Setiap dua bulan sekali, pak Iwan (49 tahun) membawa Yunita yang baru berusia 4 tahun ke rumah sakit Islam Jakarta Cempaka Putih (RSIJ Cempaka Putih). Putri tercintanya telah divonis menderita penyakit talasemia. ImageYaitu, penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang menyebabkan gangguan reproduksi sel darah merah pada sumsum tulang belakang. Sedangkan salah satu dokter di RSCM, Yunita didiagnosa mengalami asma.

Saat ini, putri pertamanya sedang dirawat di kamar melati RSIJ Cempaka Putih. Saat crew eMHa berkunjung, Yunita yang belum duduk di bangku TK ini telah menghabiskan 4 kantong darah. Selepas bekerja sebagai tukang bangunan harian lepas di RSIJ Cempaka Putih, Pak Iwan dan istrinya bergantian menunggu. Image

 Pria bertubuh kurus ini menuturkan, sejak 3 tahun lalu pengobatan anaknya telah dibantu oleh LAZIS RSIJ Cempaka Putih. “Dari umur satu tahun anak saya dibantu,” ungkapnya. Setelah selesai berobat, ia selalu menghadap pak Slamet (seorang dari pengelola LAZIS). “Walaupun susah, anak harus tetap sehat,” ujarnay penuh optimis. Selain itu yang membuat orangtua ini berbangga hati pada putrinya itu bahwa ia termasuk anak yang cerdas dan rajin.

 Iwan merupakan tulang punggung bagi keluarganya. Setamatnya di bangku STM Budi Utomo jurusan listrik (L1), ia banting tulang guna meringankan beban orangtuanya yang sakit-sakitan. Dari mulai menjadi kernet, tukang sayur di pasar induk, buruh panggul, hingga tukang parkir ia tekuni. Hingga akhirnya, pengabdian ayah dua anak ini merelakan penuh bekerja untuk RSIJ Cempaka Putih. Sampai-sampai pria paruhbaya ini terlambat menikah karena terlampau asik bekerja keras. Ketika itu, ia menikah di umurnya yang ke-45 tahun sedangkan istri umur 23 tahun.

 Pada awal tahun 2005, ia masih numpang dengan orangtua. Gajinya yang pas-pasan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Sungguh berat ujian yang dirasakan keluarga Iwan. Bahkan pak Iwan, terpaksa harus menggadaikan sebagian gelang, cincin, kalung serta harta lainnya untuk menambah biaya pengobatan.

 “Betapa berat rasa hidup ini untuk sekedar membeli obat,” ungkapnya dengan lirih. Alhamdulillah, berkat bantuan yang diberikan oleh LAZIS mereka masih bisa bersyukur kepada Allah SWT karena anaknya bisa terus berobat. Walau hidupnya sangat sederhana, nuansa musyawarah untuk mengambil setiap keputusan selalu pak iwan lakukan. “Saya selalu membicarakan setiap masalah bersama istri untuk melakukan sesuatu,“ ungkapnya sambil tersenyum sipu.

 Sampai sekarang pak Iwan tidak pernah putus asa. Ia terus berusaha melakukan apapun untuk pengobatan putrinya yang manis. Uluran tangan para dermawan sangat diharapkan bagi kesembuhan putri tercintanya tersebut. (San/wen)