Bergelut di sektor ekonomi itu juga fardhu kifayah. Pernyataan ini keluar dari mulut seorang penulis buku bestseller, “Jangan Mau Jadi Orang Gajian Seumur Hidup” karya Valentino Dinsi.

Manusia sering disebut sebagai homo economicus. Jauh dari pengalaman hidup manusia sejak berabad lamanya yang telah mengenal istilah barter dalam perilaku ekonomi klasik, dalam era global bergeser menggunakan sistem nilai tukar atau uang. Lalu, apakah dengan punya uang banyak berarti kita kaya?

Dan menjadi orang kaya itu harus, menurut ajaran Rasulullah sebaiknya harta itu dari orang yang sholeh sehingga menjadikan dia sholeh juga. Sehingga hartanya itu nikmat. Demikian kata-katanya yang sering diucapkan untuk menggugah motivasi calon-calon entrepreneuer muda setiap kali Valentino mengisi sebuah pelatihan. Ya, dialah motivator handal dan sukses.

Valentino Dinsi, terlahir dari seorang bapak yang berprofesi sebagai pengusaha di Kalimantan. Hidupnya serba berkecukupan. Valentino yang lahir prematur (8 bulan) tak sempat diajari bagaimana mencapai kesuksesan hidup seperti yang dirasakan ketika itu. Bapaknya meninggal dunia dan ia masih belum mengerti kata “sukses”. Sosok bapaknya dikenali dari cerita-cerita ibunya serta keluarga besarnya yang masih berdarah Jerman-Belanda. Maklum neneknya adalah orang Eropa genuine.

Belum genap berumur lima tahun, Valentino yang hijrah ke Jakarta sudah diberi tugas khusus belanja ke pasar. Awalnya ia ditemani oleh nenek dan tantenya. Lama kelamaan, bocah berkacamata ini terbiasa sendiri ke pasar sekedar beli sirih, ayam atau kangkung. Hanya karena ingin mendapatkan uang jajan yang diambilnya dari ‘keuntungan’ merayu para penjual di pasar.

Bangku sekolah belum sempat diduduki, Valentino kecil sudah akrab mengenal hitung-hitungan dan cara bernegosiasi. Dengan cermat dan teliti, Valentino yang tidak tahu mau jadi apa nantinya, sudah mampu membedakan mana barang yang berkualitas dengan harga yang cocok.

Kelas satu SD, tugas rumahnya ini jadi membudaya, tertanam dalam jiwanya yang masih berumur enam tahun. “Jadi, saya dilatih untuk kemampuan mencari dan memilih barang berkualitas, dan saya harus menawar atau negosisasi,” ungkapnya.

Otaknya terus berpikir gimana cara praktisnya. “Karena kalo ga dapat barang saya diomelin (dimarahi,red).”

Valentino tumbuh menjadi remaja yang rajin dan digemari kawan-kawannya. Pengalaman spesial di masa kecilnya membuat otak kanannya memacu kreatifitas sendiri menciptakan usaha kecil-kecilan. “Kelas dua SMP saya sudah ga minta duit lagi sama orangtua, sudah mandiri”. Ia menjual gantungan kunci, stiker, yang ia desain bersama temannya di sekolah.

Keaktifannya di PII, organisasi Pelajar Islam Indonesia, menyadarkan dirinya untuk belajar sungguh-sungguh. Hobi membacanya semakin gila, sampai-sampai bukunya yang tak tertampung di rumah, dititipkan di perpustakaan sekolah kemudian di infaqkan.

Saat duduk di kelas tiga SMA, bisnis jualannya itu berlanjut. Hingga muncul ide membuat toko buku. “Namanya Pustaka Cahaya Ilmu, keluar ide begitu aja,” kenangnya. Hasilnya, anak keenam dari tujuh bersaudara ini bisa menyekolahkan adiknya.

Dendam terkadang tidak selalu berdampak buruk bagi seseorang maupun orang lain. Sebab, sebenarnya orangtua Valentino tidak sanggup membiayai pendidikannya. Kemandirian menjadi modal pendidikannya. Atas semangat ‘dendam’ itulah, ia nekat kuliah di Kedokteran Universitas Indonesia.

Lulus dari kesarjanaannya, ia beruntung lolos seleksi menjadi pegawai di perusahaan penerbangan ternama milik negara. Posisi awal sebagai staff administrasi, pindah ke bagian dokumentasi, lalu ke sistem analisis.

Seolah tak pernah lepas dari urusan bisnis, Valentino mendirikan yayasan semacam biro jasa tour umroh dan haji bersama sekolompok jamaah masjid PT. Garuda Indonesia. Namun, di tahun 1998, krisis ekonomi mengguncang Indoensia. Dan ia memilih pensiun dini dari Garuda.

Di saat itu juga, rumah yang sedang dibangun mendadak terhenti. Keluarga yang menjadi tanggung jawabnya hanya mampu dinafkahi seadanya, hanya tersisa uang senilai sepuluh ribu rupiah. Pinjaman sana sini dilakoninya. Merasakan tidak makan selama tiga hari sekeluarga pun mengingatkan kenangan pahit selama hidupnya sampai sekarang. Ketika itu anaknya sudah dua orang.

Kembali ke almamaternya di Depok, suami dari dr. Ratih Ardyanti ini mendapatkan seorang teman yang kemudian diajak bergabung terjun ke bisnis listrik. Dari situlah sinar terang mulai menerangi jalan gelapnya. Berjuang keras sekali lagi dan lagi. Ia mulai meniti menjadi pembimbing, seorang motivator bisnis. Sampai ia membuat buku terkenal berjudul ‘Jangan Mau Jadi Orang Gajian Semumur Hidup’.

Beberapa tahun meninggalkan Garuda, justru ia kembali untuk mengajar ‘bos-bosnya’ dulu untuk memberikan pelatihan. Terbukti, ketika seseorang ingin berubah harus berani mengambil keputusan, tapi jika ia tidak ingin berubah dia tidak pernah mengambil keputusan. Itulah kalimat ampuh yang menjadi kunci sukses hidup seorang Valentino Dinsi.

Harapannya kini adalah bagaimana mengembalikan perekonomian Indonesia dan membangunkan hak-hak bangsa seperti dulu lagi (pada era Sarekat Islam, red). Semoga...