BAGAIMANA MEMBANGUN MENTAL PEMBELAJAR ?

MENJADI manusia pembelajar, tentu bukan perkara gampang.  Siklus belajar yang panjang; dari observe, asses, design hingga implementasi, kerap memunculkan  dalam diri kita- sikap malas dan cenderung suka memilih jalan instan. Kita inginnya langsung melihat dan menikmati hasil, tanpa harus menjalani proses. Kita berharap perusahaan kita besar, namun tidak pernah memahami bagaimana proses perusahaan menjadi besar.

Walau siklus belajar telah kita jalankan, belum tentu juga jaminan sukses ada digenggaman. Bisa disebabkan kesalahan atau kelemahan disalah satu tahapan siklus, atau bahkan penyimpangan dalam tahap implementasi. Semisal, kita membuat keputusan untuk memotong pohon tua di pinggir jalan, karena bisa membahayakan orang. Ini keputusan benar. Namun, dalam pelaksanaan alat yang digunakan memotong adalah pisau dapur, tentu, sampai ber-uban- pun,  si pohon tua tidak akan tumbang.

Inilah mengapa, untuk menjadi manusia pembelajar, tahap awal yang harus dilakukan adalah membangun mental pembelajar. Tanpa mental pembelajar, proses belajar kita akan sia-sia belaka. Taufik Bahaudin, dalam bukunya Brainware Leadership Mastery (2001), menjelaskan mental pembelajar terdiri atas tiga aspek, yaitu; self-awareness (kesadaran diri), self-acceptance (penerimaan kodrat diri) dan self-improvement (kemajuan/kedewasaan diri).

Ketiga aspek mental tersebut ditopang oleh fondasi kokoh dalam bentuk citra diri sebagai manusia merdeka (free will), yaitu gambaran tentang diri bahwa manusia memiliki kehendak untuk berfikir dan berbuat apapun secara bebas. Menurut Arief Munandar, SE,ME, pengurus PPSDMS Nurul Fikri, Citra diri seperti ini membuat kita menjadi manusia dengan internal locul of control, yang meyakini bahwa dirinya adalah penyebab, sekaligus faktor yang bertanggung jawab.

“ Kamu semua adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban akan apa yang dipimpinnya”, demikian Rasulullah SAW berkata. Arief Munandar menambahkan, kesadaran akan tanggungjawab pribadi (self-responsibility), atas pikiran, tindakan dan nasib diri adalah cikal bakal rasa tanggungjawab terhadap nasib orang lain. Maka tahap awal membangun mental pembelajar adalah membangun kesadaran bahwa kita memiliki tanggungjawab.

Self- Awareness

Self-awareness adalah kesadaran secara rasional mengenai diri sendiri. Melalui kesadaran ini, manusia mampu memahami kekuatan diri, kelemahan dan keterbatasan serta memahami posisi diri terhadap berbagai faktor luar. Menurut Taufik Bahaudin, Self-awareness adalah proses rasional dan merupakan kerja dari kecerdasan intelektual (intelectual intelligence, IQ).

Manusia diciptakan dengan berbagai perangkat, berbentuk panca indera dan otak rasional (neo-cortex), yang memungkinkan self-awareness bekerja secara otomatis untuk menangkap stimulus dan menganalisisnya. Sebagai contoh, kita datang ke kantor pada pukul 10 pagi, sedangkan jam masuk kantor adalah pukul 09.00. Secara otomatis, otak rasional akan menjawab, “saya terlambat”. Inilah yang disebut sebagai self-awareness.

Self- Acceptance dan  Self- Improvement

Ada tidaknya perubahan, agar besok tidak terlambat, tergantung dorongan yang berasal dari dalam diri sendiri. Disinilah dibutuhkan self-acceptance, yakni penerimaan secara jujur tentang kodrat diri, menerima kondisi diri apa adanya. Kalau jawabannya “jalan macet”, ya habis perkara, besok dipastikan akan terlambat lagi. Namun ketika self-acceptance yang bekerja, “ saya memang terlambat berangkat” sebagai sebuah kejujuran. Akan muncul peluang besok tidak terlambat lagi.

Membangun Self-acceptance adalah proses emosional, dan bahkan spiritual. Merupakan kolaborasi antara otak rasional dan otak emosional (limbic system) dan tentunya, adalah kerja dari kecerdasan spiritual (Spiritual Inteligence, SQ).

Nah, syarat bagi seorang pembelajar adalah terbentuknya mental kejujuran. Tanpa kejujuran, proses belajar akan sia-sia belaka. Kejujuran harus dihujamkan dalam diri seorang pembelajar, jujur akan kondisi diri, akan kekurangan dan kelebihannya. Dari kejujuran ini akan muncul dorongan otomatis untuk memperbaiki kekurangan dan secera sistematis, pelan tapi pasti, terus menerus bergerak kearah kemajuan.

Inilah bentuk mental pembelajar selanjutnya, yakni self-improvement, bahwa “hari ini harus lebih baik dari hari kemarin”. Seseorang dengan bangunan mental pembelajar yang kokoh senantiasa menanamkan prinsip  sebagaimana diucapkan oleh C.K. Prahalad- “ if you don't change, you die !”. (Nqdr)

 ................................................................................................

NANANG QODIR (Redaktur Pelaksana majalah MATAHATI) 

Hits: 2993
Comments (0)add
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
smile
wink
laugh
grin
angry
sad
shocked
cool
tongue
kiss
cry
smaller | bigger

busy
You are here