
Tasikmalaya – Kondisi ekonomi kehidupan perkampungan sangat miris dibandingkan dengan kehidupan perkotaan yang serba ada. Dalam tingkat kesejahteraanya, masyarakat perkampungan sulit sekali mendapatkan lapangan pekerjaan yang layak, bahkan untuk memenuhi kebutuhan primer saja harus mencari di tempat lain. Untuk meningkatkan kesejahteraan warga perkampungan LAZISMU mencoba merintis dan memfasilitasi masyarakat khususnya peternak untuk bisa membudidayakan kambing lokal dalam memenuhi kesejahteraannya.
Dengan Program Peternakan Masyarakat Mandiri (PMM) LAZISMU mencoba bermitra dengan peternak lokal. Lokasi yang diambil beralamat di Kampung Cibuntu, Kedusunan Mekarsari, Desa Sari Mukti, Kecamatan Karang Nunggal, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat, kamis (04/03).
Kandang 50 m, dengan penataan struktur yang rapi akan difungsikan dengan dimasukkannya 40 ekor kambing. “Kandang kambing akan difungsikan sesuai dengan porsinya yaitu sekitar 40 ekor kambing, porsi ini bisa bertambah besar apabila pihak dari LAZISMU mau bekerjasama lebih dengan para peternak. Peternakan kambing di Kampung Cibuntu ini, merupakan bukti kesungguhan petani lokal dalam memenuhi kondisi ekonomi melalui pemberdayaan masyarakat,’’ papar Budi salah satu pihak peternak lokal.
Wakil Ketua Badan Pengurus LAZISMU, Syafrudin Anhar menyatakan bahwa kambing yang berumur sekitar delapan bulan, dimana dua diantaranya jantan itu diharapkan berkembang biak yang akhirnya memberi keuntungan kepada kelompok peternak dan masyarakat di lokasi itu mulai dari hasil penjualan daging hingga pengguliran anak-anak kambing itu.
“Kambing dewasa, bisa menghasilkan rata-rata satu liter susu setiap hari, sementara satu kambing bisa melahirkan anak antara dua hingga tiga ekor, dimana, kambing itu bisa beranak dua kali setahun. LAZISMU akan mengajari peternak meramu ransum kambing yang sehat yakni terdiri atas legum atau rerumputan seperti kacangan, teki, rumput lapangan serta juga kaliandra yang bagian akarnya banyak mengandung nitrogen, ditambah konsentrat berupa campuran jagung, bungkil, dedak, tepung tulang dan tepung ikan," katanya.
Menurut Direktur Pendayagunaan LAZISMU, Hari Eko Purwanto, kandang ternak kambing harus lengkap, sehingga pada waktunya dapat menjadi sumber bibit ternak untuk wilayah itu dan dalam pemasarannya akan di tindaklanjuti untuk mencukupi program pengayaan hewan qurban.
Setiap ekor kambing membutuhkan konsumsi sekitar empat kilogram setiap hari. Alokasi kambing itu akan terus ditambah minimal menjadi 40 ekor dimana nanti anak-anak kambing itu akan diberikan kepada masyarakat untuk dipelihara dengan syarat penerimanya bersedia menggulirkan lagi sepasang anak kambing tersebut kepada calon penerima baru.
Ketentuan itu berlaku seterusnya sehingga jumlah peternaknya semakin lama semakin bertambah seiring dengan pertambahan populasinya. Peternakan kambing harus memenuhi standar meliputi kandang dilengkapi pakan ternak agar kambing sehat, ladang penanaman rumput, air, dan obat-obatan ternak.(edi)
| < Prev | Next > |
|---|