Filantropi Islam: Mengajarkan Cinta Manusia

Filantropi IslamIstilah filantropi dan filantropi Islam belum memasyarakat di kalangan umat Islam Indonesia. Demikian pernyataan Hilman Latief, MA, Ph.D., dalam mengawali presentasinya dalam acara Interdiscplinary Colloquium bulanan. Acara yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana STAIN Salatiga ini dilaksanakan pada Rabu, 24 Oktober 2012. Acara ini dilangsungkan di aula Kampus Satu STAIN Salatiga dan dibuka oleh Direktur  Program Pascasarjana STAIN Salatiga Dr. H. Sa`adi. Memang isu ini baru mulai popular sekitar satu dekade terakhir.  Meskipun istilah ini sesungguhnya sudah digunakan sejak masa Yunani kuno. Filantorpi artinya “cinta manusia”, yang wujudnya adalah perilaku kedermawanan, dan membangun relasi sosial yang baik antara kaya dan miskin.  Inti dari kegiatan filantropi adalah untuk mendorong terciptaanya kemaslahatan, public good, kesejahteraan bersama, lanjut Hilman yang alumni Utrech University, Belanda.

Filantropi Islam dalam sejarah sesungguhnya sudah muncul sejak Islam lahir 15 abad lampau. Umat Islam mengenalnya dalam berbagai sebutan popular seperti wakaf, zakat, sadaqah, dan hibah. Walalupun filantropi dan praktik berdema sudah berurat berakar dalam tradisi Islam, persoalannya adalah apa sesungguhnya sasaran yangbhendak dicapai dari filantropi Islam? Filantropi Islam seharusnya memiliki sasaran ganda, yakni perubahan individual dan perubahan kolektif. Yang pertama mnengubah individu menjadi manusia peduli, lebih dari sekadar memberi. Dan kedua mengubah tatanan sosial/kolektif untuk membangun kultur tanggung jawab sosial dan kesejahteraan bersama, lanjut Hilman.

Dalam filantropi Islam, hubungan pemberi dan penerima bukan untuk melanggengkan relasi superior-inferior, tetapi lebih pada kemitraan, partnership, sehingga hubungan dalam keseimbangan dan kesetaraan, dan karenanya dapat dihindarkan  pemberian yang disertai dengan pesan-pesan tertentu.  Tetapi memang faktanya hubungan patron-klien terjadi dalam komunitas filantropi, karena kaum pemberi dari kelas menengah memiliki kepentingan untuk memperkuat posisi mereka sendiri. Karena itu, kelompok-kelompok masyarakat sipil juga perlu kritis agar dapat mendorong efektifitas peran dan tanggung jawab negara.

Pengelola filantropi bisa ditangani oleh banyak pelaku, mulai dari Negara dengan   mendirikan dan mengelola Badan Amil Zakat dll, masyarakat sipil seperti pendirian dan pengelolaan Lembaga Amil Zakat, Rumah Zakat, dll, dan dapat pula korporasi atau perusahaan dalam bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Beberapa lembaga Filantropi Islam yang didirikan oleh masyarakat antara lain  Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, BAZNAS, LAZISMU, Infaq Club (Dewan Dakwah), LAZISNU, PKPU, MDMC, dan banyak lagi. Persoalan yang dihadapi umat Islam negeri ini bukan pada jumlah lembaga pengelola filantropi itu sendiri, tetapi apakah dengan meningkatnya kedermawanan umat Islam dapat menjadi pendorong perubahan pada tingkat individual dan kolektif itu. Maka di sinilah letak pentingnya distribusi dan pemanfaatan dana filantropi Islam untuk kesejahteraan sosial, yang antara lain mencakup bidang kesehatan seperti klinik dan RS, dll; bidang pendidikan: sekolah, madrasah, perguruan tinggi; bidang social seperti panti asuhan, bantuan bencana, dll; dan bidang pemberdayaan ekonomi seperti koperasi, dan BMT.

Sebenarnya empat hal di atas merupakan tanggung jawab Negara, namun karena keterbatasan negara untuk memenuhinya, atau negara tidak memiliki kebijakan dan kemauan politik yang berpihak, maka masyarakat perlu mengambil sebagian dari peran dan tanggung jawab negara itu.

Filantropi Islam di Indonesia juga diramaikan dengan proses Islamisasi Corporate Social Respobsibility. Yaitu korporasi atau perusahaan-perusahaan yang memberikan dana CSR kepada lembaga-lembaga filantropi Islam. Dan jumlah dana CSR itu ratusan juta bahkan miliaran rupiah. Masalahnya adalah masih banyak lembaga filantropi Islam tidak memiliki kapasitas membuat program yang sustainable dan akuntabel (dari segi program, pengelolaan, dan pertanggungjawabannya). Dengan kata lain, dana filantropi yang melimpah bukan jaminan makin meningkatnya kesejahteraan masyarakat dan umat apabila lembaga-lembaga filantropi itu sendiri tidak mampu membuat program yang efektif dan efisien. Dana yang melimpah tidak akan berdampak pada pemberdayaan masyarakat jika pengelolaan dan para pengelolanya tidak memiliki kapasitas, transparan dan akuntabel. Demikian pula lembaga filantropi masih mempunyai sejumlah masalah dalam hal pelaporan dan pertanggunjawaban yang kredibel.

Oleh karena itu, agara masyarakat Islam terus dapat meningkatkan kualitas dan manfaat lembaga filantopinya, maka perlu dilakukan upaya untuk memberikan penyadaran, penyuluhan dan pelayanan bagi masyarakat luas. Beberapa hal menjadi agenda bagi pengembangan filantropi Islam adalah: Rekonseptualisasi makna dan cakupan Filantropi Islam; Diseminasi kontribusi Filantropi Islam terhadap perubahan sosial dan penguatan masyarakat sipil melalui pendidikan; Evaluasi dan identifikasi problem-problem sosial ekonomi dalam kehidupan masyarakat; Inovasi pemikiran tentang Filantropi Islam melalui ijtihad berbasis riset; dan mendirikan pusat-pusat studi filantropi.

Terakhir perlu digagas juga bagaimana LSM yang selama ini tidak dipandang sebagai bagian dari lembaga yang mesti memperoleh bantuan filantropi, dapat menjadi mitra filantropi Islam. Mereka selama ini memperoleh dana dari CSR atau  lembaga donor asing. Perlu digagas lembaga filantropi bekerjasama dengan LSM untuk mengatasi problem-problem sosial sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan keahlian LSM yang bersangkutan. Dan pada bidang pendidikan, utamanya di perguruan tinggi Islam perlu digagas dan diprakarsai pendirian dan pengembangan pogram studi filantropi Islam.


Oleh: Dr. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag.

Sumber : Program Pascasarjana STAIN SALATIGA

login

United Kingdom Bookmaker CBETTING claim Coral Bonus from link.