Eksistensi Ormas Islam sebagai kekuatan dan sekaligus pilar dari masyarakat madani memiliki peran yang sangat signifikan dalam pembangunan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejarah telah banyak mencatat, bahwa jauh sebelum republik ini merdeka, ormas Islam dalam berbagai bentuknya telah menyumbangkan banyak kontribusi hingga negara ini berdaulat.

Namun, perkembangan kondisi kehidupan kita berbangsa, terutama belakangan ini yang ditandai dengan era liberalisasi politik, eksistensi dan peran ormas Islam cenderung semakin hari semakin menurun. Bahkan, tidak sedikit dari ormas Islam baik secara langsung maupun secara tidak langsung yang mensubordinasikan dirinya terhadap kekuasaan. Sehingga bagaimana wajah kekuasaan kita hari ini, tidak jauh berbeda dengan wajah ormas Islam. Wajar, jika belakangan ini muncul banyak pandangan yang semakin mengecilkan peran ormas Islam tersebut.
Bagaimana persoalan ini bisa terjadi? Apa yang menyebabkan semakin mengecilnya peran ideal dari ormas Islam tersebut? Serta bagaimana langkah dan strategi untuk merivitalisasi dan membangun kepercayaan terhadap ormas Islam ke depan? Berikut petikan wawancara Deni al Asy’ari dari SM dengan Prof. DR. Ahmad Syafii Maarif, M.A, Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dan guru besar Universitas Negeri Yogyakarta.

Ormas Islam belakangan ini dinilai oleh banyak pihak semakin jauh dari fungsi dan peran idealnya, terutama sekali ketika berhadapan dengan kekuasaan, bagaimana pandangan Buya dengan ini?
Hal yang seperti itu, sangat mungkin saja bisa terjadi, namun semuanya tentu sangat tergantung dari kualitas pemimpin ormas itu sendiri. Jika para pemimpin atau elit ormas Islam ini tetap memiliki sikap yang konsisten dengan visi dan misi perjuangan mereka, maka persoalan yang seperti disebutkan tadi, tidak akan mungkin bisa terjadi. Akan tetapi, sekali saja elit dan pemimpin ormas Islam ini masuk ke dalam politik atau kekuasaan (baca: praktis), menurut saya hal ini memang akan menjadi sangat sulit sekali bagi ormas-ormas Islam yang ada, untuk menjalankan visi dan misi mereka dengan baik. Sebab, ketika para pemimpin atau elit ormas ini sudah terjun ke dalam ruang politik dan kekuasaan secara praktis, maka dalam penilaian saya, biasanya kesetiaan seseorang ketika dihadapkan pada dua wilayah ini, maka kesetiaan mereka jauh lebih besar kepada yang bersifat politik tadi dibandingkan kesetiaan mereka kepada ormas. Karena seperti yang sering saya katakan, bahwa politik itu menjanjikan pahala jangka dekat, sedangkan ormas menjanjikan pahala jangka panjang dengan syarat kita bekerja dengan ikhlas. Dan ini, memang tidak mudah, sebab dengan kondisi Indonesia seperti saat sekarang ini banyak orang menjadi pragmatis. Seakan-akan sekarang ini, politik itu sudah menjadi suatu agama baru.
Namun, pandangan Buya sendiri seperti apa melihat kecenderungan yang terjadi terhadap ormas Islam pada saat sekarang ini, apakah degradasi terhadap eksistensi dan peran ormas ini memang adanya demikian?
Memang, saya melihat fenomena itu adanya demikian, akan tetapi kondisi yang seperti ini menurut saya biasanya merupakan fenomena yang bersifat temporal saja. Sebab, ormas-ormas Islam yang ada di negeri ini, apalagi seperti Muhammadiyah dan NU ini merupakan ormas Islam yang sudah berakar kuat, maka jikalaupun pada saat sekarang ini terjadi bentuk degradasi eksistensi dan fungsi ideal dari ormas Islam ini, namun suatu saat saya yakin mereka (ormas Islam) ini akan kembali lagi pada jati dirinya dan akan kembali lagi pada misi utamanya. Namun, demikian, hal yang yang lebih penting untuk kita perhatikan saat sekarang ini adalah, bagaimana ormas-ormas Islam yang ada sekarang, mereka bisa menumbuhkan kembali kesadaran untuk bisa mewujudkan jati diri ormas Islam ini yang sesungguhnya. Hal ini sangat penting untuk dilakukan terutama oleh para elit, pemimpin dan pengurus ormas dengan melihat perubahan situasi bangsa saat ini secara jernih. Sebab ormas-ormas Islam ini memiliki tugas kemasyaratan yang cukup besar sekaligus ia berperan sebagai pilar dari masyarakat sipil atau masyarakat madani. Oleh karena itu, menurut saya pemimpin ormas ini jangan sampai lalai dalam membaca atau berunding kembali dengan cita-cita kemasyarakatan dari ormas yang mereka pimpin.

Sebenarnya apa sesungguhnya yang menyebabkan terjadinya degradasi atau bentuk rasa ketidakpercayaan di tubuh ormas Islam saat sekarang ini?
Saya kira hal ini sangat berkaitan dengan persoalan tadi itu, yaitu kalau para pemimpin dan elitnya terpaku dan terpukau dengan kepentingan jangka dekat yang bersifat politik tadi. Jadi dengan demikian bagi masyarakat luas akhirnya sulit untuk membedakan antara seorang pemimpin atau elit ormas Islam yang memiliki idealisme kemudian menjadi layu begitu saja atau mengalami kemerosotan. Oleh karenanya, kondisi ini membuat kepercayaan publik dan dalam internal ormas Islam sendiri menjadi semakin berkurang. Hilangnya sikap kepercayaan ini dalam diri ormas Islam, akan membuat eksistensi ormas Islam tidak lagi menjadi cahaya di tengah kemerosotan moral dan kemerosotan tanggung jawab serta disiplin bangsa ini. Aspek inilah sesungguhnya yang menyebabkan terjadinya bentuk ketidakpercayaan publik terhadap ormas Islam belakangan ini. Dan kondisi yang seperti ini tentu harus cepat diperbaiki. Sebab, politik saat sekarang ini sedang berada dalam kondisi kacau balau seperti yang kita rasakan saat sekarang ini, maka ormas itulah nantinya yang akan menjadi pilar dan penyanggah utama bagi tegaknya masyarakat madani atau yang disebut dengan masyarakat sipil.

Untuk membangun tujuan mulia ini, perlukah visi dan langkah baru bagi ormas di masa yang akan datang?
Sesungguhnya visi dan misi itu sudah ada tercantum dalam Anggaran Dasar (AD) maupun Anggaran Rumah Tangga (ART) dari ormas-ormas Islam saat ini, disamping itu langkah-langkah gerakan yang semestinya perlu dibangun dan dijalankan oleh ormas-ormas Islam saat ini, juga terdapat dalam keputusan-keputusan pimpinan organisasi ini. Hanya saja, ke depan menurut saya yang penting, bagaimana para elit dan pimpinan ormas Islam ini perlu untuk membaca dan merevitalisasi kembali visi dan misi itu. Tentu saja, cara ini dapat dilakukan, jika mereka memiliki kesediaan untuk membaca visi dan aturan yang terdapat dalam ormas ini, dan mereka juga mampu berhitung dengan perubahan sosial yang terjadi, baru kemudian diaplikasikan. Sebab, di dalamnya sudah terdapat semua, tinggal kita revitalisasikan kembali.

Berkaitan dengan agenda strategis, aspek apa yang harus menjadi perhatian ormas Islam ke depan dalam rangka membangun kembali eksistensi dan fungsi ideal dari ormas Islam?
Kalau saya lihat untuk misi ormas Islam ini sudah jelas, yaitu untuk melayani kemanusiaan, melayani masyarakat. Namun, agenda yang seperti ini selayaknya harus secara terus menerus mendapat perhatian lebih dari ormas Islam. Yaitu bagaimana ormas Islam yang ada bisa agar agenda seperti ini dijalani lebih difokuskan dan lebih berdaya. Dengan demikian, saya yakin persoalan yang menimpa ormas Islam saat sekarang ini secara bertahap akan kembali terselesaikan. Akan tetapi, kalau tokoh dan elit pemimpin ormas ini tidak disibukkan dengan masalah rutin yang tidak ada terobosan-terobosan dalam gerakan mereka, maka kondisi seperti ini bisa menimbulkan kebosanan-kebosanan, dan kebosanan ini ditambah lagi dengan godaan politik yang begitu kuat, sehingga masyarakat banyak menyimpulkan jika ormas Islam ini sudah kehilangan idealisme.

Lantas bagaimana relasi ideal yang harus dibangun oleh ormas Islam terhadap kekuasaan?
Saya rasa begini saja, bagi tokoh atau pimpinan ormas yang ingin masuk dalam pusaran kekuasaan, itu memang haknya sebagai warga negara. Akan tetapi, jangan diduakan dengan kesetiaan gandanya, yaitu politik dan ormas. Jadi, yang harus diutamakan adalah ormasnya terlebih dahulu. Dan yang bersangkutan memang harus memiliki jiwa dan dedikasi untuk mengabdi. Jadi hal yang seperti ini merupakan pilihan-pilihan yang sangat subyektif dan ini sangat ditentukan oleh cita-cita seseorang untuk berbuat dan membuat sesuatu yang bermakna bagi bangsa ini.

Apakah karena ormas Islam atau Muhammadiyah sebagaimana yang sering Buya sebutkan bahwa Muhammadiyah “perannya hanya sebagai pembantu pemerintah”, sehingga tingkat ketergantungan terhadap kekuasaan akhirnya begitu tinggi?
Sesungguhnya, yang saya maksud dengan  “berperan sebagai pembantu pemerintah” itu jika peran Muhammadiyah itu kita lihat pada wilayah dan aspek pendidikan dan pelayanan kesehatan. Dalam hal ini, saya lihat Muhammadiyah belum memiliki terobosan, baik dalam hal filsafat pendidikannya maupun kurikulum pendidikannya. Jadi semua ini sangat tergantung pemerintah saja. Memang terdapat beberapa kurikulum yang memuat kurikulum lokal, seperti ke-Muhammadiyahan, akan tetapi itu kurikulum penunjang saja. Dan kita tetap saja seperti ini. Oleh karena itu, saya menilai, kalau pemerintah ini merosot, maka kita akan kena imbasnya. Karena kita mengikuti pemerintah begitu besar. Begitu juga dengan pelayanan kesehatannya, kita juga mengikuti pemerintah, karena kita belum mampu memberikan sistem alternatif untuk jangka panjang, dan ini sangat perlu sebenarnya, dan tentunya harus dimulai dari saat ini.

Apakah bisa dikatakan bahwa karena tidak adanya sebuah sistem dan tawaran alternatif yang dibangun oleh Ormas Islam dalam bangsa ini, cenderung membuat mereka memiliki ketergantungan yang besar dengan kekuasaan/negara?
Memang, ada yang demikian, akan tetapi masing-masing ormas itu kapasitasnya berbeda, di antara ormas ini ada yang lebih kuat tingkat ketergantungannya dan ada yang sedang. Misalnya saja di NU, tradisi politiknya sangat kuat, makanya tarikan kekuasaannya juga begitu besar. Akan tetapi, bagi Muhammadiyah tradisi politiknya ini masih relatif kecil.

Apa pesan atau saran Buya terhadap penguatan peran dan eksistensi ormas Islam ke depan?
Saya rasa semua ormas Islam ini harus kembali kepada jati dirinya yang sesungguhnya, serta melakukan penafsiran terhadap visi dan misi mereka itu juga harus dilakukan terus-menerus dan juga perlu dilakukan juga otokritik secara terus-menerus terhadap diri ormas. Dan ini bisa dilakukan oleh orang yang memiliki visi jauh ke depan, dan ini merupakan tanggung jawab yang besar ormas itu sendiri dalam kerangka kemanusiaan dan ke-Indonesiaan.•D

Sumber : http://suara-muhammadiyah.com/2009/?p=779