
Film ”Ayat-Ayat Cinta” seakan memberikan “nyawa” bagi perfilman Indonesia. Karya Setiawan Hanung Bramantyo, putra pertama empat bersaudara di keluarga HM Salim Purnomo ini membangkitkan semangat sineas untuk membuat film-film Indonesia bernuansa Islam. Karyanya (red-Ayat-Ayat Cinta) yang dapat menembus hingga 4 juta penonton ini memberikan bentuk baru untuk menyampaikan pesan dakwah.
Untuk menjadi sutradara handal, memang membutuhkan terpaan dan ujian. Sejak kecil, ia sering diajak neneknya melihat kesenian tradisional ketoprak. Setelah itu, hanung kecil bergabung dan menekuni seni peran di teater masjid dekat tempat tinggalnya. Saat itu Hanung kecil masih berusia 10 tahun. Hal ini mulai mengasah kepekaan seni peran Hanung, mulai menjadi penulis skenario hingga sutradara dari setiap pementasan. Di SMA, ia membentuk kelompok teater untuk mengikuti festival teater se-SLTA di Yogyakarta dan pemain utama di kelompoknya meraih pemain terbaik. Keinginan mengasah talentanya (red-seni peran) dan melanjutkan ke ISI (Institut Seni Indonesia) ternyata mendapat pertentangan keras dari orang tua, sehingga ia harus melanjutkan ke FE UII (Universitas Islam Indonesia) dan UNY (Universitas Negeri Yogyakarta). (sumber : tamanismailmarzuki.com)
Namun karena dorongan untuk menggeluti dunia teater sangat kuat, ia meninggalkan kedua kampus tersebut dan magang di rumah sutradara kenamaan Teguh Karya (alm). Atas saran dari pak Steve (panggilan akrab Teguh Karya), Hanung melanjutkan pendidikan ke IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Di IKJ, Hanung mulai mengembangkan kemampuan secara optimal hingga pada semester II berhasil meraih juara pertama dalam Festival Film Alternatif Dewan Kesenian Jakarta (FFA-DKJ) melalui karya film dramanya, Tlutur. Selanjutnya, ia banyak membuat telesinema anak-anak yang salah satunya adalah Gelas-Gelas Berdenting (2000). Setelah menyesaikan beberapa sinetron, ia ditawari oleh Leo Sutanto untuk membuat film layar lebar berjudul Brownies (2004) dan melalui film ini, ia meraih piala citra kategori sutradara terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 2005. (sumber: tamanismailmarzuki.com) Ia juga dinominasikan sebagai Sutradara Terbaik untuk film cerita lepasnya, Sayekti dan Hanafi, yang akhirnya penghargaan diraih oleh Guntur Soehardjanto (2006). Pada Festival Film Indonesia 2007 ia kembali terpilih sebagai Sutradara Terbaik melalui film Get Married. (sumber: id.wikipedia.com)
Karya-karya Hanung sudah cukup banyak, antara lain Ayat-ayat Cinta (2007), Get Merried (2007), Legenda Sundel Bolong (2007), Kamulah Satu-satunya (2007), Lentera Merah (2006), Jomblo (2006), Sayekti dan Hanafi (TV) (2005), Catatan Akhir Sekolah (2005), Brownies (2004), WHEN ... (FILM PENDEK) (2003), Gelas-Gelas Berdenting (2001) dan Topeng Kekasih (2000). (sumber: http://id.wikipedia.org)
Saat ini, bioskop menjadi mimbar dakwah untuk menyebarkan ajaran Islam, agama yang mempunyai nilai-nilai estitis dan ajaran kebajikan. Ia memperlihatkan bahwa ajaran Islam itu cinta kasih, anti kekerasan dan anti diskriminasi. “Saya mengambil pelajaran dari Kyai Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah). Kyai Dahlan mengajarkan bahwa dakwah nggak hanya di masjid ...tapi di pasar juga. Surah Al Ma’un, kata Kyai Ahmad Dahlan, mestinya jangan hanya dibacakan di masjid saja, tapi juga di pasar. Nah, sekarang, dakwah juga mestinya bisa dilakukan juga di bioskop” tutur Hanung Bramantyo (sumber: madanimegazine.com). Semua ini tidak luput dari peran orang tua (khususnya ibu Hanung) dan Muhammadiyah sebagai bagian dari hidupnya.
| < Prev | Next > |
|---|