
H.Ibrahim Anwar Nangasan, S.Ag, salah satu tokoh pejuang Muhammadiyah di Papua,. Ia melanjutkan perjuangan Ibrahim Bauw putra daerah yang mendirikan Muhammadiyah di daerah Papua 25 tahun silam. Berkat kegigihan di Muhammadiyah di Papua berkembang sekalipun jumlah umat islam minoritas menjadi salah satu kendala. Masalah tanah wakaf untuk amal usaha Muhammadiyah juga merupakan masalah. Karna untuk bisa mendapatkan tanah di Papua harus ada tiga syarat. Kejelasan pemilik tanah,sertifikat dari Dinas Agraria dan Pelepasan Adat,bila ketiganya tidak ada maka tanah tidak bisa dipakai untuk mendirikan bangunan.
PWM Papua membawahi 8 PDM yakni PDM kota Jayapura,Keerom,Biak,Kab. Jayapura,Nabire,Mimika, Wamena dan Merauke. Gerakan dakwahnya berhadapan langsung dengan misionaris dilapangan,namun mereka tidak pernah mengalami konflik,karna masing-masing memilaki lahan garap yang berbeda. “kami tidak pernah bersinggingan secara langsung,” ujar ketua PWM Papua periode 2005-2010 ini.
PWM Papua memiliki amal usaha di bidang pendidikan dan kesehatan. TK ada 10 buah,SD 4 buah,SMP 3,SMA ,STIKOM 1 buah,Poliklinik 2 dan Pantiasuhan 4 dan Masjid Muhammadiyah 4 buah. “ke depan PWM Papua akan mendirikan Rumah Sakit,” tambahnya.
Peristiwa bersejarah bagi Papua adalah adanya pemekaran wilayah. Pada bulan Februari 2007 lalu berdiri Wilayah Irjabar (Irian Jaya Barat). Karna itu dalam muswil Muhammadiyah merekomendasikan untuk Irjabar ketua PWM-nya H.Muh Ridwan.
Sekarang ini pandangan putra daerah terhadap Muhammadiyah baik. Mereka netral dan cukup toleran terhadap Muhammadiyah,termasuk dari kalangan yang berfaham non islam. Misi kristenisasi di Papua sudah mulai surut,karena sudah banyak putra daerah yang beragama islam. Meski demikian Gerakan Muhammadiyah di Papua hingga sekarang masih memiliki hambatan dan kendala. Antara lain,transportasi. Karena wilayahnya sangat luas terdiri pegunungan dan hutan rimba, maka untuk menuju satu daerah kedaerah yang lain hanya bisa di tempuh dengan Kapal Laut dan Pesawat Udara. Ini butuh biaya tinggi,sementara dana yang dikelola oleh PWM sangat terbatas. Sekalipun demikian pimpinan Muhammadiyah di Papua tidak pernah surut dalam berjuang. Bahkan sekarang Muhammadiyah sudah masuk keseluruh kabupaten dan kecamatan serta daerah-daerah Trans.
Pasca Tanwir Muhammadiyah di Yogyakarta, PWM Papua akan melakukan sosialisasi hasil keputusan ke PDM,PCM dan Ranting. “Muhammadiyah di Papua tumbuh dari atas bukan dari bawah,jadi harap maklum bila tidak sesuai dengan kaidah karena kondisional. Sekalipun damikian kami akan tetap mengembangkan Ranting Muhammadiyah di seluruh Papua dengan dakwah yang sejuk,agar tidak terjadi konflik dengan putra daerah. Selama ini konflik kecil terjadi selalu diselesaikan oleh tokoh-tokoh agama yang difasilitsi oleh pemerintah setempat. Alhamdilillah pada tahun 2002 yang lalu telah dicetuskan “Declarasi Zona Damai” yang diwakili oleh masing-masing tokoh agama, ujar Penasehat MUI Jayapura ini.
Sementara untuk membiayai aktifitas Muhammadiyah,seluruh Majelis akan diberdyakan. Kami melakukan kerjasama dengan lembaga lain dan memajikan koprasi simpan pinjam Muhammadiyah yang sudah berdiri bebrapa tahun lalu. Misalnya untuk membantu para pedagang kecil menengah, mengembangkan bengkel motor dan grosir minyak pelumas yang dikelola oleh Muhammadiyah yang saat ini berkembang pesat di Papua,” tuturya.
Untuk dakwah di daerah konflik, Muhammadiyah pro aktif dalam penyelesaian konflik dan Isu Papua merdeka sekarang yang sudah mereda. Banyak orang simpati pada Muhammadiyah, karena dakwah Muhammadiyah mengtamakan kedamaian dan kesejahteraan sosial serts membantu putra daerash dalam memajukan kualitas pendidikannya.
Papua merupakan obyek dakwah yang paling potensial disbanding dearah lain di Indonesia,karena itu kami selaku ketua PWM Papua mohon PP Muhammadiyah agar memberikan droping mubaligh atau da’I yang sejuk dan yang mampu memahami kondisi daerah di Papua dalam rangka mengembamgkan Mihammadiyah di bumi Cendrawasih.
| < Prev |
|---|