Yogyakarta. Kota tempat berdiri tegak Kraton Kasultanan Yogyakarta sekaligus dikenal sebagai ibukota Muhammadiyah ini adalah kota perjuangan, kota pelajar, kota budaya dan kotanya para seniman.
Dua tahun lalu, daerah istimewa yang indah nan damai ini digoncang gempa bumi hingga berubah luluh lantak. Ribuan nyawa meninggal dan puluhan ribu rumah ambruk. LAZIS Muhammadiyah menurunkan bantuannya bersama MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) dengan melibatkan ribuan relawan lokal dari kota bahkan propinsi lain.

LAIN halnya dengan Pak Muslim (33), dengan 3 orang anak, seorang istri dan seorang ibu. Sekian lama ia menggeluti usaha penjualan asessoris anak dan wanita, namun usahanya tak kunjung berkembang. Mungkin karena keuntungannya yang kecil dan harus memenuhi tuntutan kebutuhan hidup yang begitu besar, sehingga usahanya hanya berjalan di tempat. “Hari ke hari barangnya itu-itu aja mas…”, begitu ia berkisah. Mungkin pula karena ilmu manajemennya yang terbatas, tapi penghargaan besar patut kita berikan karena ia tak banyak mengeluh apalagi berputus asa. Ia terus berjuang untuk menghidupi keluargannya.
HARUN, pria kelahiran Pamulang 36 tahun silam ini awalnya berprofesi sebagai karyawan pada sebuah restoran bakmi di kawasan pamulang. Sekitar tahun 2003, istrinya diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ditempatkan di daerah Rajeg, kabupaten Tangerang.