SEBUAH hadist menyatakan “Inna ma al-a'malu bin niat”. Segala sesuatu atau bentuk kesuksesan tergantung pada niat. Ketika sesorang berniat mendapatkan sesuatu dia akan berusaha untuk mencapainya, walaupun melalui proses berulang  ulang yang dia lakukan, proses itu didasari semangat dalam niat tersebut. Sebaliknya, jika sekali dua kali berusaha tidak tercapai kemudian berhenti. Itu niat yang tidak sungguh  sungguh dan tidak didasari dengan semangat yang kuat.
Dalam dunia manajemen, khususnya manajemen SDM, niat yang dilandasi semangat merupakan pondasi dari sikap, watak, karakter atau etos. Teori sosial menyebutkan etos tidak saja dimiliki individu, tapi dapat dimiliki oleh kelompok bahkan masyarakat. Karena etos dapat dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh budaya serta sistem nilai. Dari kata etos, kemudian dikenal kata etik, etika yang maknanya mendekati pengertian akhlak atau nilai yang berkaitan dengan baik  buruk (moral).
Kaitannya dengan kerja atau bekerja, dalam etos terkandung gairah atau semangat mengerjakan sesuatu secara optimal, lebih baik dan berusaha mencapai kualitas kerja yang sempurna dan menghindari segala kerusakan (fasad).
Selain itu, juga mengandung semacam spirit untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Maka, seorang pekerja yang memiliki etos, dia juga memiliki sikap dan harapan.
Harapan berbeda dengan angan  angan. Imam al-Qusairi mengartikan harapan (raja') sebagai keterpautan hati pada sesuatu yang diinginkan terjadi dimasa yang akan datang melalui semangat kerja yang tak kenal kata menyerah. Sementara angan (tamanni) hanyalah khayalan yang membuat seseorang menjadi pemalas dan terbuai tanpa mau mewujudkannya.
Dilihat dari epistimologinya, Etos kerja secara gramatikal memiliki dua kata yaitu etos dan kerja. Kata pertama etos berasal dari bahasaYunani yaitu ethos yang berarti sikap, kepribadian, watak, karakter serta keyakinan atas sesuatu. Kata kedua kerja (baca; bekerja) yang memiliki pengertian segala aktivitas dinamis dan mempunyai tujuan (harapan) untuk memenuhi kebutuhan tertentu dengan penuh kesungguhan untuk mewujudkan prestasi optimal.
Jadi, jelas etos kerja berkaitan erat dengan harapan dan cara memberikan makna terhadap pekerjaan. Dengan demikian, yang dimaksud etos kerja adalah totalitas kepribadian diri serta cara mengekspresikan, memandang, meyakini dan memberikan makna pada sesuatu yang medorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal. (Toto Tasmara; 2002).
Dalam kehidupan Rasulullah SAW, seseorang yang memiliki etos kerja tinggi mendapat tempat di hati Rasulullah dan dicintai Allah, seperti dikisahkan Sa'ad bin Muadz al-Anshari bahwa ketika Nabi SAW, baru kembali dari perang Tabuk, beliau melihat tangan Sa'ad yang melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman karena sengatan matahari. ”Kenapa tanganmu?” tanya Rasulullah. ”Karena aku mengolah tanah dengan cangkul ini untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku” jawab Sa'ad.
Rasulullah SAW mengambil tangan Sa'ad dan menciumnya seraya berkata ”Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka”
Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda ”Hadzihi yadun yuhibbuhullahu wa rasuuluhu”,. Inilah tangan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.
Betapa besar penghargaan Rasulullah kepada pekerja keras, pantaslah dalam sebuah hadist Rasulullah bersabda ”Mukmin yang kuat lebih dicintai daripada mukmin yang lemah”
Namun perlu diingat dalam teori manajemen modern, etos kerja juga dapat terbangun karena faktor lingkungan, terutama lingkungan kerja. Seseorang dapat terbangun etos kerjanya karena lingkungan yang mendukung dan kondusif. Tapi ketika lingkungan kerjanya tidak mendukung dan tidak kondusif, yang terjadi adalah frustasi. Wallahu a'lam bishowab.