

“Selama ada kemauan, Allah pasti akan membuka pintu untuk mendapatkan jalan yang dicita-citakan.”
Pepatah ini melekat kuat di lubuk hati Mohammad Zaki (21), mahasiswa jurusan Teknik Informasi Universitas Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta. Dengan spirit itulah, Zaki, panggilan akrabnya, memberanikan diri merantau ke Jakarta dengan harapan bisa mengubah hidupnya.
Kampung Singotrunan, Banyuwangi tempat ia dibesarkan tak kuasa menahan kebulatan tekadnya untuk merantau. “Niat saya ke Jakarta adalah untuk mengejar beasiswa di Sekolah Tinggi Administrasi Negara Mandala Indonesia (STAMI) cabang LP3I,” kata anak kedua dari lima bersaudara dari pasangan Basyir Amari dan Suprihartini ini.
Zaki menceritakan, setibanya di Jakarta dia bertandang ke kantor PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya 62. “Sewaktu masih di Banyuwangi, saya aktif di IPM,” terangnya sambil mengatakan bahwa ia pernah diamanati sebagai salah satu Ketua Bidang di IPM Banyuwangi tahun 2004- 2006.
Dalam ceritanya pula, karena beberapa alasan beasiswa yang ia harapkan sejak awal urung diraih. Akan tetapi, dia tidak mau menyerah lalu pulang kampung, ia tetap bertekad mnegadu nasib di Jakarta. Atas anjuran seniornya, dia diminta bekerja sebagai Sekretaris Eksekutif di DPP IMM. “Pekerjaan ini saya laksanakan dengan sepenuh hati. Tapi saya harus tetap melanjutkan studi ke Perguruan tinggi,” kenangnya dengan penuh semangat.
Tahun 2008, Zaki bertekad merealisasikan niatnya yang sempat terpendam melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi, dan Jurusan Teknik Informatika UHAMKA adalah pilihannya. “Saya bercita-cita menjadi pengusaha bidang Teknologi Informasi pasca kuliah,” katanya beralasan. “Alhamdulillah, orang tua di kampung terus mendukung dan berdoa agar saya sukses.”
Akan tetapi Zaki dihadapkan pada masalah biaya kuliah yang relative besar. Untungnya ia teringat dengan LAZIS Muhammadiyah yang memiliki program 1000 Sarjana. “Saya kemudian mendatangi kantor LAZIS Muhammadiyah untuk menanyakan persyaratannya,” tuturnya
Setelah memenuhi berbagai macam kriteria yang ditetapkan Lazis Muhammadiyah, Zaki akhirnya mendapatkan beasiswa bantuan operasional pendidikan sampai selesai, dengan catatan harus tepat waktu dalam menyelesaikan studi. “Alhamdulillah, niat awal saya ke Jakarta yang sempat tertunda selama dua tahun sekarang bisa direalisasikan,” ucapnya dengan bangga.
Zaki menjelaskan, beasiswa Lazis Muhammadiyah berbeda dengan beasiswa dari lembaga pada umumnya. Di Lazis Muhammadiyah, sang penerima beasiswa, tarang Zaki, dididik untuk lebih mandiri, semua potensi harus disalurkan terutama bidang akademik dan organisasi. “Yang lebih penting, kita dituntut untuk menyelesaikan kuliah sesuai waktu. Jadi kita harus disiplin agar tidak terlena,” ujarnya.
Kepada teman-teman yang senasib dengan dia, Zaki berpesan jangan putus asa. “Selama ada kemauan, Allah pasti akan membuka pintu untuk mendapatkan jalan yang dicita-citakan,” katanya berpetuah. Sementara untuk LAZIS Muhammadiyah yang telah mambantunya, ia berharap semoga bisa memperbanyak program 1000 sarjana, agar banyak pemuda-pemuda Indonesia yang terselamatkan dari ancaman putus sekolah.
Sebagai bentuk rasa terima kasih kepada LAZIS Muhammadiyah, Zaki berjanji suatu saat akan membantu dan mengabdi di lembaga yang membantunya tersebut. “Harus ada timbal balik antara si penerima beasiswa dengan Lazis Muhammadiyah,” pungkasnya. (Weny)
| < Prev | Next > |
|---|