Kreasi Anak Muda “Kedai Kingkong” Bekasi

Bekasi- Proses kreatif memang akan terus berjalan jika terus diasah, inilah yang dialami oleh sekelompok anak muda yang terdiri dari tiga orang, Ali Apipudin, Farid Ma’ruf, dan Turasmi. Permulaan ini tak jauh dari impian mereka untuk mendirikan usaha kecil-kecilan sekedar menambah pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Mereka mengembangkan jenis usaha mirip franchise (usaha waralaba) dengan menyajikan menu makanan tradisional, seperti singkong, tempe (mendoan), donat serta maknan kudapan sejenisnya yang akan terasa nikmat saat disantap pada sore hari. Selain itu hidangan kopi ‘hitam’ istimewa menjadi teman akrab camilan kesukaan banyak orang tersebut.

Makanan khas singkong ini seolah ditampilkan penuh kreasi agar penikmat makanan ‘kampung’ ini bisa merasakan cita rasa yang spesial. Akhirnya dengan tangan lincah mereka itulah, bahan dasar umbi yang diramu menjadi singkong keju itu . Tak hanya rasanya yang gurih karena ditaburi keju, namun juga manis karena disiram susu kental yang membuat lidah ketagihan.

Meskipun jualan mereka baru mulai beroperasi bulan November lalu, Kedai Kingkong yang berlokasi di kawasan Telaga Mas, Kelurahan Harapan Baru, Kecamatan Bekasi Utara, Jawa Barat ini sudah menunjukkan kesuksesan, dibuktikan dengan meningkatnya permintaan dari para pelanggan.

Segala infrastruktur dan bahan baku yang dibutuhkan seperti gubug bambu, meja, etalase dan perangkat lainnya hanya menelan biaya sedikitnya 7 juta. Kini mereka sanggup menjalankan usaha Kedai “Kopi dan Singkong” (Kingkong) ini hingga mencapai omzetnya dari  1-1,5 juta per minggunya.

 “Alhamdulilah, per hari kami bisa memperoleh hasil sampai 150 ribu, kalau Sabtu-Minggu bisa sampai dua kali lipatnya,” ungkap Ali Apipudin, koordinator sekaligus pengurus Kedai Kingkong yang di bina LAZIS Muhammadiyah dalam program YES (Youth Enterpreneuership Program) atas kerjasama dengan Bank Syariah Mega Indonesia (BSMI) melalui zakat corporate-nya.

Selain menyajikan makanan ringan dan jenis camilan lainnya, mereka kembangkan lagi menu lain yang biasa disantap ketika sarapan. Hal ini didasarkan sesuai dengan permintaan masyarakat sekitar, seperti nasi uduk, lontong, soto daging, dan gulai sapi.

Harga singkong keju serta menu sarapan lainnya per porsi 7 ribu sedangkan kopi cukup dua ribu lima ratus rupiah saja. Respon masyarakat sekitar terhadap kehadiran Kedai Kingkong sangat baik. Bahkan mereka menerima pesanan untuk acara keluarga maupun rapat-rapat di lingkungan setempat. Selain lokasinya yang strategis sebab berada di kawasan perumahan, kedai ini juga disuguhkan dengan pemandangan yang indah berupa danau dan taman. Apalagi tempat tersebut adalah tempat favorit untuk bersantai warga sekitar.

Usaha ini dinamakan kedai karena istilah ini sangat akrab di telinga masyarakat kita, selain daripada warung. Padahal artinya sama saja dengan warung ataupun depot, berdasarkan hasil lacakan di wikipedia. Walau sebenarnya asal kata ini dari bahasa Tamil dan familiar di negara Malaysia, sedangkan di Indonesia tepatnya Riau dan Batam istilah kedai biasa disebut.

Ketiga anak muda tersebut merupakan salah satu dari sepuluh kelompok yang tergabung dalam Youth Entrepreneuership Program (YES). Masing-masing kelompok mendapatkan dana bantuan dengan sistem bergulir sebesar 10 juta. Selanjutnya akan modal bantuan yang dikembalikan akan digulirkan kembali ke anggota lainnya. Bagi yang ingin mencicipi atau sekedar berkumpul sambil berbincang dengan kerabat, kolega maupun keluarga.{weny} 

You are here