwa buruk yang murni disebabkan oleh ulah manusia. Sedangkan istilah Iqab merupakan kejadian berupa hukuman disebabkan oleh sikap pengingkaran manusia terhadap Allah dan Rasul serta istilah Nazilah yang berarti bencana sebagai hukuman dari Allah untuk manusia.
Berdasarkan istilah dan makna bencana di atas, secara teknis dan konseptual kita sering menggunakannya secara bergantian. Oleh karena itu, makna dasar ini menjadi relevan sebagai bekal pengetahuan tentang bencana dari perspektif fikih islam karena berkaitan dengan wawasan kemanusiaan dan kepekaan sosial (empati).
Berkhidmat kepada Kemanusiaan
Setiap bencana mengandung hikmah dan pelajaran bagi setiap manusia, baik sebagai manusia yang terdampak atau tidak. Oleh karena itu, bencana harus disikapi dengan arif bijakasana agar kita mampu berkhidmat untuk merespons bencana tersebut. Sebagai pelajaran yang sudah terjadi maka manusia harus merencanakan mitigasinya, dan bagaimana merespons kedaruratannya hingga masa pemulihannya.
Hamim Ilyas dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengatakan bahwa berkhidmat terhadap bencana berarti menyelami makna terdalam. Hamim mendasarkan argumennya pada Surat Al-Maun tentang Yatim dan Miskin serta orang yang mendustai agama. Mengapa demikian, karena manusia yang tertimpa bencana mengalami kerugian bahkan kehilangan harta bendanya yang berharga. Bisa jadi bagi seorang anak, karena bencana orang tuanya berpulang dan Ia menjadi yatim duafa atau penyandang masalah kesejahteraan.
Oleh karena itu, menurut Hamim Ilyas, berkhidmat kepada yatim dan miskin dilakukan dengan empat prinsip: 1. Memuliakan, 2. Keberpihakan, 3. Memperlakukan dengan adil, dan 4. Memberikan kebaikan nyata. Al-Qur’an telah menunjukkan bukti dari pengkhidmatan itu melalui upaya memberikan perlindungan dan santunan, memperhatikan masa depan, berlaku adil dan tidak bersikap kasar serta mengelola harta yang dimiliki yatim dengan cara terbaik.
Dengan upaya pengkhidmatan itu, akan ada usaha-usaha yang dapat dilakukan, misal setelah masa tanggap darurat bencana akan masuk pada fase pemulihan, sebagai ikhtiar menolong sesama bisa dilakukan dengan pemberdayaan masyarakat dengan 4 orientasi yang terus bisa dikembangkan sesuai kebutuhan, yaitu: 1. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi kesejahteraan, 2. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi kemandirian dan kelestarian, 3. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi advokasi dan perubahan sosial, 4. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi advokasi kebijakan publik dan gerakan sosial.
Hal itu diperkuat oleh pemaknaan terhadap bencana yang diungkapkan oleh Pakar Manajemen Bencana dari PP Muhammadiyah, Rahmawati Husein bahwa bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Menurut Rahmawati Husein dalam memahami bencana dan pengelolaannya yang menjadi poin penting adalah dari tanggap darurat ke pengurangan risiko bencana. Ia menilai sejauh ini masih ada sebagian masyarakat yang melihat bencana alam sebagai sesuatu yang datang di luar kemampuan manusia. Maka kecenderungannya menunggu kejadian tersebut dialami atau menimpa diri mereka tanpa ada pembelajaran untuk mitigasi dan penanggulangan risiko bencananya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

MENGECAM PENYANDERAAN 9 AKTIVIS KEMANUSIAAN INDONESIA DAN BANTUAN KEMANUSIAAN GLOBAL SUMUD FLOTILLA OLEH AKSI MILITER ISRAEL
Jakarta, 20 Mei 2026
Aksi militer Israel yang melancarkan penyergapan terhadap relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0, menuju Gaza, Palestina, merupakan bentuk teror dan melanggar hukum internasional. Tindakan intersepsi itu terjadi pada Senin, 18 Mei 2026, di perairan internasional Siprus, tepatnya di kawasan Laut Mediterania Timur.
Misi kemanusiaan untuk Palestina yang diinisiasi oleh masyarakat global yang berjumlah 426 Relawan dari 40 negara berlayar menggunakan 50 kapal, merupakan aktivis kemanusiaan dari berbagai macam profesi. Salah satunya negara Indonesia, yang di dalamnya ada 9 orang aktivis kemanusiaan yang mewakili lembaga amil zakat dan jurnalis kemanusiaan.
Berdasarkan informasi terbaru, pada 19 Mei 2026 pukul 21.02 WIB, militer Israel telah mencegat dan memaksa 40 kapal kemanusiaan tersebut untuk berhenti di perairan internasional. Kabar tersiar lainnya melalui media internasional yang sampai ke Indonesia, para relawan kemanusiaan ini dipaksa berlutut dengan kondisi tangan terikat di belakang.
Dengan bersenjata, pasukan militer Israel berjaga dari kapalnya memberikan ancaman. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, tetap pada pendiriannya sebagai upaya membela hak Israel mencegat kapal kemanusiaan itu. Bahkan, Netanyahu, memerintahkan agar semua aktivis kemanusiaan segera dideportasi.
Atas landasan hukum dan etika kemanusiaan, Kami dari Lembaga Amil Zakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah (LAZISMU), yang juga sebagai bagian dari lembaga pengelola zakat, menyatakan kerisauan atas krisis kemanusiaan yang terjadi menimpa aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0.
Kami sekaligus mengecam setiap bentuk intervensi yang dilakukan dengan kekerasan yang sewenang-wenang oleh pasukan militer Israel terhadap misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0.
Bantuan kemanusiaan amanah rakyat Indonesia, berupa pangan, logistik, dan penunjang medis serta kesehatan yang diambil-alih dengan paksa merupakan upaya perampasan, dan tidak semata menahan sementara tetapi menghentikan akses atas hak hidup rakyat Palestina. Ini juga merupakan bentuk perendahan martabat kemanusiaan dan solidaritas internasional, termasuk Indonesia.
Ancaman represif tersebut adalah pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional. Tindakan militer Israel, melanggar Pasal 59 Konvensi Jenewa IV (1949) serta Protokol Tambahan I Pasal 70 dan 71, yang mewajibkan perlindungan mutlak bagi personil pekerja kemanusiaan dan kewajiban untuk memfasilitasi akses lintasan bantuan tanpa hambatan.
Pencegatan distribusi bantuan kemanusiaan yang disengaja turut melukai wajah kemanusiaan dan ancaman kelaparan di Gaza, Palestina, serta mencederai prinsip-prinsip dasar kemanusiaan universal yang dijunjung tinggi oleh komitmen internasional yang dibuat pada World Humanitarian Summit 2016, sebagai Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 dan sejumlah inisiatif global lainnya.
Berpijak dari prinsip dasar kemanusiaan dan hukum humaniter internasional tersebut, Kami dari LAZISMU, dalam situasi darurat yang menyertai, dan atas nama solidaritas kemanusiaan, dengan ini menyampaikan pernyataan sikap:
Berikut pernyataan sikap yang LAZISMU sampaikan sebagai wujud solidaritas kemanusiaan universal dan akan terus ikut mengawal dengan tetap menjunjung tinggi perlindungan akses kemanusuiaan global bagi hak kemerdekaan rakyat Palestina.
Kami menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak pernah lelah mengawal setiap aksi kemanusiaan, sekaligus memanfaatkan ruang-ruang media sosial dengan narasi solidaritas kemanusiaan dan dukungan penuh bagi kemerdekaan rakyat Palestina. LAZISMU juga menyerukan kepada Masyarakat Indonesia untuk tidak letih membantu rakyat Palestina.

