
“UNIT KLINIK KULIT DAN KELAMIN”, tertulis di atas pintu salah satu ruangan yang ada di lantai tiga Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Dr Herman Cipto, Sp. KK, adalah penghuni ruangan berukuran empat kali lima itu.
Pak Herman, panggilan akrabnya, setiap hari bisa menerima hingga puluhan pasien. Ia pun tidak pernah merasa jenuh dan bosan. Dengan penuh kesabaran, dokter berkaca minus ini melayani dan mendengar setiap keluhan pasien. ” ini adalah bagian dari tanggung jawab profesi saya, mas”, ujarnya saat menerima crew eMHa di tempat kerjanya. Inilah gambaran dari citra diri seorang dokter profesional yang berdedikasi.
Berdiskusi dengan Pak Herman, banyak memberi inspirasi baru. Walau disampaikan dengan bahasa sederhana, setiap ungkapannya mengandung makna yang cukup mendalam.
Dan hebatnya lagi, sahabat eHMa, ternyata Pak Herman memiliki kepekaan sosial yang sangat tinggi. Kepekaan itu tergambar saat ia berkomentar tentang zakat. Dalam pandangan pria kelahiran Siak, 14 Maret 1948 ini, zakat adalah bentuk tanggung jawab sosial umat Islam dalam konteks habblumminannas. “Selain untuk membersihkan harta, zakat adalah wujud kepedulian kita terhadap sesama”, tegasnya dengan penuh semangat.
Satu hal yang merisaukan beliau adalah fakta bahwa pengelolaan zakat di Indonesia belum memberi dampak signifikan terhadap kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Dengan analogi sebagai ”zakat yang berkembang”, Pak Herman berpandangan bahwa zakat harus dapat mendorong fakir miskin untuk mandiri dan berusaha. ” zakat harus bisa merubah orang miskin agar tidak miskin lagi”, tegasnya.
Lebih lanjut, beliau menukilkan sebuah riwayat. Pada zaman nabi, ada seorang fakir-miskin yang meminta-minta, lalu Rasulullah memerintahkan orang tersebut untuk mencari kayu di hutan dan menjualnya ke pasar. Dan mereka pun mendapatkan uang dengan keringatnya sendiri. ”Untuk itulah, membantu fakir miskin seyogyanya dengan cara memberi kail dan tidak memberi ikannya”, tambahnya.
Bagi dokter yang juga mengajar di Universitas Indonesia ini, hak delapan asnaf harus dibagi secara adil, tidak dihitung secara matematis yang semua asnaf mendapat seperdelapan. Adil lebih dimaknai sebagai skala prioritas. Dan Ia pun menekankan agar prioritas utama penyaluran zakat diberikan kepada fakir miskin.
Keyakinan akan peran besar zakat tersebut, telah menggugah kesadarannya untuk selalu mengeluarkan zakat setiap saat. ” kalau memang zakat sudah mencukupi untuk dibayarkan. Ya, harus segera dibayarkan”ujarnya.
Ketua Perdoksi (Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia) DKI Jakarta ini tidak mempersoalkan apakah zakat bisa memotong pajak atau tidak. Sebab baginya mengeluarkan zakat adalah bagian dari kesadaran diri dan tuntutan agama.
Semenjak LAZIS Muhammadiyah berdiri, tahun 2002. Dr. Herman telah mempercayakan zakatnya secara penuh kepada lembaga ini. Selain berzakat, dokter yang memiliki motto ”mencari kebahagiaan dunia dan akhirat” ini terbilang sosok yang aktif untuk ber-infaq. Dalam pandangannya, infaq dan shadaqah memiliki kedudukan yang sama tinggi dengan zakat. Bila perlu, jumlah infaq harus mencapai 20 persen dari total harta yang kita dimiliki. ”Seruan ini membawa implikasi sosial yang tinggi”, tuturnya penuh yakin.
Diakhir pembicaraan, Beliau mengajak para orang kaya (aghniya) untuk sadar bahwa dibagian hartanya, ada hak kaum dhuafa yang harus dibagikan secara adil. “Beramal haruslah tulus ikhlas, jangan ada kepentingan lain karena pahalanya akan hangus,” himbaunya.
Dokter yang pernah melakukan riset di Thailand dan Jepang ini, tidak lupa berpesan kepada LAZIS Muhammadiyah untuk mempertahankan sikap profesionalitas dan amanahnya sebagai amil. ”karena dengan itulah, setiap muzaki akan senantiasa untuk setia”, pungkasnya.(San/Weny)
| < Prev | Next > |
|---|