Yogyakarta – Ketua PP Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir menyatakan bahwa keprihatinan akan nasib pasar tradisional yang terdesak oleh berkembangnya pasar modern juga berkaitan erat dengan umat Islam di Indonesia.

Pada acara yang bertajuk  “Dongeng Perubahan; Terpinggirkannya Pasar-Pasar Pinggiran” yang berlangsung di Aula Gedung PP Muhammadiyah Jl Cik Di Tiro Yogyakarta, Rabu (17/06/2009) tersebut Haedar menyatakan bahwa umat Islam harus mengakui bahwa ranah ekonomi dan wirausaha merupakan bagian yang terlantar saat ini.

 “Secara individu boleh jadi saat ini hadir para wirausahawan yang tangguh, tetapi secara kounitas dan jamaah kelompok muslim tampaknya masih berada dalam posisi pinggiran dalam percaturan ekonomi lokal maupun nasional.

Lebih lanjut Haedar menyatakan bahwa sebenarnya dahulu dalam tradisi komunitas Muslim Indonesia, juga tumbuh etos ekonomi wirausaha. Kantong-kantong muslim santri di Pekalongan, Yogyakarta, Surakarta, Klaten, Garut, Tasikmalaya, Majalaya, Padang Panjang atau Makassar terlah menunjukkan sejarah kesuksessan wirausaha muslim di tanah Air.

Karena itu menurut Haedar jika tidak ada perubahan orientasi berfikir dan tindakan yang fundamental untuk keluar dari ketertinggalan ekonomi itu maka tampaknya sulit dicapai perkembangannya baru dalam bidang satu ini.

Jalan Kebangkitan

Disisi lain, menurutnya kebangkitan ekonomi syari’ah di lngkungan umat Islam mungkin memberikan spirit baru untuk membangun kesadaran ekonomi umat. Namun  diharapkan ekonomi Syariah tidak sekedar berhenti pada bangunan ekonomi berbasis norma.

”Perlu  diproyeksikan dan ditransformasikan dengan rangcang bangun kemandirian ekonomi dan pemecahan terhadap problem problem ekonmi umat seperti mengentaskan kemiskinan dan hadirnya kelas mengenah umat yang kuat.” terangnya.

 Sementara kehadiran model waralaba yang pro-kapitalisme ke pelosok daerah kini bahkan dapat mematikan ekonomi informal masyarakat seperti warung-warung kecil yang sangat menjadi topangan bagi ekonomi kelas menengah kebawah.

“Karena itu perlu ikhitar membangjkitkan etos dan model kewirausahaan yang lebih gigih dan meluas sehingga dapat menjadi topangan bagi kemandirian ekonomi masyarakat dan tumbuhnya kelas menengah santri yang kuat” lanjutnya.

Acara ini berlangsung atas upaya Majalah Suara Muhammadiyah bersama Al Ma'un Institute. Setelah paparan Haedar, acara dilanjutkan Talkshow yang menghadirkan H. Idham Samawi (Bupati Bantul) dan Dr. Musya Ashari (Staf Ahli Menkominfo). Kemudian acara dilanjutkan duet Garin Nugoroho dan Franky Sahilatua yang membawakan orasi dan lagu – lagu balada berisi kriti sosial. (arif)

Facebook Fanbox 1.5.x.0
Follow us on Twitter