KEPUASAN BATIN FILM RELIGIUS

SETELAH menghasilkan lebih dari 20 film dan beberapa judul sinetron, Mamang, sapaan akrab Chaerul Umam, sempat mencapai titik jenuh. Bukan uang persoalannya, namun kepuasan batin yang dicarinya. Kepuasan batin itu, katanya, adalah film-film yang memberi pencerahan. Dan itu ia dapatkan ketika menggarap film-film religius yang sarat dengan visi dan misi dakwah.

Secara jujur, saat ditemui crew eMHa di kantornya, Lembaga Seni dan Budaya, lantai III Gedung Dakwah Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pria yang mendirikan Teater Ketjil bersama Arifin C Noer ini mengatakan, “Kalau dulu mungkin asal menghasilkan uang”. Baginya, saat ini uang bukan lagi segalanya dalam setiap membuat film.
Selesai memfilmkan ulang TitianAA Serambut Dibelah Tujuh (TSDT) pada 1982, sejak itulah diputuskan hanya akan membuat film dengan tema-tema Islami. Karena hal itu lebih dekat dengan dunianya/masalahnya. Kalau tema-tema lain yang pernah dibuat, menurut sineas yang pertama kali menjadi assisten sutradara film tahun 1973 ini, hasilnya tidak bagus.
Sutradara peraih Piala Citra 1992 di Ramadhan dan Ramona pun mengaku, motif awalnya hanya sekedar menciptakan film yang komunikatif kemudian motifnya mulai bergeser yakni membuat film bertemakan dakwah. Sampai kemudian film Al-Kautsar menjadi film religius pertamanya. Dalam film itu WS Rendra bermain. Konon, di film inilah Rendra menemukan kebenaran pada Islam. Lewat pergulatan batin, Mamang menemui proses panjang untuk melahirkan film tersebut.
Kabar terakhir, sutradara senior bertubuh tambun ini mendapat tawaran bagus untuk menyutradarai sebuah film yang diangkat dari dwilogi novel Ketika Cinta Bertasbih (KBC). Menurutnya, membuat film ini bukan beban. Prinsipnya, hanya menjalankan tugas sebaik mungkin, menjalankan konsep film ini agar indah dan komunikatif.
Ketika kecil, mantan wartawan majalah Ekspres ini tidak pernah berpikir kalau suatu saat akan menjadi pekerja seni (sutradara). Sebab ia paling tidak suka kesenian, sampai akhirnya ia mau main sandiwara karena dipaksa guru. Perjalanan karir seninya dimulai saat aktif berteater di bangku kuliah dan bergabung dengan Bengkel Teater.
Menjadi sutradara film-film religius, memang tidak terlepas dari latarbelakang kehidupannya. Peraih penghargaan pada Festifal Film Asia 1977 di film Al Kautsar ini  berasal dari sebuah keluarga muslim yang taat di daerah Tegal, Jawa Tengah. Ibunya seorang mubalighat. Mamang kecil sering dibawa serta ibunya berceramah agama di daerahnya. Ia seringkali melihat gerak-gerik ibunya ketika berada di atas podium menyampaikan ceramah agama. Inilah yang memberikan inspirasi kepada Mamang ketika ia kemudian menjadi sutradara film.
Harapannya terhadap film KCB yang sedang digarap ini dapat diterima masyarakat. Jangan dilihat siapa yang buat atau siapa pemainnya, tetapi karena ceritanya mampu mengajak penonton untuk menjadi orang lebih baik. “Saya berharap setiap karya saya bakal membawa perubahan yang lebih baik kepada penontonnya. Karena itu, saya melakukan pekerjaan untuk ibadah”, ungkapnya. Ia sangat optimis film ini akan sukses, mengingat tema religi terutama Islam sangat diminati.{Weny}
Hits: 4453
Comments (0)add
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger

busy
You are here