www.lazismu.org

FILOSOFI DIBALIK PERINTAH BERDERMA

Islam adalah agama yang punya kepedulian sosial yang sangat tinggi, sekalipun umatnya sering benar-benar menyimpang dari prinsip ini. Dalam kajian saya menemukan bahwa Islam sangat pro orang miskin, tetapi pada waktu yang sama bersikap anti kemiskinan.

Tampaknya kesimpulan yang semacam ini seperti mengandung sebuah paradoks, sebenarnya tidak begitu. Mengapa? Karena dalam Al-Qur’an tidak ada perintah agar orang menerima zakat, infaq dan shodaqoh. Justru yang diperintahkan adalah agar mengeluarkan zakat, infaq dan shodaqoh. Artinya orang miskin haruslah bersifat sementara, mereka tidak boleh dan tidak layak berlama-lama berkubang dalam kemiskinan, kelemahan dan hidup dibawah belas kasihan orang lain.

Oleh sebab itu kemiskinan haruslah dihalau sampai kebatas-batas yang jauh, sehingga manusia meraih kemerdekaan dan martabat sejati sesuai posisinya sebagai khalifa  Allah dimuka bumi. Namun sepanjang sejarah umat manusia, kemiskinan adalah sebuah realitas, maka masalah zakat, infaq dan shodaqoh akan tetap relevan untuk dikaji, agar lebih berdaya guna, sebagaimana yang akan kita telusuri lebih jauh.

Alqur’an tentang zakat, infaq dan shodaqoh

Disampin sholat yang tersebut sebanyak 95 kali dalam al-Quran, sementara zakat, infaq dan shodaqoh masing-masing sebanyak 32,76 dan 14 kali. Kewajiban sholat dan zakat, baik dalam bentuk perintah maupun dalam kalimat afirmatif, pada 26 ayat disebutkan dalam satu tarifan nafas. Shodaqoh dalam makna zakat kita jumpai dalam tiga ayat: 60,103, 104, semuanya dalam surat At-Taubah. Dengan demikian dengan demikian, perintah zakat, infaq dan shodaqoh punya landasan yang kyat dalam al-Qur’an, Belem lagi dalam sunnah nabi yang jumlahnya banyak sekali. Persoalan yang terpampang didepan kita hádala kenyataan bahwa diktum tentang harta yang punya fungís social itu maíz kurang sekali dihiraukan oleh Amat Islam sepanjang masa. Maka tidaklah mengherankan ada diantara mereka berpaling kepada marxismo sebagai solusi untuk mempersempit jurang social ekonomi yang menganga. Teori-teori radikal tentang keadilan dan kemiskinan tidak begitu berkembang dikalangan pemikir muslim, padahal al-Qur’an telah menyediakan landasan teologis yang berjibun.

Coba kita ikuti sebentar ayat 103 surat al-taubah yang maknanya adalah: “ Ambillah zakat (shodaqoh) dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah [ hai Muhammad] untuk mereka. Sesungguhnya do’amu itu memberikan kenyamanan (sakanun) bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar, Maha mengetahui.” Perintah “ambillah” (khudz) dalam ayat ini mengisyaratkan pemerintah dapat saja memaksa orang yang sudah wajib zakat untuk mengeluarkan zakatnya, sesuai dengan ketentuan agama.

Dalam tafsir disebutkan bahwa ayat ini sebenarnya berkaitan dengan orang yang yang telah mengakui kesalahan dan dosanya, maka dengan berzakat dosa dan kesalahan itu akan dapat dibersihkan. Bahkan mereka dapat meraih martabat orang-orang ikhlas yang sarat dengan kebajikan (hatta yartafi’u biha ila maratib al-mukhlisin al abrar). Denagn demikian pendosa yang sadar akan kesalahannya, lalu taubat dan mengeluarkan zakat, maka Allah akan mengampuni  dosa dan kesalahnnya itu. Ayat 104 lebih menegaskan masalah ini: “ Alam ya’lamu anna Allah huwa yaqbalu al-taubata ‘an ‘ibadihi wa yakkhudzu al-shodaqoti wa anna Allaha huwa al-tawwabu al-rahim.

Perintah sholat yang bergandengan dengan perintah zakat, a.l. kita kutip : ”Faaqimu al-sholata waatu al- zakata wa’tashimu billahi huwa maulakum. Ada lagi pesan al-Qur’an tentang sholat dan zakat kepada kelompok yang sudah mapan, kita kutip artinya: “ Orang-orang yang telah Kami beri kedudukan dibumi, mereka melaksanakan sholat, membayar zakat, dan menyuruh berbuat baik dan mencegah kemungkaran. Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”.

Tujuan berzakat, berinfaq dan bershadaqah, semata-mata untuk ‎kepentingan yang bersangkutan, bukan untuk Allah, sebab Allah itu Maha Kaya, tidak ‎memerlukan apa pun dari makhluk ciptaannya. Allah sangat tahu bahwa manusia itu ‎egois, oleh sebab itu semua amal yang dikerjakannya semata-mata untuk kepentingan ‎dirinya, baik di dunia maupun di akhirat kelak.‎

Ayat tentang infaq dibawah ini menjalaskan pertambahan rezki yang diberikan Allah ‎kepada para dermawan yang artinya : “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya ‎dijalan Allah adalah ibarat sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangki, pada setiap ‎tangki terdapat 100 biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan ‎Allah Mala Luas, Maha Mengetahui.”‎ ‎ Dalam sebuah hadist riwayat muslim dikatakan : ‎‎“Ma min yaumin yushbihu al-‘ibadu fihi illa al-malakani yanzilani, fayaqulu ahaduhuma ‎‎: allahumma a’thi munfiqan khalafan, wa yaqulu al-akharu : allahumma a’thi mumsikan ‎talafan”‎ ‎. Talafan artinya “kebinasaan”. Islam memang mengutuk mereka yang kikir-‎kedekut, sekan-akan keringat orang lain tidak berperan bagi penambahan kekayaannnya. ‎Banyak contoh, seorang pembantu di rumah orang kaya, misalnya, tidak jarang diberi ‎upah yang tidak seimbang dengan tenaga dan waktu yang ia berikan. Sebagai manusia tak ‎berdaya, hidupnya senantiasa dirundung penderitaan dan ketidakberdayaan ditengah-‎tengah sebuah keluarga kaya tetapi tuna-kemanusiaan.‎

Ancaman yang dramatis ditujukan kepada siapa saja yang tidak mau berinfaq dijalan ‎Allah, lagi-lagi kita baca dalam surat al-Taubat, yang artinya :” … dan orang–orang yang ‎menyimpan emas dan perak dan tidak mengeluarkan infaq di jalan Allah, maka ‎beritakanlah kepada mereka akan azab yang pedih. [Yaitu] pada hari yang dipanggang ‎‎[harta-harta] itu atas neraka jahannam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan ‎punggung mereka [seraya dikatakan] kepadamereka : itulah harta bendamu yang kamu ‎timbun untuk dirimu sendiri; lantara itu rasakan [akibat] dari apa yang kamu timbun itu”.‎

Memang ngeri ancama ini, tetapi jangan mengakibatkan kita takut menjadi kaya, sebab ‎kekayaan itu menurut Al-Quran adalah karunia Allah (min fadhli Allah) yang harus kita ‎cari. “apabila shalat [jum’at] telah dirampungkan, maka bertebaranklah kamu dimuka ‎bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu ‎beruntung.”‎

Mengingat Allah disini agar kita tidak lupa daratan, tidak lupa lautan, harta yang dicari ‎sebagai sarana untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna. Ada dimensi ‎transenden disini dengan prinsip ini, diharapkan seorang beriman tidak akan pernah ‎kehilangan kompas dalam perjalanan hidupnya. Bahagia disini, bahagia disana. Usia ‎manusia sangat terbatas. Mau tidak mau, dunia  ini harus kita tinggalkan, lambat atau ‎cepat. Tidak ada kekuatan apapun yang mampu menghalangi tangan Ghaib untuk ‎mencabut nyawa kita, siapapun kita, apapun kita. Tetapi kita sering benar alpa dalam ‎perkaran yang sangat pasti ini.‎

Perintah zakat, infaq dan shaqah mengisyaratkan agar umat Islam menjadi manusia kaya ‎dalam sebuah ekuilibrium yang proporsional. Kita jangan sampai tenggelam dalam ‎bianglala kehidupan yang penuh pesona. Hidup yang sekali ini tidak boleh gagal. ‎Bertuturlah Iqbal :” tanda seorang kafir, ia hilang dalam cakrawala; tanda seorang ‎mu’min, cakrawala hilang dalam dirinya”.‎

Penutup
Dengan kesediaan mengeluarkan zakat, memberikan infaq dan shadaqah menurut ‎ukurannya, semoga kita tidak akan hilang dalam cakrawala. Harta yang dimiliki semoga ‎akan memudahkan perjalanan kita menuju Allah SWT. Selamat menjalankan ibadah ‎puasa dalam upaya spiritual untuk meraih posisi taqwa. Amin

Add comment


Security code
Refresh

Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah
Jl. Menteng Raya 62 Jakarta Pusat 10340  view on map

T: (+6221) 31 50 400  F: (+6221) 31 432 30 SMS CENTER : +62856 162 62 22  PIN BB : 2777 B 1312

Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

CONNECT WITH US