


BLANGPIDIE -- Tadisi minum kopi di Aceh dilakukan secara turun-menurun. Di Aceh warung kopi sangat mudah ditemukan. Ajakan minum kopi di warung kopi bagi warga Aceh merupakan cara sederhana mengusir penat.
Ungkapan "Jak jeip kupi" (Ayo minum kopi), kerapkali terdengar di keseharian warga Aceh. Cita rasa kopi begitu akrab sehingga warung kopi menjadi tempat untuk berbagi membicarakan sesuatu dengan ringan.
Di Blangpidie, Teras Kupi WK WK, milik Darul Arkam, menjadi salah satu tempat ngopi yang sudah dikenal. Amil Lazismu Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), pada pertengahan Oktober lalu menyambanginya untuk berbagi cerita tentang filantropi.
Rismanidar, pegiat Lazismu Abdya, menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diberikan Darul Arkam untuk menerima Lazismu bertamu. Di momen itu juga, Darul Arkam menunaikan zakatnya kepada Lazismu Abdya untuk selanjutnya disalurkan kepada mustahik yang membutuhkan.
Mewakili Lazismu Abdya, Rismanidar menyampaikan terima kasih kepada Darul Arkam atas kepercayaannya. Mudah-mudahan zakat yang ditunaikan lewat Lazismu ini bisa mendorong pengusaha dan masyarakat lain di Abdya, khususnya warga Persyarikatan Muhammadiyah untuk menunaikan zakatnya.
Ia mengatakan, selain melayani penyerahan zakat secara langsung dan layanan jemput donasi, Lazismu Abdya juga telah menempatkan kotak infak dan sedekah di 10 titik yang ada di Kota Blangpidie.
“Kotak infak itu tersebar di warung kopi, swalayan, apotek, hingga klinik kesehatan”, ujarnya. Yang menarik sambung Rismanidar, setiap kotak infak disematkan fitur barcode QRIS dari Bank Aceh Syariah dan Bank Syariah Indonesia (BSI).
Layanan ini memudahkan masyarakat untuk berinfak secara digital melalui aplikasi mobile banking. Lazismu juga mengajak masyarakat sekitar di Blangpidie untuk menyisihkan sebagian hartanya guna membantu saudara-saudara yang membutuhkan uluran tangan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Abdya]

KUDUS -- Kepedulian dan empati dari amil Lazismu tak pernah berhenti. Jika berhenti pun, bukan berarti diam, tetapi jeda sejenak untuk bergerak kembali. Ibarat tanda Sukun, bisa berarti berhenti dengan tenang untuk meringankan dan membalik keadaan.
Diam sejenak itulah yang dilakukan amil Lazismu di Kudus, Jawa Tengah. Dengan tenang mereka meringankan nasib Bapak Suharto untuk membalik keadaannya. Pasalnya, Bapak Suharto adalah seorang marbot Masjid Al-Khairat.
Ia telah lama berkhidmat untuk mengurus dan memantapkan pelayanan masjid terhadap jamaahnya. Pengabdiannya di masjid itu berbuah berkah. Sebuah perusahaan tembakau di Kudus meminang Lazismu berkolaborasi membedah rumah mungil Bapak Suharto yang tak layak huni.
Rumah sederhana itu berukuran sekitar 5 x 6 meter persegi. Kurang lebihnya sepadan dengan rumah tipe tiga puluh. Rumahnya tidak terlalu jauh dari Masjid Al-Khairat, berlokasi di RT 01/RW 07, Desa Jekulo, Kabupaten Kudus, seperti dilansir dari laman resmi Lazismu Kudus.
Pada mulanya, Lazismu Kudus telah melakukan program bedan rumah di lokasi yang berbeda. Menurut Manager Lazismu Kudus, Rafitri Harvian, kegiatan bedah rumah ini merupakan yang ketujuh dari sembilan program yang direncanakan.
Harvian mengungkapkan bahwa pada, Sabtu, (24/10/2026), dilakukan Kick Off bersama antara Lazismu Kudus bersama PT Sukun Wartono sebagai bentuk sinergi kepedulian sosial melalui program Bedah Rumah Sederhana Layak Huni 2026.
Ditandai peletakan batu pertama secara simbolis oleh Wakil Ketua PDM Kudus Rizka Himawan kepada Bapak Suharto program bedah rumah dimulai. Kegiatan berlangsung pukul 07.00–08.00 WIB di Desa Jekulo, yang dihadiri perangkat desa, Ketua RT, Ketua PCM Jekulo, pengurus KL Lazismu Jekulo, perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kudus, Badan Pengurus Lazismu Kudus, serta segenap amil.
Program ini merupakan bagian dari upaya membantu masyarakat memperoleh hunian yang lebih layak, kata Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kudus, Zulfa Kurniawan. Melalui kolaborasi lembaga filantropi, dunia usaha, dan masyarakat, Zulfa mengapresiasi sinergi Lazismu Kudus dan PT Sukun Wartono dalam pelaksanaan program tersebut.
Menurutnya, program bedah rumah ini menjadi aksi nyata perhatian terhadap sosok yang berperan aktif dalam memakmurkan masjid. Ia mengucapkan terima kasih kepada Lazismu Kudus yang telah memberikan kesempatan kepada satu-satunya marbot di Masjid Al Khairat, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Jekulo untuk menjadi bagian dari program bedah rumah sederhana layak huni.
“Dengan dedikasinya selama ini, Bapak Suharto dapat merasakan bantuan dari Lazismu untuk memperbaiki rumahnya sehingga menjadi layak untuk dihuni,” pungkasnya.
Lazismu Kudus berharap perhatian terhadap kesejahteraan marbot dapat berjalan seiring dengan upaya memakmurkan masjid. Tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan dasar berupa hunian, program ini juga menjadi bentuk penghargaan atas pengabdian marbot yang berkontribusi bagi kehidupan keagamaan masyarakat.
Sebagai informasi Bapak Soeharto merupakan marbot Masjid Muhammadiyah Al-Khairat sejak awal berdiri Sekitar 18–19 tahun lalu. Sebelumnya, Bapak Soeharto juga bekerja sebagai pengayuh becak kurang lebih 20 tahun sejak era Reformasi.
Suharto menyampaikan rasa syukur atas bantuan yang diterimanya. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Lazismu dan seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam program bedah rumah ini.
“Alhamdulillah, terima kasih kepada semua pihak yang telah berupaya memberikan bantuan bedah rumah melalui Lazismu Kudus yang bekerja sama mitra kolaborasinya. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih”, tandasnya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Kudus]

SUMATERA SELATAN – Paket sembako untuk warga yang membutuhkan disalurkan Lazismu di Desa Sumber Mulyo dan Desa Kedung Rejo, Kecamatan Buay Madang Timur, Kabupaten OKU Timur, pada Kamis (22/10/2026).
Dalam program penyaluran itu, Lazisu bersinergi dengan Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) OKU Timur, melalui program Paket Sembako untuk Umat. Tujuan dari program tersebut, sebagai upaya membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok sekaligus memperkuat kepedulian sosial.
Kolaborasi antara lembaga filantropi dan organisasi kemahasiswaan merupakan upaya nyata membangun empati. Ketua LAZISMU Kabupaten OKU Timur, Preli Yulianto, mengatakan, program Paket Sembako untuk Umat adalah komitmen lembaganya dalam menyalurkan manfaat zakat, infak, dan sedekah kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Tidak hanya membantu warga, ini bagian dari meringankan penerima manfaat dalam memenuhi kebutuhan pokok. Dan mengajak mahasiswa dalam menumbuhkan semangat berbagi”, pungkasnya pada Sabtu, 24 Oktober 2026, dilansir dari laman Tajdid.
Menurutnya, kolaborasi antara Lazismu, PC IMM OKU Timur, relawan, dan muzaki merupakan faktor penting memperluas nilai manfaat dari program ini. Prely menyampaikan apresiasi kepada kader IMM, relawan, dan khususunya kepada muzaki telah mendukung dan menitipkan amanahnya.
Kepercayaan muzaki kepada Lazismu merupakan bagian dari bentuk pelayanan yang wajib dirawat dengan tata kelola yang professional dan bertanggung jawab.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum PC IMM OKU Timur, M. Rohman Hidayatullah, mengatakan, aksi kepedulian sosial ini ikhtiar menumbuhkan dan mempertajam kepekaan sosial antarlembaga dalam membantu masyarakat.
Rohman menilai, peran aktif mahasiswa dalam kegiatan sosial adalah perwujudan dari pengamalan nilai-nilai kemanusiaan sekaligus dakwah sosial Muhammadiyah.
Ia berharap, kerja sama ini dapat terus berlanjut sehingga kebermanfaatanya bisa semakij dirasakan lebih luas bagi masyarakat yang membutuhkan.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu OKU Timur/tajdid]

PEKANBARU -- Kepedulian terhadap lingkungan akan memberikan manfaat bagi masyarakat. Lazismu Pekanbaru melalui program lingkungan menggandeng KAMMI Pekanbaru menggelar aksi penanaman pohon di Kelurahan Melebung, Pekanbaru, pada Jumat (23/10/2026).
Kegiatan pengabdian masyarakat ini disambut positif sekaligus menyemarakkan Milad Muhammadiyah ke-114. "Program ini disambut positif, selaras dengan program peduli lingkungan salah satu pilar unggulan program Lazismu Pekanbaru”, ujarnya.
Selain itu, kolaborasi ini sebagai bagian dari program dalam menyemarakkan millad Muhammadiyah ke 114 tahun”, kata Manager Lazismu Pekanbaru Fadhlullah Nury. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar, yang memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi kegiatan penanaman pohon.
Dalam sambutannya, Markarius menyampaikan apresiasi atas inisiatif Lazismu Pekanbaru dan bersinergi dengan organisasi kemahasiswaan untuk mengajak masyarakat peduli kelestarian lingkungan.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Melihat isu lingkungan terkait pembakaran hutan, tentu kita sebagai masyarakat, jika tidak bisa mencegah kebakaran yang dilakukan oleh oknum, kita masih bisa menjaga diri kita, salah satunya dengan menanam pohon,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga lingkungan, terutama mengingat persoalan kebakaran hutan yang kerap dirasakan masyarakat saat musim panas.
Semnetara itu, Arif Futtajjalli mewakili organisasi kemahasiswaan mengatakan bahwa kegiatan penanaman pohon ini merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap dampak kerusakan lingkungan yang semakin dirasakan masyarakat.
“Kita hari ini merasakan begitu dampak dari kerusakan lingkungan. Maka hari ini kita harus merawat lingkungan agar kita mendapatkan udara yang sehat”, ungkapnya.
Ia juga menyoroti kondisi cuaca yang dinilai mengkhawatirkan dan berpotensi berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Menurutnya, menjaga lingkungan merupakan langkah penting untuk mendukung terciptanya lingkungan yang sehat dan nyaman bagi masyarakat.
Program ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga menghadirkan manfaat jangka panjang bagi masyarakat melalui keberadaan pohon buah yang dapat tumbuh dan menghasilkan buah di kemudian hari.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Pekanbaru]

BANDUNG -- Komitmen untuk memberikan nilai manfaat bagi masyarakat dalam memperkuat literasi dan inklusi keuangan syariah dilakukan PT Asuransi Jasindo Syariah yang berkolaborasi dengan Lazismu untuk edukasi dan kepedulian sosial.
Kedua entitas ini berupaya memperkuat edukasi tersebut di ‘Aisyiyah Boarding School (ABS) Baleendah, Bandung, pada Kamis, 22 Oktober 2026. Kegiatan ini diikuti oleh ratusan santriwati serta jajaran pimpinan Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah (PWA) Jawa Barat dan pengelola pesantren.
Selain edukasi, acara ditandai dengan penyerahan bantuan pilar program pendidikan berupa beasiswa kepada 15 santri serta pendaftaran proteksi asuransi syariah bagi 5 santri. Branch Manager PT Asuransi Jasindo Syariah KP Bandung, Ririn Riani Ludisa mengatakan pemahaman asuransi syariah tidak sekadar berfokus pada produk keuangan, melainkan pada penanaman prinsip kepedulian sosial.
"Asuransi syariah hadir dengan prinsip saling melindungi dan tolong-menolong sesuai dengan nilai ta'awun”, ujarnya. Melalui kegiatan ini, kami berharap adik-adik santriwati memperoleh pengetahuan baru mengenai manajemen risiko sebagai bekal masa depan.
Dalam kesempatan itu, Direktur Penghimpunan dan Kerjasama Lazismu Pusat, M. Sholeh Farabi, menekankan pentingnya perlindungan syariah dan skema jaring pengaman sosial dalam menjaga stabilitas ekonomi keluarga.
"Dalam Islam, mengelola harta tidak hanya soal mencari dan membelanjakan, tetapi ada unsur sosial di dalamnya”, kata Farabi. Melalui penyaluran zakat Jasindo Syariah yang dikelola Lazismu, kita dapat memberikan beasiswa dan meringankan beban sesama.
Literasi yang diberikan ini, sambung Farabi, adalah penting agar santriwati paham bagaimana harta diperoleh secara halal, dikelola dengan baik, dan didistribusikan untuk memberi dampak positif bagi masyarakat.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah (PWA) Jawa Barat, Ia Kurniati, mengatakan bahwa kemandirian finansial merupakan keterampilan krusial bagi perempuan berkemajuan. "Perempuan harus cerdas merencanakan dan mengelola keuangan sehingga mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan”, pungkasnya.
Kami berharap melalui edukasi literasi keuangan syariah ini, para santriwati dipersiapkan menjadi generasi perempuan berkemajuan, yang tidak hanya berilmu tinggi, tetapi juga mandiri secara finansial dan menjadikan harta sebagai ladang ibadah serta benteng dari risiko finansial negatif.
Menanggapi acara kolaborasi dalam edukasi dan literasi keuangan syariah, Mudir Pesantren ‘Aisyiyah Boarding School Baleendah, Dede Kurniawan, turut menyampaikan apresiasinya. Kami mengucapkan terima kasih atas kontribusi Lazismu dan Jasindo Syariah. Bantuan beasiswa dan edukasi ini menjadi pemantik serta awal yang baik bagi tumbuh kembang pesantren.
“Semoga sinergi dan keberkahan ini terus mengalir untuk mendukung pendidikan serta pemberdayaan santriwati ke depannya", tuturnya.
Adapun materi edukasi dan mengenal asuransi syariah dan kewaspadaan keuangan disampaikan M. Fajar dari Jasindo Syariah. Disusul materi konsep harta dalam islam yang dikupas tuntas oleh Pengawas Syariah Lazismu Pusat, Ayi Yunus Rusyana. Ia memberikan panduan praktis pengelolaan keuangan bagi para santriwati.
Adapun program ini dirancang untuk mengenalkan manajemen risiko berbasis nilai-nilai Islam sejak dini. Nilai utama seperti saling tolong-menolong (ta’awun), kepedulian, dan kebersamaan (takaful) menjadi fondasi agar generasi muda siap menghadapi ketidakpastian finansial di masa depan.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Jasindo Syariah, Lazismu, dan PWA Jawa Barat berkomitmen untuk terus memperkuat inklusi keuangan syariah sekaligus mendorong pemerataan akses pendidikan berkualitas bagi generasi muda Islam di Indonesia.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

SURABAYA -- Bantuan finansial bagi seseorang untuk kebutuhan biaya studi memiliki kontribusi dalam peningkatan kapasitas. Penerima manfaatnya merasakan dampak langsung sehingga mampu memberikan motivasi.
Lazismu Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), mewujudkannya dalam menyalurkan kebutuhan akademik mahasiswa untuk mendukung studinya dalam bentuk Beasiswa Sang Surya. Beasiswa senilai Rp130 juta diberikan kepada 73 mahasiswa pada semester gasal tahun akademik 2026/2027.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 12 penerima merupakan mahasiswa asing, termasuk mahasiswa asal Sudan yang keluarganya terdampak perang. Penyaluran Beasiswa Sang Surya tersebut berlangsung di Masjid Al-Khoory Umsura, pada Rabu (21/10/2026), dilansir dalam laman resmi Umsura.
Program ini mencakup tiga skema, yaitu Sang Surya Scholarship untuk bantuan pendidikan mahasiswa reguler, Sang Surya Living Cost untuk membantu biaya hidup mahasiswa asing, serta Sang Surya Charity berupa bantuan sosial bagi dua mahasiswa asal Sudan yang keluarganya terdampak perang.
Kepala Kantor Layanan Lazismu Umsura, Gandhung Fajar Panjalu mengatakan bahwa program tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas manfaat filantropi di lingkungan kampus.
“Semester ini ada tiga skema Beasiswa Sang Surya, yaitu Sang Surya Scholarship, Sang Surya Living Cost, dan Sang Surya Charity. Kami ingin memastikan bahwa manfaat zakat, infak, dan sedekah dapat menjangkau mahasiswa dengan kebutuhan yang beragam”, ungkap Fajar.
Fajar menambahkan, Lazismu Umsura juga berencana mengembangkan program sertifikasi amil dengan melibatkan mahasiswa yang tergabung dalam filantropi muda. Selain itu, Lazismu akan mengadakan sertifikasi halal bagi mitra penyedia makan siang gratis.
Menurutnya, penguatan penggalangan dana atau fundraising juga akan dilakukan melalui integrasi program antara Lazismu Umsura, universitas, dan filantropi muda mahasiswa.
Selaras dengan hal itu, Rektor Umsura, Mundakir, menyampaikan selamat kepada seluruh penerima manfaat. Bantuan itu diharapkan bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menunjang proses perkuliahan sehingga mahasiswa menyelesaikan studi tepat waktu.
“Kami berharap mahasiswa dapat mensyukuri dan memanfaatkan beasiswa ini dengan sebaik-baiknya. Belajar lebih giat dan menyelesaikan studi tepat waktu. Raih cita-cita yang diinginkan, dengan tetap semangat dalam spirit ta’awun yang menjadi nilai utama Beasiswa Sang Surya”, pesannya menekankan amanah itu.
Salah seorang penerima manfaat yang mendapat perhatian dalam penyaluran beasiswa tersebut adalah Eissa Thabit Mohamed Matar, mahasiswa asal Sudan. Ia menceritakan dampak perang terhadap kehidupan masyarakat di negaranya, termasuk kesulitan ekonomi dan berbagai keterbatasan yang dialami keluarganya.
Kesempatan melanjutkan pendidikan di Umsura menjadi hal yang sangat berarti bagi Eissa. Dukungan beasiswa dari kampus dan Lazismu Umsura turut membantunya menjalani perkuliahan. Ia bersyukur atas dukungan yang diterimanya sembari menyampaikan terima kasih kepada pihak universitas, Lazismu Umsura, serta teman-temannya dalam menempuh pendidikan di Indonesia.
Selain menjalani perkuliahan, Eissa mengaku mendapat kesempatan untuk berkontribusi dalam berbagai kegiatan pengabdian di lingkungan kampus maupun masyarakat di luar kampus.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat/Lazismu Umsura]



Seseorang dalam suatu pengajian bertanya kepada Ustadz, Jika Allah SWT Maha Baik dan Maha Penyayang kepada mahluknya, mengapa Ia dengan Kuasanya, memberikan ujian bagi manusia. Hal ini tidak adil padahal Allah SWT telah memberikan nikmat dan anugerah yang tak terhingga.
Pertanyaan di atas, mungkin ada dan dialami dalam benak orang lain. Pertanyaan itu fitrah bagi manusia. Karena dalam Islam manusia memiliki fitrah untuk belajar dan mengetahui segala sesuatu. Potensi bertanya manusia juga bagian dari fitrah manusia dalam beragama untuk mengetahui Kemahakuasaan-Nya sebagai Maha Pemberi Bentuk (Al-Wahib Al-Suwar).
Dengan kuasa-Nya, Allah bisa menjadikan sesuatu dalam bentuk apa saja, bahkan dengan kuasa-Nya mengubah sesuatu dalam bentuk yang lain bahkan menghancurkan atau memusnahkannya. Termasuk bencana gempa bumi, tentu ada maksud-Nya Allah memberikan peringatan dan kehancuran itu kepada setiap manusia.
Dalam kajian Fikih Bencana tahun 2014, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah melakukan kajian atas pokok bahasan mengenai bencana, keadilan dan nasib manusia dalam mempertahankan hidupnya.
Salah seorang Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Ustadi Hamsah, misalnya, ketika membahas soal Keadilan Tuhan (theodicy), Musibah dan Peristiwa yang Penuh Makna, mengungkapkan bahwa konsep Keadilan Tuhan merupakan ke-Maha Baik-kan dan ke-Maha Adil-an Allah yang dihadapkan pada kenyataan adanya keburukan dan kejahatan di dunia.
Hal itu, menurutnya, didasarkan pada sifat Rahmah (rahman dan rahim). Ketentuan dan ketetapan Allah pun selalu BAIK, dan hamba-hamba Yang Rahman dan Rahim (‘ibad al-Rahman) memandang bahwa Allah adalah Sumber Kebaikan. Konsekuensi kebaikan ini adalah bertambahnya nilai dari kebaikan (ihsan).
Dalam kajian itu, Ustadi mengatakan bahwa seluruh ketentuan Allah adalah anugerah bagi manusia. Fungsi anugerah itu sendiri sebagai ujian (bala’). Dan ujian itu berbentuk dua keberadaanya, yaitu kebaikan (hasanat) dan keburukan (sayyi’at). Ujian yang buruk (sayyi’at) lazim dikenal dengan musibah, bencana, pageblug, atau prahara.
Musibah Bukan Berarti Masalah
Terlepas dari ujian yang diberikan oleh Allah SWT, sebelum musibah itu datang manusia dalam hidupnya senantiasa dihadapi oleh kendala dalam bentuk masalah. Baik itu masalah ringan atau berat. Masalah dalam pengertian yang sederhana adalah adanya kesenjangan sesuatu antara yang senyatanya (Das Sein) dengan yang seharusnya (Das Sollen).
Oleh karena itu, ketika manusia diuji dengan masalah, sebagian orang mengatakan itu adalah musibah. Bahkan musibah itu dimaknai negatif. Sehingga menjadi masalah bagi manusia. Mengapa? Karena manusia memiliki kesadaran. Kesadaran itu bisa rapuh. Dalam kacamata Tauhid tentang musibah secara hakikat pada dasarnya tidak sama dengan masalah. Padahal yang menjadi masalah bagi manusia pada dasarnya adalah cara manusia menyikapi masalahnya. Ustadi berpendapat, apapun yang terjadi adalah nasib (bagian) manusia, ketentuan (qadla’) Allah bagi makhluk-Nya sesuai ketetapan-Nya (taqdir).
Demikian keadilan Tuhan. Maka kita harus memahami dan menyikapi takdir itu. Dalam Tauhid, ada cinta dan keridhoan. Artinya menerima ketentuan Allah dengan Ikhlas. Ridho dan Ikhlas atas kejadian atau peristiwa di alam (bil kaun). Itu adalah kuasa-Nya, manusia tidak mampu menjangkaunya.
Yang menarik menurut Ustadi, jika Allah menghendaki musibah pada suatu kaum, maka akan menimpa orang sholih juga orang kafir, tetapi Allah akan membangkitkan dalam kondisi yang berbeda-beda. Selanjutnya ada Ridho yang dimaknai atas yang menimpa kita (bi na). Maksudnya ada banyak faktor dalam hidup kita yang diatur oleh Allah. Dan yang tahu rahasianya hanya Allah SWT.
Untuk itu, dalam Islam dan dalam setiap ibadah kita selaku Muslim, maka penting untuk kuatkan sikap kita ridho dan ikhlas malakukan hal yang layak untuk dilakukan. Allah tidak mengubah kondisi suatu kaum kecuali kaum tersebut mau mengubah kondisnya pula.
Pandangan terkait bencana ini, juga disampaikan Majelis Tarjih dan tajdid PP Muhammadiyah, Muhammad Khaeruddin Hamsin mengenai Konsep Darurat Dalam Islam dan Masalah -Masalah Fikih Terkait Bencana. Menurutnya, darurat dalam kerangka Maqasid Syar’iyah adalah di mana manusia sampai pada kondisi yang sangat kesulitan sehingga dapat melakukan hal-hal yang dilarang guna menghindarkan jiwanya, hartanya dan sebagainya dari kebinasaan.
Mendudukan makna darurat menjadi penting di sini, karena bertalian dengan konsep maslahah yaitu bagaimana manusia dapat menggapai suatu kemanfaatan dan terhindar dari kerusakan atau mencapai kemanfaatan dengan menjaga agama, jiwa, keturunan (harga diri) akal dan harta.
Jadi, maslahah dalam konteksnya ini mencakup hal-hal yang bersifat dharuriyat, hajiyat dan tahsiniyat, sedang darurat hanya terbatas hal-hal yang besifat dharuriyat saja.
Dari paparan di atas, Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq Mughni menilai bahwa pandangan Islam tentang bencana berarti ada suatu hal yang penting yaitu mengurangi risiko bencana untuk mempertahankan hidup.
Penggalian nilai-nilai Islam tentang kebencanaan sangat penting untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap bencana. Kesadaran itu akan terwujud dalam upaya untuk memahami bencana sebagai fenomena alam maupun sosial sehingga bisa mengurangi tingkat risikonya, mengantisipasi dan melakukan apa yang terbaik ketika bencana itu terjadi.
Agama memainkan peran yang penting karena sifat ajaran Islam yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Menurut pendapat para pemikir hukum Islam, prinsip-prinsip dasar atau maksud dari setiap ketetapan hukum Islam di antaranya, menjaga keselamatan jiwa dan harta manusia. Karena ini wajib menurut ajaran Islam untuk mempertahankan hidup.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

Bayangkan, anda tertidur lelap. Tidur malam cukup selama 7- 8 jam yang bermanfaat untuk kesehatan. Jaringan sel tubuh mengalami perbaikan dalam sistem tubuh yang bekerja untuk menguatkan kekebalan, menjaga kesehatan jantung dan mengoptimalkan fungsi kerja otak serta daya ingat. Selain itu, tidur malam yang cukup dapat menjaga emosi tetap stabil.
Tiba-tiba dalam nyenyak yang nikmat, kasur bergerak dan atap rumah berguncang hebat hingga merubuhkan bangunan. Tetangga dan kerabat dekat anda merasakan hal yang sama sehingga terkejut berlari keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Gempa bumi sedang menyapa kita dengan ujian musibah yang tidak mengenal waktu dan tempat.
Demikian hal yang dialami saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa bumi tektonik berkekuatan 7,7 magnitudo pada Sabtu, (15/8/2026) pukul 04.58 waktu setempat. Tujuh kabupaten di NTT merasakan dampaknya. Bahkan BNPB dalam datanya melaporkan bahwa ada dua kabupaten yang mengalami kerusakan dan dampak yang luar biasa yaitu kabupaten Manggarai dan kabupaten Manggarai Timur.
Data terkini dari BNPB, tertanggal 20 Agustus 2026, jumlah korban meninggal dunia menjadi 72 orang. Korban luka-luka sebanyak 900 orang, dan 82.691 orang mengungsi serta 18.019 kepala keluarga terdampak. Tidak hanya itu, kerugian materilnya ada 29.001 rumah rusak termasuk fasilitas ibadah dan fasilitas umum.
Makna Bencana sebagai Buah Empati
Adalah penting untuk memandang bencana dari perspektif islam dan kemanusiaan. Dalam sudut pandang Fikih Bencana yang diterbitkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah (2015), kata bencana memiliki padanan istilah dalam Al-Qur’an yaitu musibah, bala’, fitnah, ‘azab, fasad, halak, tadmir, tamziq, ‘iqab, dan nazilah.
Istilah – istilah tersebut mengandung makna yang berbeda-beda dalam teks dan konteksnya. Istilah Bala’ diartikan sebagai “cobaan untuk memperteguh keimanan”. Adapun istilah fitnah lebih dekat pada makna bencana sosial yang diakibatkan oleh ketegangan sosial antar manusia.
Sedangkan istilah Azab diartikan sebagai “ragam peristiwa yang menimpa manusia karena perbuatannya yang abai terhadap ketetapan dan hukum Allah”. Sementara istilah Fasad merupakan bencana yang diakibatkan oleh manusia yang bertentangan dengan ketetapan Allah.
Dalam makna lain tentang bencana, Halak bersandar pada suatu kehancuran dan kebinasaan yang menjadi hukum ketetapan Allah. Makna bencana lainnya melalui istilah Tadmir diartikan sebagai sifat dari suatu peristiwa yang berdampak merusak dan disebabkan oleh manusia juga oleh alam.
Selain itu, istilah Tamziq merupakan peristiwa buruk yang murni disebabkan oleh ulah manusia. Sedangkan istilah Iqab merupakan kejadian berupa hukuman disebabkan oleh sikap pengingkaran manusia terhadap Allah dan Rasul serta istilah Nazilah yang berarti bencana sebagai hukuman dari Allah untuk manusia.
Berdasarkan istilah dan makna bencana di atas, secara teknis dan konseptual kita sering menggunakannya secara bergantian. Oleh karena itu, makna dasar ini menjadi relevan sebagai bekal pengetahuan tentang bencana dari perspektif fikih islam karena berkaitan dengan wawasan kemanusiaan dan kepekaan sosial (empati).
Berkhidmat kepada Kemanusiaan
Setiap bencana mengandung hikmah dan pelajaran bagi setiap manusia, baik sebagai manusia yang terdampak atau tidak. Oleh karena itu, bencana harus disikapi dengan arif bijakasana agar kita mampu berkhidmat untuk merespons bencana tersebut. Sebagai pelajaran yang sudah terjadi maka manusia harus merencanakan mitigasinya, dan bagaimana merespons kedaruratannya hingga masa pemulihannya.
Hamim Ilyas dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengatakan bahwa berkhidmat terhadap bencana berarti menyelami makna terdalam. Hamim mendasarkan argumennya pada Surat Al-Maun tentang Yatim dan Miskin serta orang yang mendustai agama. Mengapa demikian, karena manusia yang tertimpa bencana mengalami kerugian bahkan kehilangan harta bendanya yang berharga. Bisa jadi bagi seorang anak, karena bencana orang tuanya berpulang dan Ia menjadi yatim duafa atau penyandang masalah kesejahteraan.
Oleh karena itu, menurut Hamim Ilyas, berkhidmat kepada yatim dan miskin dilakukan dengan empat prinsip: 1. Memuliakan, 2. Keberpihakan, 3. Memperlakukan dengan adil, dan 4. Memberikan kebaikan nyata. Al-Qur’an telah menunjukkan bukti dari pengkhidmatan itu melalui upaya memberikan perlindungan dan santunan, memperhatikan masa depan, berlaku adil dan tidak bersikap kasar serta mengelola harta yang dimiliki yatim dengan cara terbaik.
Dengan upaya pengkhidmatan itu, akan ada usaha-usaha yang dapat dilakukan, misal setelah masa tanggap darurat bencana akan masuk pada fase pemulihan, sebagai ikhtiar menolong sesama bisa dilakukan dengan pemberdayaan masyarakat dengan 4 orientasi yang terus bisa dikembangkan sesuai kebutuhan, yaitu: 1. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi kesejahteraan, 2. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi kemandirian dan kelestarian, 3. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi advokasi dan perubahan sosial, 4. Pemberdayaan masyarakat yang berorientasi advokasi kebijakan publik dan gerakan sosial.
Hal itu diperkuat oleh pemaknaan terhadap bencana yang diungkapkan oleh Pakar Manajemen Bencana dari PP Muhammadiyah, Rahmawati Husein bahwa bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Menurut Rahmawati Husein dalam memahami bencana dan pengelolaannya yang menjadi poin penting adalah dari tanggap darurat ke pengurangan risiko bencana. Ia menilai sejauh ini masih ada sebagian masyarakat yang melihat bencana alam sebagai sesuatu yang datang di luar kemampuan manusia. Maka kecenderungannya menunggu kejadian tersebut dialami atau menimpa diri mereka tanpa ada pembelajaran untuk mitigasi dan penanggulangan risiko bencananya.
[Kelembagaan dan Humas Lazismu Pusat]

MENGECAM PENYANDERAAN 9 AKTIVIS KEMANUSIAAN INDONESIA DAN BANTUAN KEMANUSIAAN GLOBAL SUMUD FLOTILLA OLEH AKSI MILITER ISRAEL
Jakarta, 20 Mei 2026
Aksi militer Israel yang melancarkan penyergapan terhadap relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0, menuju Gaza, Palestina, merupakan bentuk teror dan melanggar hukum internasional. Tindakan intersepsi itu terjadi pada Senin, 18 Mei 2026, di perairan internasional Siprus, tepatnya di kawasan Laut Mediterania Timur.
Misi kemanusiaan untuk Palestina yang diinisiasi oleh masyarakat global yang berjumlah 426 Relawan dari 40 negara berlayar menggunakan 50 kapal, merupakan aktivis kemanusiaan dari berbagai macam profesi. Salah satunya negara Indonesia, yang di dalamnya ada 9 orang aktivis kemanusiaan yang mewakili lembaga amil zakat dan jurnalis kemanusiaan.
Berdasarkan informasi terbaru, pada 19 Mei 2026 pukul 21.02 WIB, militer Israel telah mencegat dan memaksa 40 kapal kemanusiaan tersebut untuk berhenti di perairan internasional. Kabar tersiar lainnya melalui media internasional yang sampai ke Indonesia, para relawan kemanusiaan ini dipaksa berlutut dengan kondisi tangan terikat di belakang.
Dengan bersenjata, pasukan militer Israel berjaga dari kapalnya memberikan ancaman. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, tetap pada pendiriannya sebagai upaya membela hak Israel mencegat kapal kemanusiaan itu. Bahkan, Netanyahu, memerintahkan agar semua aktivis kemanusiaan segera dideportasi.
Atas landasan hukum dan etika kemanusiaan, Kami dari Lembaga Amil Zakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah (LAZISMU), yang juga sebagai bagian dari lembaga pengelola zakat, menyatakan kerisauan atas krisis kemanusiaan yang terjadi menimpa aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0.
Kami sekaligus mengecam setiap bentuk intervensi yang dilakukan dengan kekerasan yang sewenang-wenang oleh pasukan militer Israel terhadap misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0.
Bantuan kemanusiaan amanah rakyat Indonesia, berupa pangan, logistik, dan penunjang medis serta kesehatan yang diambil-alih dengan paksa merupakan upaya perampasan, dan tidak semata menahan sementara tetapi menghentikan akses atas hak hidup rakyat Palestina. Ini juga merupakan bentuk perendahan martabat kemanusiaan dan solidaritas internasional, termasuk Indonesia.
Ancaman represif tersebut adalah pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional. Tindakan militer Israel, melanggar Pasal 59 Konvensi Jenewa IV (1949) serta Protokol Tambahan I Pasal 70 dan 71, yang mewajibkan perlindungan mutlak bagi personil pekerja kemanusiaan dan kewajiban untuk memfasilitasi akses lintasan bantuan tanpa hambatan.
Pencegatan distribusi bantuan kemanusiaan yang disengaja turut melukai wajah kemanusiaan dan ancaman kelaparan di Gaza, Palestina, serta mencederai prinsip-prinsip dasar kemanusiaan universal yang dijunjung tinggi oleh komitmen internasional yang dibuat pada World Humanitarian Summit 2016, sebagai Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 dan sejumlah inisiatif global lainnya.
Berpijak dari prinsip dasar kemanusiaan dan hukum humaniter internasional tersebut, Kami dari LAZISMU, dalam situasi darurat yang menyertai, dan atas nama solidaritas kemanusiaan, dengan ini menyampaikan pernyataan sikap:
Berikut pernyataan sikap yang LAZISMU sampaikan sebagai wujud solidaritas kemanusiaan universal dan akan terus ikut mengawal dengan tetap menjunjung tinggi perlindungan akses kemanusuiaan global bagi hak kemerdekaan rakyat Palestina.
Kami menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak pernah lelah mengawal setiap aksi kemanusiaan, sekaligus memanfaatkan ruang-ruang media sosial dengan narasi solidaritas kemanusiaan dan dukungan penuh bagi kemerdekaan rakyat Palestina. LAZISMU juga menyerukan kepada Masyarakat Indonesia untuk tidak letih membantu rakyat Palestina.

