HIDUP bagai roda, kadang di atas kadang di bawah! Kenyataan seperti ini lah yang dialami oleh Salam. Seorang kepala keluarga yang berusaha dengan gigih memperjuangkan ekonomi keluarganya. Dia pernah merantau ke beberapa kota hanya sekedar untuk mempertahankan hidupnya. Dari menjadi buruh bangunan sampai tukang pijat keliling. Di titik rantaunya ketika kota Jakarta menjadi tujuan rezekinya mencari sesuap nasi.

Saat masih lajang sebagai buruh bangunan di Jakarta, ia hanya bermodalkan ijasah SD. Tanpa basa basi, ia pun menawarkan dirinya menjadi kuli bangunan meski tidak perlu memperlihatkan ijasah lusuhnya karena sudah lama tidak terpakai.
Kemudian pucuk di cinta, ulam tiba, ia pun akhirnya bertemu dengan Komariah, sampai mereka resmi menikah di tahun 1989. Pasangan itu dikaruniai dua orang putra, M.Saeful Rizal dan Rizki Dwi Saputra. Kerja sebagai buruh bangunan pun masih di jalaninya. Hingga dalam kondisi terjepit sekalipun, ia bahkan sempat mengganti pekerjaannya sebagai tukang pijat, meski keahlian itu ala kadarnya. Sampai akhirnya pada tahun 2002 bapak Salam memutuskan untuk kembali ke kampungnya di Ciamis sambil memboyong anggota keluarganya.
Meski hidup di kampung yang pada umumnya penghasilan masyarakat dari bertani, keluarga bapak Salam tidak memiliki tanah garapan. Sehingga ia hanya menjadi buruh tani. Penghasilan tambahannya mulai muncul ketika tahun 2004 saat keluarga Salam bergabung dalam kelompok pengajian Al-Barkah, pimpinan ibu Hamidah (istri ketua PCM). Kelompok Al-Barkah adalah sekelompok pengrajin sale yang mengolah buah pisang menjadi bahan mentah goreng sale.
Semula hanya usaha sampingan, kelamaan malah menjadi pekerjaan pokok keluarga Salam. Setelah dapat bantuan dari bahan baku (buah pisang) kepada kelompok pengajian yang diikuti keluarga Salam. Selanjutnya keluarga Salam mengolah bahan baku itu menjadi makanan yang lezat, nikmat dan bergizi, yaitu Sale.
Anggota kelompok yang mendapat bantuan dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah  (PCM) Banjarsari melalui Baitul Mal Muhammadiyah Banjarsari atas bantuan modal LAZIS Muhammadiyah. Dari jumlah anggota 74 orang yang mendapat bantuan BMM 12 orang. Sedangkan jumlah pinjamannya variatif antara Rp. 300.000  Rp. 500.000. Kini bapak Salam menjadi penghimpun bahan baku pisang sehingga manfaat yang dirasakan pengguna bantuan lainnya, mereka dapat membeli buah pisang pada bapak Salam secara tunai. Hal ini berdampak positif terhadap kelancaran usaha bapak Salam tersebut.
Untuk memperlancar usahanya dalam mencari bahan baku (buah pisang) bapak Salam yang hobi main ebeg (kuda lumping) ini sekarang tidak lagi menggunakan sepeda engkolnya tapi sudah mengunakan sepeda motor yang didapat dari mencicil/kredit sisa penghasilannya.
Kehidupannya yang serba cukup itu, kini tidak terlepas dari usaha yang dijalaninya sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab. Salam sekarang tidak berbeda dnegan Salam beberapa tahun lalu. Baginya yang selalu berprinsip bahwa hasil itu adalah buah penciptaan, jadi cari tahu, jalani serta berusaha memenuhi apa maunya Sang pencipta.
Keluarga Salam tinggal di RT.RW 28/05 Dusun Padomasan, Desa Purwasari Kec. Banjarsari Kabupaten Ciamis Jawa Barat, yang menjadi salah satu dari beberapa kelompok usaha kecil yang cukup berhasil sehingga mampu membalikkan kondisi ekonomi keluarganya, dari bawah berubah di atas. Mampukah kita mengikuti jejak keluarga Salam? {Weny}