Pendidikan Ulama Kader Tarjih Sulawesi dan Kawasan…08-05-2012 Hits:17 tarjih
Makassar- Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin dijadwalkan akan membuka Pendidikan Ulama Kader Tarjih...
Rakor LAZISMU: Optimalisasi Penghimpunan, Merakit Sinergi Antar Jejaring LAZISMU…
Malang- Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah…
Prospek Da'i Mandiri Di Tengah Krisis Pimpinan…
Ainun Habibie, Dari Ibu Negara sampai…
Yogyakarta- Salah satu faktor pendukung keberhasilan usaha…
 Menghormati Hak Anak dengan Filantropi Bagi anak-anak yang…
 BBM Naik, Bagaimana dengan Zakat Profesi Anda…
  Paradigma Baru Politik Hukum Zakat Muhammadiyah: Reinterpretasi…
 Membaca IKraR Memantapkan LAZ  Menyimak kondisi…
Â
Mas Priyo dan Keadilan yang TertundaTidak banyak orang yang bersedia untuk bersabar selama kurang-lebih sebelas tahun untuk menunggu kembalinya hak...
FILOSOFI DIBALIK PERINTAH BERDERMA Islam adalah agama yang punya kepedulian sosial yang sangat tinggi, sekalipun umatnya sering benar-benar menyimpang...
Â
Di tengah praktik hidup hedonis dan korup elit negeri ini, penting dibaca ulang etos gerakan...
13-02-2012 Hits:340 kolom ABDUL MUNIR MULKHAN
Dalam penafsiran KH Ahmad Dahlan, surat Al-Ma’un (1-7) secara substantive mengandung beberapa pesan. Pertama, orang...
13-02-2012 Hits:465 kolom DRS H MARJOHAN, MM
Kemiskinan Adalah Bencana Kemiskinan, sekalipun telah menjadi Sunnatullah, di samping kekayaan,sebagai penyeimbang, namun pada hakekatnya adalah...
10-02-2012 Hits:601 kolom KH. MU’AMMAL HAMIDY, LC
Â
Makna dakwah memang tidak pernah berubah. Selama dakwah dimaksudkan sebagai ajakan ke jalan Tuhan yang benar.
Â
Namun, tentu saja jalan ke sana, menuju kebenaran itu yang berbeda dari masa ke masa. Sebab, tantangan kebenaran selalu berbeda sesuai dengan berubahnya zaman atau keadaan. Waktu Muhammadiyah didirikan, sebagai Persyarikatan dakwah, zaman itu umat Islam sedang menghadapi tantangan modernitas yang kencang sekali.
Â
Sehingga yang menjadi agenda Islam ialah bagaimana, wahyu dan kehendak Tuhan dapat dibaca dalam era baru keunggulan akal dan perkembangan teknologi. Sehingga, dakwah
Â
meskipun dimaksudkan agar umat tetap dalam garis wahyu, tapi keniscayaan membuka akal sehat dan menerima ilmu pengetahuan pasti harus dipertimbangkan, kalau ingin bersama orang lain memasuki abad kemajuan. Oleh sebab itu, dakwah Muhammadiyah tidak hanya mengingatkan pentingnya menjaga keimanan, tapi dalam menanjaknya era modernitas itu umat jangan sampai menutup diri mengikuti dinamika “Islam kemajuanâ€.
Â
Dalam rangka menangkap ‘dinamika’ itulah, Persyarikatan ini menggelorakan semangat tajdid, bahwa pintu ijtihad harus dibuka dan para pengikut Muhammadiyah jangan pasif menerima pembaruan. Sudah tentu, agar semangat seperti itu bangkit, maka kritik harus dihidupkan. Dengan mekanisme kritik, Muhammadiyah tidak hanya melakukan pemurnian terhadap sumber doktrin, namun praktik agama dalam tradisi juga harus ditinjau kembali. Risiko akibat gerakan pemurnian ini pasti tidak bisa dihindari. Di mana-mana, Muhammadiyah menghadapi konflik, tapi saya kira tanpa keberanian melakukan konflik terhadap tradisi saat itu, pasti sekarang tidak mungkin muncul di kalangan umat Islam Indonesia, sebuah kultur Islam yang lebih bercorak ‘kota,’ yang responsif terhadap kehadiran zaman kemajuan sekarang ini. Sehingga Muhammadiyah dianggap menjadi pelopor “Islam kemajuan†yang memberontak dari tradisi “Islam Agraris†yang sudah mapan dan bertumpu pada basis pesantren di pedesaan. Saya tidak bermaksud membuat masalah jadi simplistik dengan mengungkap kembali seolah-olah ada paradigmatic “tradisionalis†lawan “modernis†dalam dikotomi yang static sehubungan dengan sejarah lahirnya Muhammadiyah saat itu, tapi yang ingin saya tegaskan bahwa keberanian melakukan ‘kritik’ adalah merupakan motivasi yang paling kuat yang menyemangati dakwah gerakan ini, dalam menghadapi kemapanan tradisi. Sesuatu yang menurut hemat saya tidak harus disesali, sama halnya tidak harus menyesali lahirnya Muhammadiyah sebagai konsekuensi zaman modernitas saat itu, yang memang harus mempertentangkan bid’ah dengan kemurnian, rasionalitas dengan kejumudan.
Â
Yang paling membanggakan saya, lebih dari sekedar munculnya “Islam Kemajuanâ€, lahirnya Muhammadiyah juga memunculkan kesadaran lain yang tidak kurang esensialnya bahwa masalah ketersingkiran umat dalam era kemajuan itu juga merupakan bid’ah sosial, menjadi musuh keshalihan yang serius. Oleh karena itu, pesan surah Al-Maa’uun menjadi rujukan Persyarikatan yang paling penting. Menjalankan ibadah atau ritual yang benar, tanpa melakukan santunan
Â
kemanusiaan untuk mereka yang tersingkir dari struktur masyarakat, sama halnya menjadi seorang Muhammadiyah yang tidak sempurna. Sebab idealnya seorang Muhammadiyah adalah akidahnya murni, shalat dan menjalankan puasa dan hajinya sesuai Sunnah, sekaligus ikhlas mau bergiat melakukan amal kebajikan sosial untuk orang-orang miskin, mereka yang terlantar, dan menolong anak-anak yatim.Ini semua menunjukkan betapa Muhammadiyah mempunyai ‘kritik’ yang mendasar, bukan hanya terhadap heterodoksi, namun juga perlunya mengaitkan iman dan keshalihan dengan praksis kemanusiaan yang nyata. Sehingga dakwah, bagi Muhammadiyah memiliki konsep yang lebih luas dari sekedar ‘mengajak’, tapi lebih dari itu adalah komitmen bahwa kesengsaraan umat adalah musuh agama, musuh keshalihan yang sejati.
Â
Apa yang kurang dengan praktik dakwah Muhammadiyah selama ini? Komitmen sosial itu, dalam kurun yang begitu lama telah dipertahankan sebagai model amal usaha Persyarikatan, yang hampir-hampir baku, tanpa kritik, tanpa pembaruan yang berarti. Dakwah, yang terjemahan sehari-harinya adalah amal usaha, di mana-mana menjadi corak yang sama, dengan kualitas bahkan sangat beragam, yang penting dasarnya ikhlas. Zaman sudah jauh berubah. Globalisasi, telah menekan persaingan yang lebih keras, bahkan dalam era mengguritanya pasar ide dan uang ini, Muhammadiyah masih merasa aman dengan rutinitas amal usahanya tanpa merasa resah untuk mengembangkan imaginary, bagaimana bisa menjadi bagian dari eksponen global sekarang ini. Tatkala ekonomi tidak lagi semata-mata dapat dikendalikan oleh negara-bangsa dan pertumbuhannya sangat ditentukan oleh kapitalisme dunia, persoalan orang-orang miskin dan kelaparan, tentu saja tidak dapat dibaca, sebatas melalui analisa-analisa lokal yang mikro sekali. Apalagi, kalau gejala kemiskinan dan orang-orang miskin masih harus dilihat dengan paradigmatik modernitas, seolah-olah orang miskin ya menjadi miskin karena tidak sekolah, malas dan seterusnya dan tidak harus dilihat sebagai sebuah kelas sosial, tentu cara pandang seperti ini tidak mungkin dapat merubah orientasi dakwah Muhammadiyah yang selama ini lebih berat melakukan santunan saja.
Â
Kemiskinan dan keyatiman sosial, dalam era sekarang hanya mungkin dipecahkan akar persoalannya hanya dengan advokasi pemberdayaan. Inilah yang disebut dengan dakwah transformatif, sebuah pendekatan yang berangkat dari asumsi bahwa masalah kemiskinan itu letaknya ada dalam struktur dan bukan soal individu dalam kultur. Dakwah transformative juga percaya bahwa jika orang-orang miskin mempunyai kesadaran kolektif untuk memperjuangkan hak-hak politiknya, tentu suara mereka harus didengar. Dalam kaitan ini, dakwah
Â
kepada kaum masakin tentu bukan dengan ceramah, sekedar menyampaikan ayat-ayat dan membawa sedekah, lebih substansial adalah melakukan ‘penyadaran’, di samping memfasilitasi agar mereka yang lemah ini mempunyai kelembagaan ekonomi, politik dan sosial-keagamaan, miliknya sendiri. Inilah sudut pandang baru, yang seharusnya menjadi kritik mendasar kegiatan dakwah kita selama ini. Sebab kalau tidak, sampai kapan Muhammadiyah akan kuat mempunyai sumber santunan yang cukup untuk menolong orang miskin yang jumlahnya semakin membengkak, tanpa melakukan advokasi pada tingkat kebijakan ekonominya, dan tanpa membuat orang-orang miskin memiliki pemberdayaan untuk memperjuangkan nasibnya sendiri. Saya yakin Muhammadiyah bisa melakukan ini semua, jika orientasi Persyarikatan ini mau berubah tidak hanya menjadi gerakan dakwah kebajikan, tapi jadilah gerakan sosial baru berwatak Islam yang tangguh dalam advokasi (dakwah) mengawal kebijakan publik, baik di pusat maupun di daerah-daerah. Dan surah Al- Maa’uun, sekarang ini mengisyaratkan kita harus melakukan advokasi itu, kalau ibadah kita kepada Allah SwT (biar pun sudah sesuai dengan Sunnah),tidak ingin dikatakan sebagai kebohongan belaka. Allah a’lam
Â
Â
Â
DR. H MOESLIM ABDURRAHMAN
Â
Direktur Al-Maun Institute, Jakarta.
Â
Â
Â
Tulisan ini dimuat dalam : majalah Suara Muhammadiyah, No. 13/Tahun ke- 95 /1 -1 5 Juli 2010.
Â
SERI TANYA JAWAB: SEPUTAR ZAKAT (BAGIAN 4) Pertanyaan: Di daerah kami akan dilaksanakan zakat dengan menggunakan rumus: 1. K –...
SERI TANYA JAWAB: SEPUTAR ZAKAT (BAGIAN 3)Pertanyaan : Adakah kewajiban mengeluarkan zakat hewan ternak selain yang telah disebutkan dalam nash alÂQur’an...
Â
KRITIS UNTUK MELAWAN KEKERASAN TERHADAP PEREMPUANYulianthi Muthmainnah, begitu nama lengkapnya ia dikenal kritis terhadap persoalan kekerasan perempuan. Melihat persoalan perempuan...
TANGGALKAN HAKIM MEMILIH JADI GURUCita-cita menjadi seorang guru tak terbersit dalam hati A. Syarifudin, SH pria asal Jatinangor Jawa...
Â
Zakat : Meretas Kompleksitas Usaha Mikro ZAKAT memang hebat. Ia mampu memberi resonansi dalam aspek pemberdayaan masyarakat, sekaligus memberi kekuatan magnetis...
ZAKAT DAN PEMBERDAYAAN USAHA KECILSelain masalah skill dan wawasan kewirausahaan, sulitnya modal bagi pelaku usaha kecil merupakan hal pokok...
 Income Generating, Inovasi Program  ‘Aisyiyah – LAZISMU Sebagai salah satu organisasi perempuan yang bergerak dalam bidang...
13-03-2012 Hits:132 LAZISMU
 Income Generating, Inovasi…
Pada tanggal 9 September 2011 …
Jakarta (12/9 ) Pengembangan e…
Jakarta (21/3)Â Lembaga Amil …
Â
Kolom CSR
Â
Â
 Â
Â
 ![]()
 Â
 Â
Â
 ![]()
Â
Proposal kemitraan
Â